
Deg!
Jantung Ranti tiba-tiba Berhenti Berdetak, hatinya terasa berdebar seketika, Ranti merasa kaget, khawatir, takut, bingung dan sedih. Soalnya pulang ke rumah bukan disambut dengan ketentraman, melainkan disambut dengan kesusahan, di jemput oleh rasa bingung, diikuti oleh rasa sedih merasa takut, kalau harus menentukan karena orang yang benar-benar memiliki jasa tidak ada di tempat itu, yang Akhirnya dia pun mengeluarkan suara.
"Abah.....!" Panggil Ranti.
"Yah kenapa cantik?"
"Seribu semoga tidak menjadi sendu, selaksa semoga tidak menjadi siksa, sebelum Ranti berucap, Ranti mohon maaf yang sebesar-besarnya, apabila nanti keputusan Ranti tidak sesuai dengan keinginan, tidak sesuai dengan harapan Abah!" ungkap Ranti mengeluarkan isi di dalam hatinya.
"Jangan Ragu-ragu cantik, anaking, anak Abah....! jangan takut ketika mau berbicara, silahkan kamu utarakan apa yang akan menjadi keputusanmu."
"Orang yang pantas mendapat hadiah," ujar Ranti terhenti seperti orang yang sedang mengumumkan pemenang undian. Ranti tidak meneruskan pembicaraan membuat orang-orang yang menonton semuanya terdiam, orang yang mau batuk pun ditahan, pak Kulisi terlihat menatap lekat ke arah Ranti, Pak RT menunduk, Pak RW menarik nafas dalam, Galih Wira dan Daus melongo tidak berkedip.
"Siapa Nyai?"
"Orangnya tidak ada, tidak ada di sini Abah!
Apa?
Seketika Galih pun terperanjat kaget, seperti ada hewan yang menggigit di pantatnya, Daus juga terlihat terdiam melongok begitupun dengan Wira yang terlihat menarik nafas dalam, orang lain terlihat mengatur nafas yang terasa memburu setelah ditahan agak lama. satu orang pun tidak ada yang memberikan tanggapan, Mang Zuhri terlihat menggeleng-gelengkan kepala, apalagi aki Tardi yang manggut-manggut.
__ADS_1
Mbah Abun agak lama terdiam berpikir mencerna apa yang baru saja disampaikan oleh anaknya. namun setelah agak lama dia pun berbicara kembali.
"Lah, lah, kenapa bisa seperti ini kejadiannya?" ujar Bah Abun yang terlihat melongo, sedangkan Ambu Yayah dia tidak berani berbicara, tangannya meraba bahu Ranti, diusap dengan perlahan, seperti sedang mentransfer kekuatan namun dia tidak berani berbicara.
"Untuk orang yang hadir di tempat ini, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, orang yang sudah menolong saya memang tidak ada di tempat ini." jawab Ranti mempertegas jawabannya.
Mendengar jawaban seperti itu, hati Wira merasa terpanggil. dengan segera dia pun mengangkat kepala kemudian dia berbicara dengan suara lantang dan tegas.
"Nyai, Apakah Nyai itu adalah orang yang menjadi babi jadi-jadian?" tanya Wira sambil menatap ke arah Ranti.
"Iya Akang, Saya adalah orang yang terjebak dalam tubuh babi ngepet," jawab Ranti tanpa sedikitpun keraguan, karena semuanya sudah tidak menjadi rahasia lagi.
"Kalau benar seperti itu, Neng tidak boleh menolak kenyataan. karena Eneng sudah berbulan-bulan berada di rumah Paman saya yang bernama Surya Jaya. disayangi, dipelihara, dijaga, dikasih makan, di manjakan, tapi kenapa Eneng tidak menghormati jasa-jasa Surya Jaya, asal Eneng Tahu beliau sampai meninggal dunia itu semua dari akibat rasa tanggung jawab untuk menolong Eneng. tapi kenapa Eneng menyebutkan bahwa Mang Surya Jaya tidak memiliki jasa, apa ini maksudnya?" ujar Wira yang tidak setuju dengan apa yang dibicarakan oleh Ranti, karena dia sangat mengetahui kalau babi ngepet itu berada sangat lama di rumah Surya Jaya.
