
"Nah, sekarang begini Mang. karena usaha yang saya lakukan Sudah sepenuhnya gagal total, jadi babi itu akan sangat susah untuk saya miliki kembali. tapi walaupun dengan kenyataan yang seperti itu, saya masih merasa penasaran ingin menggunakan berbagai cara, Siapa tahu saja babi itu masih menjadi milik saya."
"Iya, iya! Terus bagaimana?" jawab Mang Sarpu sambil manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang disampaikan oleh tamunya."
"Walaupun babi itu tidak bisa dimiliki oleh saya, tapi setidaknya saya bisa membalas dendam terhadap dua orang yang sudah kurang ajar itu. saya tidak terima, saya tidak Ridho,.Saya tidak ikhlas, kalau disiksa seperti tadi siang. bahkan sampai harta saya direbut olehnya, walaupun Bagaimanapun saya tidak akan pernah melupakan kejahatan orang itu, sebelum saya bisa membalaskan rasa sakit hati yang mereka torehkan."
"Iya inginnya Ujang Seperti apa?" tanya Mang sarpu mulai mengerucutkan permasalahan.
"Begini Mang, saya mau meminta tolong kembali sama Mamang, mau merepotkan kembali sama Sepuh yang sudah ketahuan pengorbanannya. Saya mau minta tolong sama Mamang untuk menemukan kembali dua orang itu, pokok yang pertama saya ingin mengambil kembali hak saya, walaupun tidak bisa mengambil kembali babi itu, minimal saya bisa membalas rasa sakit hati saya, begitu Mang!" jawab Jana menjelaskan.
"Apa yang bisa Mamang bantu dari kesusahan Ujang?"
"Begini Mang, Sekali lagi saya mohon maaf, saya minta tolong sama Mamang untuk mengantar saya ke kampung Ciandam!"
"Tujuannya untuk apa?"
__ADS_1
"Untuk menyusul babi yang sudah dicuri, karena saya yakin Mamang akan sangat hafal ke kampung Ciandam, begitupun juga dengan orang-orangnya. kalau saya sudah bertemu dengan orang yang mencuri babi saya, biarkan saja saya yang maju, Saya tidak akan mengandalkan Mamang.
"Sebentar, sebentar!" Ujar Mang Sarpu sambil mengerutkan dahi seolah Sedang berpikir mencari jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh tamunya.
Mang sarpu terlihat lama terdiam, karena sebenarnya dia agak malas kalau harus bertamu ke kampung Ciandam, karena dia tidak ingin ikut campur terlalu dalam. soalnya tidak ada yang diharapkan dari perjuangannya, dia benar-benar ridho dan ikhlas melakukan semuanya demi persahabatan dan harga dirinya yang sudah diancam oleh Jana. ditambah lagi dia tidak ingin ikut terbawa dalam urusan yang sedang dihadapi oleh sahabatnya, karena walaupun tidak mau, kalau orang yang ikut maka akan terkena cipratan air kejelekannya.
"Begini Mang! selain yang sudah diceritakan oleh Jana. Saya memiliki pemikiran, dua orang yang merebut babi kita sudah jelas asal usulnya, yang satu adalah orang Ciandam, yang sangat yakin ingin memenangkan sayembara, ingin mendapatkan hadiah dari bah Abun. Nah dari dasar itu Mang, sudah bisa dipastikan, babi yang mereka curi akan dibawa ke rumah Mbah Abun. sekarang untuk mencari tahu keberadaan kedua orang itu kita tidak harus mencari ke tempat yang jauh, tidak harus mengejar ke tempat yang tidak tentu. Kita susul saja ke kampung Ciandam, ke rumah Mbah Abun, Saya yakin dua maling itu akan bisa ketemu!" ujar Dadun memberikan pendapat, agar Mang sarpu tidak terlalu lama untuk mengambil kesimpulan.
"Mamang sangat mengerti Jang Jana dan Jang Dadun, pasti mereka akan ke sana, tapi apa yang harus dikerjakan oleh Mamang? karena Kalau kenyataannya seperti ini mamang bingung harus berbuat apa, kepala Mamang terasa pusing dan pening!"
