
"Sayembara Babi Ngepet Kang. Oh ya akang-akang ini dari mana Kok saya baru pertama kali melihat, kayaknya Akang bukan orang sini ya?" tanya pemuda itu yang masih merasa asing.
"Yah, Akang bukan orang sini, Akang berasal dari kampung Sukaraja, Kalau boleh minta tolong Akang mau bertemu dengan Mbah Abun."
"Mau apa?" tanya pemuda itu semakin merasa heran.
"Nanti Ujang juga akan tahu, sekarang Tolong bilang sama Mbah Abun, bahwa ada tamu dari kampung Sukaraja," ujar Mang sarpu tidak mau menjelaskan.
Pemuda itu pun menganggukkan kepala, kemudian dia menyela-nyala barisan orang untuk maju ke depan pintu rumah mbah Abun, orang-orang yang terdorong Mereka terlihat marah, namun setelah dijelaskan Mereka pun memberikan jalan, agar ketiga tamu itu bisa menghadap ke tuan rumah.
Melihat pergerakan di luar rumah, mbah Abun pun terlihat terkejut karena dia merasa kenal dengan orang yang berjalan di belakang pemuda Kampung Ciandam, Mbah Abun terus menatap hingga akhirnya pemuda itu tiba di depan pintu.
"Abah, ada tamu dari Kampung Sukaraja." ujar pemuda yang dimintai tolong yang masih terlihat gugup.
"Persilakan masuk saja Jang, Ayo masuk sini!" Jawab Mbah Abun sambil menggeserkan tempat duduknya. orang-orang yang berada di tempat itu terlihat bergerak melirik ke arah halaman rumah, benar saja terlihat Mang sarpu Jana dan Dadun yang sudah berdiri di ambang pintu, Ketiga orang yang sudah membulatkan tekad untuk menggugat masalah babi. Begitu juga dengan Ranti yang menatap melongok ke arah tiga orang itu dia tidak menyangka kalau orang Sukaraja akan sampai ke rumahnya.
"Sampurasun!" ujar Mang Sarpu mengucapkan salam.
__ADS_1
"Rampes!" jawab orang-orang yang berkumpul di rumah mbah Abun.
"Oh ternyata Mang sarpu, ayo masuk sobat ke dalam! kebetulan Mamang Cepat datang ke sini," ujar Bah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya menyambut kedatangan tamu yang baru datang, yang tak lain dan tak bukan itu adalah sahabatnya yang sudah lama tidak bertemu.
Ketiga orang itu pun masuk ke dalam rumah, sebelum duduk Mereka pun menyalami semua orang yang berada di rumah itu tanpa ada terkecuali. namun ketika Dadun dan Jana menyalami Galih dan Saipul, hati mereka terasa panas bahkan ketika menyalami kedua orang itu, mereka meremas tangannya dengan kuat membuat Galih dan Saipul terlihat meringis kesakitan.
"Ayo duduk Jang!" kaget Mang Sarpu mengejutkan ke empat orang yang sedang saling menatap tajam, hingga mau tidak mau Jana dan Dadun pun melepaskan genggamannya, kemudian dia pun duduk di belakang Mang Sarpu.
Galih dan Saipul hanya saling menatap, seperti sedang berbicara. karena dari kedua orang itulah mereka mendapatkan babi ngepet, Tapi waktu itu mereka tidak berbicara banyak karena takut dimarahi oleh Mang Zuhri.
Setelah Mang Sarpu duduk, dia pun memindai keadaan sekitar, merasa heran kenapa di tempat itu sudah hadir banyak orang, apalagi ketika melihat ada satu orang yang ditutup oleh kain jarik.
"Sebelum saya berbicara, terlebih dahulu saya memohon maaf Yang sebesar-besarnya, Sama orang-orang yang hadir di tempat ini karena saya memang kurang sopan sampai-sampai berani mengganggu orang yang sedang berkumpul seperti ini, saya bisa menebak bahwa perrmusyawarahan ini adalah permusyawarahan yang sangat besar, karena melihat banyaknya antusias para warga yang hadir. namun setelah masuk ke dalam, ternyata di sini bukan sedang bermusyawarah, karena ada orang yang ditutup oleh kain jarik, kira-kira siapa yang meninggal?" jawab Mang sarpu panjang lebar, diakhiri dengan pertanyaan.
