
Galih, Daus dan wira, semalam suntuk mereka tidak tidur, mereka terlarut dalam obrolan obrolan di rumah mbah Abun, diketuai oleh aki Tardi dan Mang Zuhri. bahkan teman-teman Daus tidak pergi, soalnya mereka masih penasaran ingin mengetahui tentang putusan Siapa pemenang sayembara.
"Abah jangan ditunda-tunda lagi! mumpung keadaan waktu masih pagi. cepat Panggil Neng Ranti, Abah harus segera menentukan Siapa orang yang akan menerima hadiah," ujar Mang Zuhri dengan suara yang sangat tegas mewakili semua orang yang dipenuhi rasa penasaran.
"Lah kok gitu Jang Zuhri, sebenarnya Abah juga penasaran ingin segera mengetahui siapa pemenangnya. tapi tunggu dulu sebentar, kita harus sabar, Abah ingin teliti dan waspada, ingin santai tapi selesai, coba Tolong panggil Bapak RT dan Pak RW sekalian pak Kulisi desa, Abah ingin disaksikan oleh mereka biar aman, biar tidak ada pertengkaran-pertengkaran kembali seperti tadi malam." jawab Mbah Abun dipenuhi dengan kehati-hatian dan ketelitian, karena dia takut ada keributan-keributan seperti tadi malam.
Mang Zuhri tidak berani membantah, dengan segera dia pun menyuruh salah seorang anak muda untuk menyusul orang-orang yang disebutkan oleh Mbah Abun barusan.
Tidak lama diantaranya, Ketiga orang yang dipanggil pun terlihat menunjukkan batang hidungnya, karena hari itu mereka sengaja tidak keluar jauh dari rumah. Karena sebenarnya walaupun tidak dipanggil oleh Mbah Abun, mereka ingin memeriksa kejadian yang terjadi di rumah Bandar anyaman itu.
Setelah berada di depan rumah, Pak RT pun masuk ke dalam, diikuti oleh pak RW dan Pak Kulisi desa. kemudian mereka bertiga duduk dengan tenang, terlihat wajah pak Kulisi yang terkejut, ketika melihat orang yang sudah terbujur kaku di tengah rumah.
"Abah, Ini mayat siapa?" tanya Pak kulisi mulai mengintrogasi.
"Ini adalah mayitnya Surya Jaya, salah seorang peserta sayembara yang tidak memiliki keberuntungan ketika bertarung memperebutkan babi ngepet." jawab Mbah Abun tidak ada yang ditutup-tutupi.
"Haduh! Kenapa kejadiannya sampai seperti ini, bagaimana ceritanya?"
"Begini Pak Ici!" ujar Bah Abun Diteruskan dengan menceritakan kejadiannya, diambil cerita-cerita Yang pentingnya saja, yang terpenting pak Kulisi bisa mengerti.
Setelah menceritakan semua yang terjadi, Mbah Abun pun mulai menerangkan maksud dan tujuannya memanggil para sesepuh kampung Ciandam, yaitu untuk menyaksikan dan mengamankan, soalnya Mbah Abun mau menentukan siapa orang yang akan mendapat hadiah. dan Mbah Abun pun menerangkan kematian Surya Jaya adalah salah satu dari akibat tidak jelasnya pembawa babi ngepet yang di sayembarakan
"Nah begitu Pak isi, kejadian yang sebenarnya!" pungkas Mbah Abun mengakhiri cerita dan tujuannya.
__ADS_1
"Oh begitu?"
"Benar begitu!"
"Saya kira ada unsur kesengajaan, tapi ternyata ini adalah akibat dari perebutan sayembara, sehingga mengakibatkan adanya korban jiwa. kalau sudah begini kita harus bagaimana?" ujar Pak Polisi yang diakhiri dengan pertanyaan dia merasa bingung harus menentukan sikap apa.
"Justru itu Saya mengundang Pak Kulisi untuk meminta pertolongan harus bagaimana agar tidak menimbulkan korban lagi, dan apakah harus memutuskan terlebih dahulu sayembara atau mengurus dulu orang yang meninggal?" jawab Mbah Abun malah balik bertanya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, terlihat pak kulisi menarik nafas hendak menjawab namun didahului oleh Wira.
"Maaf Abah!"
