
Ketika menceritakan perebutan babi itu, Galih dan Saipul terlihat menundukkan kepala, karena mereka merasa berdosa sudah menganiaya Jana dan Dadun. Namun akhirnya babi itu kabur ada orang yang membawa.
"Nah begitu ceritanya Abah!" pungkas mangsarpu mengakhiri ceritanya.
"Oh begitu, Jadi orang yang sebenarnya memiliki jasa itu adalah Jang Jana bukan begitu Mang Sarpu?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah sahabatnya, orang-orang yang lain mereka tetap diam memperhatikan orang yang sedang mengobrol.
"Tidak salah Abah, Jang jana lah orang yang pertama menangkap babi itu dan Jang Jana lah yang berhak mendapatkan hadiah, tidak akan ada orang yang lain lagi. Abah harus percaya sama saya soalnya saya menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri, bahkan kalau perlu Abah bisa meminta saksi dengan sebanyak-banyaknya ke warga Kampung Sukaraja."
"Sebentar, sebentar....! Siapa orang yang merebut di perjalanan?" tanya Mbah Abun yang terlihat penasaran.
"Gampang Abah, biarkan Jang Jana saja yang menunjuk. Ayo Jang Siapa orang yang mencuri babi Ujang!"
Dimintai seperti itu, dengan cepat Janna pun menunjuk ke arah Galih dan Saiful, karena sejak dari tadi mereka sudah saling mencuri tatap, karena kejadian di puncak bukit tidak akan mereka lupakan.
"Tuh, tuh! orang yang duduk di pojok satu, orang yang tuanya yang ini nih! yang sedang bersila sambil merok0k," ujar Jana sambil menunjuk ke arah Galih dan Saipul.
Orang yang ditunjuk pun tidak memberikan bantahan, karena mereka mengakui semua yang di tujukkan. hanya tatapan tajam sama Keratan gigi yang terdengar, wajah nya terlihat merah padam, tidak kuat menahan rasa malu seperti orang yang sedang ditelanjangi di tengah pasar, namun Galih dan Saipul tidak melakukan apa-apa, karena kalau membuat keributan maka masalahnya akan semakin runyam.
__ADS_1
"Oh begitu, pantas saja Menurut keterangan anak saya bahwa jang Galih dan Saiful tidak memiliki hak sedikitpun atau tidak ada jasa sama sekali, yang mereka bisa hanya merebut seperti begal. Abah tidak menyangka ternyata jang galih memiliki kelakuan yang jahat seperti itu," ujar Bah Abun sambil menggeleng-gelengkan kepala, matanya menatap ke arah Galih yang wajahnya semakin memerah, merasa malu hingga akhirnya dia pun menundukkan kepala.
"Nah, sekarang Saya mau menyerahkan orang yang pantas menjadi menantu Abah, orang yang benar-benar memiliki jasa yang sangat besar, yang sudah mengorbankan jiwa, Pati dan raganya untuk menolong Putri Abah. jadi Abah tidak usah ragu, tidak usah Bimbang, tidak usah bertanya lagi, saya saksinya." jawab Mang Sarpu dengan sedikit membusungkan dada, Karena dia sudah bisa menyerahkan sang juara sayembara.
Mbah Abun terlihat menarik nafas panjang, orang-orang yang berkumpul terlihat melongok ke arah wajah Jana, membuat hidung pemuda itu membesar seketika, merasa bangga dengan pencapaiannya, rasanya Jana sudah sah menjadi menantunya Mbah Abun.
"Apakah benar itu Jang Jana?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah Jana.
"Tidak salah, itu sangat benar sekali Abah! kalau abah tidak percaya Abah bisa bertanya ke warga Kampung Sukaraja karena hampir semua orang-orang yang berada di sana menyaksikan, salah satu dari warga kampung itu adalah orang ini yang bernama Kang Dadun," jawab Jana sambil menunjuk ke arah sahabatnya yang bernama Dadun.
Dengan segera orang yang ditunjuk pun menganggukkan kepala, memberikan persetujuan dengan apa yang dibicarakan oleh Jana.
Mendapat penyambutan seperti itu, Jana pun terlihat memasang aksi, wajahnya pun terlihat bercahaya, hidungnya kembang kempis, bahkan tempat duduknya merasa menjadi lebih tinggi, karena dia sangat bahagia menjadi pusat perhatian.