"Benar Mang Sarpu, Abah sedang duka, sedang carut marut, makanya Abah mohon maaf sama Mamang kalau penyambutan dari Abah tidak sesuai dengan biasanya, maklum sedang ada musibah."
"Tidak apa-apa Bah, cukup segini juga. Namun siapa orang yang meninggal, Keluarga abah atau?" jawab Mang Sarpu mengulang kembali pertanyaannya, karena tuan rumah belum menjawab.
__ADS_1
"Begini Mang sarpu, orang yang meninggal ini adalah tamu dari kampung cipelang, dia meninggal akibat bertarung dengan musuhnya, tapi tidak apa-apa, tidak harus membahas orang yang sudah meninggal, sekarang abah mau bertanya, ada apa Mang sarpu datang ke rumah abah, soalnya perasaan Abah tidak enak nih ?" ujar Bah Abun tidak menjawab secara rinci, karena dia masih penasaran dengan tujuan sahabatnya.
"Terima kasih kalau seperti itu Abah, begini!"
"Iya Bagaimana Mang!"
"Saya datang ke sini bukan Tanpa Tujuan dan tanpa alasan, jauh tetap saya kunjungi, lama tetap saya lakoni, soalnya ada maksud dan tujuan yang dibawa. Sebelum saya menjelaskan maksudnya, Saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih, Khususnya buat Abah umumnya buat orang yang hadir di tempat ini, karena saya sudah disambut dengan begitu baik, Bahkan bukan disambut doang, tapi langsung diperiksa dan ditanya, tidak dibiarkan begitu saja!" ujar Mang sarpu dengan tegas wajahnya dipenuhi dengan keseriusan.
"Yah, Yah! Abah ngerti Mang sarpu. Coba jangan terlalu banyak berbelit, Tolong jelaskan apa tujuan dan maksud mang Sarpu datang kesini?" tanya Mbah Abun yang tidak suka dengan pembicaraan yang berbelit, dia ingin langsung ke inti permasalahannya.
"Begini Abah, saya dimintai pertolongan oleh Jang Jana dan Jang Dadun yang sedang ditimpa musibah sangat berat, yang intinya mau menyusuri jejak tentang masalah babi yang sempat didapatkan oleh Jang Jana, namun ketika mau disetorkan ke abah, ada orang yang jahat Sampai berani merebutnya di tengah jalan."
Deg!
Jantung orang-orang yang berada di tempat itu Berhenti Berdetak, seluruh pandangan menatap ke arah mang Sarpu, ingin melihat jelas duduk permasalahannya seperti apa. Karena setelah diperiksa mang Sarpu menyebut-nyebut masalah babi yang sudah bisa dipastikan akan ada hubungannya dengan Ranti.
"Holoh, holoh, Kok bisa seperti itu mang Sarpu, coba tolong Ceritakan bagaimana kenyataannya, agar Abah dan para warga mengerti," pinta Mbah Abun sambil membetulkan bersilanya.
__ADS_1
Sedangkan Ranti Dia terlihat menarik nafas dalam, karena dia sangat hafal dengan Mang Sarpu,, karena kemarin malam dia sempat diobati agar dia kembali ke wujud aslinya, Namun usaha itu gagal karena ada Eman yang mengintip.
Mendengar permintaan tuan rumah, dengan segera Mang sarpu pun menceritakan kejadian yang terjadi dari awal kedatangan Jana dan Dadun yang membawa babi jadi-jadian. bahkan Mang Sarpu bercerita bahwa orang yang pertama mendapatkan babi ngepet itu adalah Jana, hasil menangkap dari kebun, hingga dia pun menceritakan bahwa dia juga sempat mencoba untuk mengobati Ranti, agar baju jimatnya terbuka. namun itu tidak berhasil hingga akhirnya mereka memutuskan untuk membawa babi itu ke kampung Ciandam, mau disetorkan sama Mbah Abun, namun Di tengah perjalanan ada orang yang merebut.