Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI

Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI
Bab 29. Menuju Rumah Mbah Abun


__ADS_3

"Oh jadi kamu itu takut malu ya Bapak!" jawab Marni yang terlihat mencibir, dia tetap tidak setuju dengan pekerjaan suaminya.


"Iya benar ibu, apapun yang dikerjakan oleh Bapak sekarang ini adalah bentuk usaha untuk menyelimuti rasa malu keluarga kita."


"Apa dengan berangkat ke kampung Ciandam, rahasia kita akan tetap tersembunyi. Itu sama saja kalau Bapak berangkat menemui Mbah Abun, itu seperti membuka aib sendiri, karena Ibu yakin kalau Mbah Abun akan berbicara tentang kejelekan kita. Jadi sekarang mendingan Bapak diam aja di rumah, tidak harus pergi ke mana-mana!"


"Yeh gimana sih kamu Marni, kalau rahasia kita dibocorkan oleh si Jana dan si Dadun bagaimana?"


"Biarkan saja sih, karena walaupun mereka berbicara kita tidak akan rugi."


"Kalau begitu caranya, kamu sebagai istri tidak harus banyak berbicara. karena maju dan mundurnya rumah tangga, suamilah yang mengatur! kamu setuju, syukur. tidak setuju tidak apa-apa, Silakan kamu pulang ke rumah orang tua kamu!"


Akhirnya Mang Sarpu meluapkan kekesalannya, sampai tega mengusir istrinya yang sudah lama setia menemani, membuat Marni terperanjat kaget, karena dia tidak memiliki kekuatan untuk menyanggahnya, hingga dia pun terdiam tidak berbicara lagi.


Mang sarpu tidak mau memperpanjang masalah, dengan segera dia pun bangkit kemudian masuk ke dalam kamar, dengan segera membantingkan tubuhnya ke atas kasur lalu memejamkan mata. tak lama diantaranya, terdengar suara dengkuran yang sangat keras, seolah tidak memperdulikan istri dan anaknya yang masih berada di ruang tamu.


Semakin lama keadaan malam pun semakin sunyi, menimbulkan suasana yang sangat mencekam. Marni yang masih duduk di ruang tamu, matanya terlihat berkaca-kaca merasa sedih dengan apa yang dibicarakan oleh suaminya. karena hanya masalah sepele, sampai tega mengusirnya untuk pulang ke rumah orang tua


"Ternyata hati Kang sarpu sangat keras seperti batu, Kenapa dia tetap Kukuh ingin menolong si Jana dan si dadun yang belum pasti keuntungannya. tapi, biarkan sajalah, aku tidak mau ikut campur...!" begitulah pemikiran Marni kemudian dia pun bangkit dari tempat duduk untuk mengunci pintu ruang tamu, setelah semuanya dirasa rapi dia pun masuk ke tengah rumah diikuti oleh anaknya yang bernama Kipli.


Keadaan rumah mang Sarpu pun terlihat sepi, tidak ada suara pembicaraan lagi. mereka terlarut dengan impian masing-masing, hingga akhirnya waktu yang dijanjikan pun tiba.


Sebelum waktu subuh, terlihat Mang Sarpu masih tertidur dengan lelap, kayaknya dia tidak pernah bangun setelah tadi malam memejamkan mata, dia terlelap tenang seperti orang yang pingsan.


Dalam keadaan seperti itu, di luar rumah Mang Sarpu terlihat ada dua bayangan orang yang berjalan, dengan tergesa-gesa berjalan mendekat ke arah halaman rumah. setelah sampai di teras mereka terdiam seperti sangat malas ketika mengucapkan salam, soalnya keadaan di rumah Mang sarpu masih terlihat sangat sepi.

__ADS_1


"Kang kenapa masih sepi ya, apa jangan-jangan mang Sarpu belum bangun? kalau sudah begini, bagaimana?" Ujar Jana sambil melirik ke arah Dadun, wajahnya dipenuhi dengan ketakutan.


"Tidak usah banyak pikiran jang! karena Mang sarpu sudah berjanji, kita gedor saja rumahnya agar dia keluar!"


"Ya sudah, Akang yang lakukan!"


"Baik, baik! kita gedor saja." Jawab Dadun sambil mendekat ke arah pintu.