Namun sayang kebahagiaan Jana tidak berlangsung lama, karena Mang Zuhri sangat tenang tidak cepat terbawa oleh suasana, dia tidak mudah menerima penjelasan dari Mang Sarpu, dengan segera dia pun menyanggah.
"Mohon maaf! saya ikut berbicara, terutama saya meminta izin sama saudara Sarpu yang datang dari kampung Sukaraja, yang menjadi ketua dari pihak yang Jana."
__ADS_1
"Baik, baik, silakan! tidak menjadi penghalang, tidak menjadi gangguan kalau Akang atau Mamang mau berbicara," jawab Mang Sarpu mempersilahkan Zuhri untuk menyampaikan pendapatnya.
"Begini saudara Sarpu, untuk membuktikan siapa orang yang berhak menerima hadiah, tidak cukup hanya menggunakan saksi dari luar, tapi harus ada pengakuan dari orang yang berhubungan langsung, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Neng Ranti. karena sudah menjadi keputusan yang disepakati bersama, bahwa pemenang sayembara harus ditentukan oleh Neng Ranti, karena hanya Neng Ranti lah Yang menjadi saksi kunci dan tidak akan ada kepentingan. untuk itu, sekarang juga saya mohon keterangan dari Neng Ranti, Apakah benar Jang Jana orang yang memiliki jasa dalam menolong Eneng, atau masih ada orang lain karena Setelah Mamang memperhatikan. cerita ini sangat panjang sampai berbelit-belit membuat kepala pening ketika memperhatikannya. Nah dari dasar itu, Jang Jana Jangan sombong dulu Jang! karena Ujang belum tentu bisa menjadi juara sayembara. kita dengarkan dulu penjelasan dari Neng Ranti. Nah itu yang mau saya sampaikan, terima kasih sudah memberikan waktu!" pungkas Mang Zuhri mengakhiri penyampaian pendapatnya.
"Yah benar, saya sangat setuju lah!" Timpal Pak Kulisi dengan suara lantang dan tegas menimpali perkataan Mang Zuhri, sehingga suara itu terdengar oleh orang yang hadir.
Mendengar penjelasan dari Mang Zuhri, Jana pun terdiam berpikir mencerna Apa yang diucapkan olehnya, dia tidak mengerti peraturan sayembara yang dibuat waktu itu, ditambah lagi dia belum mengetahui bahwa babi yang dibawa olehnya sudah berubah wujud kembali ke wujud manusia, kembali ke jenis aslinya.
"Kenapa harus bertanya sama orangnya, dan siapa orang itu bapak?" Tanya Jana sambil menatap lekat ke arah Zuhri.
"Oh begini Jang Jana, orangnya itu adalah anak Abah namanya Ranti, karena yang menjadi babi jadi-jadian itu tidak lain dan tidak bukan yaitu adalah anak Abah," jawab Bah Abun tanpa sedikitpun merasa malu karena sudah begitu kejadiannya.
"Oh kok begitu!" ujar Jana yang terlihat mengkerut Karena hati kecilnya sudah mengakui bahwa dirinya bukan orang yang memiliki jasa, karena dia merasa mendapat babi itu hasil merebut dari Eman, ketika orang itu sedang tidur dengan seekor babi yang berada di saung kebunnya.
"Sudah kalau begitu, tolong ceritakan Nyai! kira-kira Siapa orang yang benar-benar harus menjadi pemenang sayembara ini?" Tanya Mang Sarpu yang mulai penasaran, karena dia sudah mengerti dengan apa yang sedang terjadi karena dia sudah mengalami.
"Saya tidak menerima kalau Kang Jana dan teman-temannya menjadi pemenang sayembara," jawab Ranti dengan suara pelan namun terdengar tegas.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Mang Sarpu.
"Soalnya Kang Jana tidak ada bedanya dengan orang-orang yang lain, Kang Jana bisa membawa saya ke kampung Sukaraja itu hasil dari merebut, Bahkan dia sangat tega sampai menyiksa orang yang tidak memiliki dosa terhadap dirinya," begitulah jawab Ranti tanpa sedikitpun ada keraguan di wajahnya.