"Iya Jang Jana, tapi Mbah Abun belum tentu percaya dengan apa yang Mamang sampaikan."
"Jangan mengeluh sebelum memikul, jangan menyerah sebelum bertanding, karena saya yakin Mbah Abun akan mengerti dengan apa yang disampaikan oleh Mamang, soalnya Mbah Abun dan Mamang adalah sahabat sejati. pembicaraan Mamang sudah pasti akan ditanggapi, pasti akan dihormati. Mamang hanya tinggal menceritakan bahwa babi ngepet itu yang mendapatkannya adalah saya, namun di perjalanan ada orang yang merebut. Nah itu cukup mudah bukan Mang, karena saya yakin orang itu akan menemui Mbah Abun, mungkin sekarang mereka sudah sampai ke rumahnya. jadi begitulah maksud saya Mang, bukan begitu Kang Dadun!" jelas Jana sambil melirik ke arah sahabatnya, meminta bantuan untuk menegaskan apa yang disampaikan.
"Iya benar begitu Mang sarpu!"
__ADS_1
"Oh begitu, kalau begitu sekarang Mamang mengerti, jadi Mamang itu hanya mengantar kalian ke kampung Ciandam untuk menemui Mbah Abun, bukan begitu maksudnya?"
"Nah Benar begitu!" jawab Jana yang terlihat sumringah Bahkan dia pun mengangkat ibu jari, seolah setuju dengan apa yang diungkapkan oleh tuan rumah.
Namun kebahagiaan itu tidak lama, karena Marni yang sejak dari tadi hanya terdiam, dia ikut nimbrung tidak setuju dengan apa yang dibicarakan oleh suami dan kedua tamunya.
"Sudah bapak, sudah nggak usah mengurusi urusan orang lain! mending Bapak urus anak sendiri dan rumah tangga kita, ditambah keperluan sehari-hari dan lain sebagainya, yang berhubungan kebutuhan pribadi. buat apa mengurusi kebutuhan orang lain, buat apa harus mengikuti orang-orang yang tidak berguna, paling yang ada hanya menimbulkan rasa capek tidak ada keuntungan sedikitpun bagi kehidupan kita!" jelas Marni dengan suara lantangnya.
Mata mangsarpu membulat seketika, menatap tajam ke arah sang istri, sedangkan Jana dan Dadun mereka pun terdiam tidak tahu harus berbicara apa lagi, karena mereka tidak berani kalau harus berselisih paham dengan seorang perempuan.
"Ah kamu Marni! kenapa kalau berbicara itu asal nguap! coba berbicara itu pakai ini!" gerutu mang Sarpu sambil menunjuk ke arah dahinya, Dia tidak setuju dengan penolakan Marni.
"Halah, emangnya aku berbicara tidak pakai otak, Aku berbicara seperti itu sudah dipikirkan sebelumnya, sudah dipertimbangkan dari awalnya. pembicaraan yang tadi memang benar Begitu adanya, Emang harus bagaimana lagi...? ingat akang, sekarang akang itu sudah punya istri, sudah punya anak, yang jauh lebih penting dibandingkan mengurus urusan orang lain. karena itu tidak akan membuahkan hasil, tidak akan jadi keuntungan Buat keluarga kita." jawab Marni dengan lantang dan berani, karena dia sangat tidak setuju Kalau suaminya ikut campur dalam urusan babi.
"Hei dengarkan ibunya Kipli! urusan Sanggup atau tidaknya, urusan berhasil atau tidak, bisa dimusyawarahkan dengan sopan, tidak harus membulatkan mata seperti itu. Karena itu sangat jelek bagi seorang istri, Mending kalau kamu cantik. kalau kamu bicara seperti itu, Akang sangat tidak setuju. Dan Kalau kamu tidak setuju dengan urusan Akang tidak apa-apa, Tapi bahasanya harus dengan bahasa yang halus dan sopan!" jawab Mang sarpu masih yang tetap membulatkan mata.
__ADS_1