"Ada apa Jang Wira?"
"Baik kalau begitu, sebentar Abah panggil dulu anaknya!" jawab Mbah abun sambil melirik ke arah pintu kamar, bahkan semua orang yang berada di tempat itu menatap ke tempat yang sama, Mereka sudah tidak sabar ingin segera melihat wujud Ranti.
"Ambu Tolong bawa anak Kita ke sini!" seru Mbah Abun sama Ambu Yayah.
Ceklek!
Pintu kamar pun terbuka, belasan pasang mata terus menatap, jantungnya terasa berdegup kencang hatinya, terasa berdebar ada juga yang menatap melongok ingin segera melihat orang yang baru pulang Berkelana.
Ambu Yayah yang Sejak dari pagi sudah bersiap dengan segera dia pun keluar menggandeng putrinya yang bernama Ranti yang sudah didandani, orang yang mau ditanya oleh bapaknya dari masalah sayembara karena hanya Rantilah yang bisa dimintai keterangan secara jelas, karena dia menjadi saksi kunci yang sudah pasti.
__ADS_1
"Ayo cantik, kita keluar dan berkumpul bersama para tamu, ingat kamu harus tegas ketika berbicara, jangan berbelit, jangan samar, jangan ragu-ragu, soalnya perkataan yang kamu ucapkan akan menentukan segala-galanya!" ujar Ambu Yayah sebelum keluar dari kamar.
"Baik ambu, Ranti akan mengikuti semua keinginan Ambu!" jawab Ranti yang sudah sangat cantik karena baru saja didandani.
Setelah semuanya selesai, kedua wanita itu pun bangkit dari kasur lalu keluar dari kamar, digandeng oleh Ambu Yayah berjalannya terlihat sangat lambat, seperti sedang menghitung langkah menuju ke tengah-tengah perkumpulan.
Pak Kulisi terlihat menarik nafas dalam, pak ketua RW terlihat manggut-manggut, Bapak RT terdiam melongo, tidak mengeluarkan suara sedikitpun, namun matanya tetap memperhatikan ke arah Ranti yang sudah berbulan-bulan berkelana, yang sekarang sudah datang kembali ke rumah.
Ranti pun duduk dengan tetap di gondeng oleh ibu dan bapaknya, dijadikan bahan tontonan khalayak ramai. ada yang menatap, ada yang melongok, ada juga yang memperhatikan bentuk tubuhnya seperti orang yang baru pertama kali melihat manusia, membuat Ranti jadi salah tingkah merasa gugup dijadikan bahan tontonan seperti itu, membuat perasaannya tidak enak bahkan jantungnya saja terasa berdegup agak kencang, membuat tubuhnya terasa bergetar.
"Para bapak dan para ibu dan para saudara-saudara semuanya, sekarang sudah tiba dengan waktunya, sudah datang pada masanya, bahwa sayembara yang pernah diembarkan oleh saya pribadi, sekarang mau ditentukan Siapa pemenangnya."
Baik! baik! baik!
Lanjutkan!
"Tapi sehubung ada keributan, ada kekacauan ketika menentukannya, terpaksa untuk menentukan pemenang sayembara saya akan bertanya terhadap orang yang memiliki peran utama dalam masalah ini, karena tidak jelas orang yang memiliki jasanya, karena banyak orang yang mengakui merekalah pemenangnya. menurut orang ini sayalah pemenangnya, menurut orang itu saya juga pemenangnya, membuat kepala Abah sangat pusing. semua orang mengakui punya jasa, tapi tidak jelas buktinya. Nah dari dasar itu para hadirin sekalian, Abah meminta kesaksian dari Pak Polisi, Pak RT, pak RW dan semua orang yang hadir di rumah Abah, sekarang abah mau bertanya sama anak Abah, mau menginterogasi dari yang kecil sampai yang besar, untuk menentukan yang sejujur-jujurnya!" begitulah ujar Bah Abun membuka permusyawarahan untuk menentukan sang juara.
Bersaksi! bersaksi! bersaksi!
Jawab orang yang hadir dengan serempak.
"Terima kasih kalau seperti itu, sekarang Abah mau memulai memeriksa Ranti, abah mau meminta keterangan yang selengkapnya, agar ketika menentukannya benar-benar sesuai dengan jasanya."
__ADS_1