
Mendengar permintaan Galih, hingga membuat keadaan di tempat itu sunyi seketika. Bah Abun tidak menjawab, Ambu Yayah tidak memberikan tanggapan, apa lagi aki Tardi dan Zuhri yang tidak mau ikut campur, hanya ingin menjadi saksi saja.
"Bagaimana Abah Kalau sudah seperti ini kenyataannya?" Timpal Zuhri sambil menatap lekat ke arah Mbah Abun.
"Haduh......, Abah sangat bingung Jang Zuhri, pikiran anak Abah yang bernama Ranti takut belum terkumpul seutuhnya. yang nantinya takut keterangan yang diberikan olehnya, tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya."
"Oh begitu."
"Iya begitu Jang Zuhri. Nah dari dasar itu Abah akan tetap menangguhkan keputusan sampai besok pagi," jawab Mbah Abun memberikan keputusan dengan tegas.
"Saya tidak setuju Abah.....!" potong Galih yang menimpali.
"Mau setuju silakan, tidak setuju juga tidak apa-apa, kenapa harus ribut segala. karena tidak ada orang yang akan memutuskan kecuali Abah sekeluarga, karena abahlah yang menjadi penyelenggara sayembara, karena abahlah yang menjadi panitia, karena abahlah yang memiliki hartanya bukan Kamu. Ayo mau berbicara apa lagi kalau Abah sudah memutuskan harus diterima dengan lapang dada. kalau begitu ya Berarti begitu, kalau begini ya berarti begini. Mau mengejar apalagi?" jawab Mbah Abun dengan suara lantang dipenuhi dengan ketegasan.
"Kok Abah seperti itu."
"Karena kamu juga seperti itu."
Mendengar pembicaraan Mbah Abun yang tidak mau menerima sarannya, wajah Galih terlihat sangat masam ditekuk sedemikian rupa, jantungnya terasa berdegup dengan kencang susah untuk dihentikan, hatinya sangat berdebar, matanya menatap ke arah Daus dan wira seperti orang yang takut direbut bagiannya.
"Jadi bagaimana sekarang Abah?" tanya Wira sambil menatap ke arah Mbah Abun.
__ADS_1
"Sekarang begini saja Jang Wira, sambil bergadang menunggu orang yang sudah meninggal kita mengobrol saja sampai pagi, namun Abah titip jangan sampai ada bumbu-bumbu keributan, mendingan kita berdamai, hidup dengan aman tentram dan seuyunan, saling hormat menghormati, saling menjaga. nah besoknya kalau sudah sampai dengan waktunya sudah tiba dengan masanya, Abah akan meminta keterangan yang sejelas-jelasnya dari anak Abah yang bernama Neng Ranti."
"Iya Abah, Terus bagaimana?"
"Abah mau bertanya sama anak Abah, Siapa orangnya yang sudah memiliki jasa dalam rangka menyelamatkannya. Siapa orang yang unggul dan berhak menerima hadiah dari Abah, begitu Jang Wira!" jawab Mbah Abun sambil melirik ke arah Wira.
"Sudah bisa dipastikan, kalau pemenangnya adalah paman saya, Ya abah?" jawab Wira yang terlihat membanggakan keberadaan pamannya.
"Hush! tidak bisa seperti itu, karena sekarang semuanya bisa jadi pemenang dan semuanya bisa Jadi Pecundang, jadi sabar saja sampai besok, ketika anak Abah memutuskan."
"Heh Wira...! kalau ngomong jangan asal nguap Sampai berani memutuskan pamanmu lah pemenangnya. Apa kamu nggak tahu malu dan nggak bisa sadar dengan kenyataan kalau pemenang sebenarnya adalah aku sendiri." jawab Galih yang tidak setuju dengan pendapat Wira, matanya yang sejak dari tadi memerah terus menatap tajam ke arah musuhnya, seolah hendak menelannya bulat-bulat.
"Sudah, sudah, jangan diteruskan Jang galih, Jang Wira! jangan sampai mengundang keributan kembali, sudah jangan sampai berlanjut. Apa kalian berdua masih belum mengerti dengan apa yang Abah sampaikan tadi, Abah sudah bilang jangan ada keributan lagi.....! itu sangat tidak pantas, seperti bukan sama saudara semakhluk saja." pisah Mbah Abun sambil membagi tatapan tajam ke arah kedua pemuda yang berebut paham.