Dor! dor! dor!


"Mang Sarpu, mang Sarpu, mang sudah bangun apa belum...? mang, mang......!"


Panggil Dadun sambil menggedor-gedor pintu rumah Mang Sarpu, karena pagi itu mereka sudah berjanji bahwa mereka akan pergi ke kampung Ciandam, untuk menjalankan rencana tadi malam.


"Itu Jang Jana bukan?" ujarnya bertanya setengah ngelindur.


"Iya mang saya Jana," jawab orang yang berada di luar.


Ceklek!


Pintu ruang tamu pun dibuka, terlihatlah Jana dan Dadun yang berdiri di teras rumah, Mereka terlihat sudah rapi tinggal berangkat.


"Haduh Maaf Mamang kesiangan Jang, tunggu dulu sebentar!" ujar mang Sarpu sambil kembali masuk ke dalam, dengan segera dia pun mengganti pakaian dengan pakaian yang bagus, setelah semuanya rapi dia pun mengambil topi koboi, tak lupa membawa golok takut di perlukan.


"Sudah siap Mang?" tanya Jana setelah melihat Mang Sarpu keluar.

__ADS_1


"Sudah Jang, ayo berangkat!"


"Nggak cuci muka dulu Mang?"


"Nanti aja di jalan!"


"Yah benar, nanti juga biasanya di jalan banyak talang air," jawab Dadun membenarkan.


Tanpa ada pembicaraan lagi, akhirnya ketika orang itu berjalan meninggalkan rumah. Mang Sarpu tidak berpamitan terlebih dahulu sama istrinya, karena mereka sedang berantem memperebutkan paham, tentang pekerjaan yang akan suaminya kerjakan.


Ketiga orang itu terus berjalan meninggalkan kampung Sukaraja menuju ke kampung Ciandam, mau menemui Mbah Abun. selama di perjalanan tidak terdengar pembicaraan mungkin roh halus mereka masih tertinggal di alam impian.


Dari upuk Timur terlihat sinar kuning keemasan menerangi awan putih yang menggumpal di atas langit, burung kutilang terdengar berkicau menyahuti temannya, menyambut datangnya sang surya, ayam jago yang terdengar berkokok, semakin lama semakin terdengar riuh membangunkan warga kampung.


Bray! Bray! bray!


Keadaan pun semakin lama semakin terang, akhirnya gunung-gunung yang menjulang tinggi terlihat diselimuti oleh kabut, air embun terlihat menggantung di ujung daun, tidak ada tiupan angin ketika waktu pagi, sehingga membuat daun-daun terlihat diam tak bergerak, seperti masih terlelap dalam tidurnya. apalagi daun petai cina dan putri malu terlihat sangat layu seperti mau mati.


Keadaan pagi itu terasa sangat segar, pemandangannya sangat indah dan menawan, membawa kebugaran dalam tubuh, membuat Jana dan Dadun ditambah Mang Sarpu terlihat bersemangat ketika berjalan. walaupun keadaan masih pagi keringatnya mulai keluar. keadaan yang awalnya dingin mulai terasa hangat, karena sang surya sudah menunjukkan cahayanya, cahaya matahari yang menerangi Buana Panca Tengah.


Tiga orang saling mengikuti menyusuri Jalan Setapak yang nantinya akan sampai ke Kampung Ciandam, punduk mereka sudah terasa hangat tersinari oleh sinar matahari, membuat terasa segar menambah kekuatan tenaga.


*****


Sedangkan di kampung Ciandam, waktu itu terlihat sangat gempar. karena orang-orang berjalan menuju ke rumah Mbah Abun, Soalnya dari kemarin sore sudah tersiar berita Bahwa keluarga Mbah Abun kedatangan tamu yang membawa babi jadi-jadian atau babi ngepet. Apalagi setelah keadaan waktu siang orang-orang semakin terlihat penasaran, karena mereka mendapat berita bahwa Ranti sudah datang, ditambah ada berita yang sangat memilukan karena salah satu peserta sayembara ada yang meninggal, yaitu Surya Jaya. membuat suasana kampung itu semakin gempar apalagi tadi malam juga ada pertarungan di halaman rumah Mbah Abun.

__ADS_1


__ADS_2