"SUdah jangan mulai lagi, mulai lagi.....! mendingan kalian beristirahat. lebih baik kita saling bertukar pengalaman sambil menunggu waktu siang, biarkan masalah urusan perut Abah yang akan bertanggung jawab. Abah akan menyuruh si ambu untuk menyediakan makanan pengganjal," lanjut Mbah Abun sambil melirik ke arah istrinya.
"Iya Abah, Ambu sampai lupa belum menyiapkan jamuan buat tamu kita karena keadaannya sangat tegang
Sebentar Ambu mau memasak air untuk membuat kopi, ditambah menggoreng Uli."
"Ya sudah, Buruan bikin jangan banyak ngobrol." jawab Mbah Abun yang menyuruh istrinya.
__ADS_1
Dengan segera ambu yayah pun bangkit dari tempat duduk, kemudian memberikan isyarat kepada Ranti untuk mengikutinya. akhirnya mereka pun berjalan menuju ke dapur untuk menyediakan makanan.
Zuhri yang melihat kenyataan seperti itu, dia merasa tidak tega kalau membiarkan Abu Yayah repot sendirian. sehingga akhirnya dia pun menyuruh beberapa orang perempuan untuk membantu menyiapkan jamuan untuk menjamu para tamu peserta sayembara.
Ranti yang mengikuti dia sebenarnya belum paham dengan apa yang sedang dimusyawarahkan oleh orang tuanya dan orang-orang yang hadir di rumahnya. namun dia sudah bisa memastikan bahwa musyawarah itu adalah musyawarah yang sangat serius, bahkan terdengar menyebut-nyebut namanya.
Dari arah sawah terdengar suara kodok yang di sauti oleh suara katak, menghiasi keadaan malam yang semakin lama semakin larut, jangkrik jangkrik terdengar bergembira seolah ikut merasakan bahagia, karena Ranti sudah berubah wujud menjadi manusia seutuhnya.
Ranti yang masih merasa bingung dengan kejadian yang yang sedang dihadapi keluarganya hati kecilnya, dia ingin bertanya tentang kejadian yang sedang terjadi namun dia tidak berani, karena sudah diputuskan oleh bapaknya Bahwa masalah yang sedang dimusyawarahkan akan dilanjutkan besok pagi.
Ketika sudah berada di dapur, dengan segera Ranti pun mendekat ke arah ibunya yang sedang mengatur-ngatur tetangga yang membantunya, dengan segera dia pun berbisik akibat rasa penasaran yang memenuhi relung jiwanya.
"Ambu!"
"Iya ada apa Nyai?" jawab Ambu Yayah sambil menggeserkan tempat duduk, menjauh dari ibu-ibu yang sedang membantu menyiapkan jamuan untuk seluruh tamunya.
Setelah agak jauh, Mereka pun duduk berdampingan sambil saling memegang tangan, seolah tidak mau lepas dan merasa takut kalau mereka akan berpisah kembali.
"Sebenarnya ini ada apa, kok orang-orang terdengar berselisih paham, sambil menegangkan urat leher terlihat sangat menakutkan. Apa sebabnya mereka menyebut-nyebut nama Ranti?" Tanyanya yang tidak kuat menahan rasa penasaran.
"Nyai jangan takut, Nyai Jangan Bimbang. karena ini tidak akan terjadi apa-apa buat kita, biarkan jangan ingin tahu, karena besok juga akan jelas. sekarang Tenangkan pikiran Nyai, Jangan berpikir yang tidak-tidak!" jawab Ambu Yayah Yang Belum berani menerangkan kenyataan sebenarnya, dia takut membebani hati Ranti yang menjadi anaknya.
__ADS_1
Mendegar penjelasan dari ibunya, Ranti tidak memaksa. dia hanya terdiam sambil berpikir menerka-nerka apa yang akan terjadi, matanya terus menatap ke arah ibu-ibu yang sedang bekerja, menyiapkan air panas untuk menyeduh kopi, Ada pula yang menggoreng Uli sebagai pengganjal perut, ada juga yang mengukus umbi sama pisang.