"Iya saya sendiri."
"Ki Surya Jaya tidak memiliki tujuan untuk menyayangi saya sepenuh hati, karena bapak Surya Jaya memelihara Saya bukan didasari dari rasa kasih sayang.
"Tapi?"
"Tapi maksud Surya Jaya memelihara saya hanya untuk memeras tenaga saya, untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah sebanyak mungkin, untuk mencukupi kebutuhannya. yang perlu diketahui oleh Kang Wira sebenarnya kehidupan Surya Jaya dan istrinya tergantung dengan pekerjaan saya, yang dimakan dan diminum oleh mereka, tidak lain tidak bukan semuanya hasil dari memeras keringat saya. Surya Jaya tidak memiliki rasa dan perasaan, dia sangat tega memaksa saya untuk dijadikan tontonan khalayak ramai, dibawa kemana-mana dari kampung satu ke kampung yang lain, mentang-mentang saya berwujud hewan, dia menganggap saya adalah makhluk hina, tidak sedikitpun menghormati. Nah dari dasar itu Surya Jaya tidak berhak menerima hadiah," jawab Ranti dengan tegas membuat Wira terdiam melongo, tidak bisa berkata-kata lagi. karena memang begitulah kenyataannya, Surya Jaya memelihara Ranti bukan didasari oleh rasa kasih sayang, namun memelihara Ranti untuk dijadikan modal usaha.
__ADS_1
"Haduh rame nih! ceritanya kalau seperti ini," gumam pak Kulisi terhadap dirinya sendiri, namun ucapannya terdengar oleh orang lain.
Melihat Wira kalah berdebat, hati Galih pun terpanggil, yang awalnya dia tidak akan ikut berbicara, akhirnya dia pun memutuskan untuk mengeluarkan unek-uneknya, terpancing oleh perkataan Wira.
"Maaf Neng Ranti!"
"Ada apa Kang Galih?" jawab Ranti sambil melirik ke arah orang yang berbicara, hingga tidak bisa dihindarkan kedua tatapan pun beradu membuat hati Galih bergejolak tidak karuan, Karena setelah diperhatikan, sekarang Ranti terlihat lebih cantik dari yang dulu, mungkin rasa kangen yang sudah menggebu memenuhi dada. namun meski seperti itu Galih tidak menunjukkannya, Dia terlihat Tetap tenang ingin menyampaikan isi di dalam hatinya.
"Maaf Eneng Ranti, kalau Eneng berbicara bahwa pemenang sayembara tidak ada di sini. Akang tidak terima, Kenapa Eneng tidak mengakui jasa Akang yang sudah berjuang sekuat tenaga untuk menolong kamu. masa Eneng lupa ketika Eneng diajak kabur oleh Akang sewaktu mengadakan pertunjukan sirkus babi di kampung Cisarua, itu adalah bukti bahwa akang ingin menolong Eneng, sehingga Akang tidak memperdulikan bahaya Pati, tidak memikirkan keselamatan diri sendiri. karena apa, Karena ingin menolong Eneng, tapi kenapa sekarang Eneng seolah melupakan semua pengorbanan akang, bahkan tidak menyapa sedikitpun. Eneng sangat tega! Eneng sangat tidak memiliki perasaan!" ujar Galih dengan menundukkan pandangan seperti orang yang sedang ingin dikasihani.
"Kang Galih!"
"Saya Eneng."
"Awalnya saya memperbesar hati karena ada orang yang mau menolong, ada orang yang mau mengangkat dari jurang kesengsaraan, tapi semakin ke sini semakin diketahui. Ternyata Akang itu tidak memiliki pendirian yang kuat, sampai-sampai terbawa oleh hal-hal yang tidak-tidak, yang akhirnya lupa dengan Wiwitan, tidak memperdulikan Tata kesopanan yang utama. Memang betul maksud dan tujuan Akang sangat baik ingin menolong saya, tapi jiwa Akang tidak bersih serta caranya tidak sesuai dengan sifat-sifat manusiawi."
"Apa buktinya Eneng?"
"Apa kang?"
"Apa buktinya, sampai Eneng berbicara seperti itu?"
__ADS_1
"Buktinya Akang mau berkorban seperti itu tidak didasari dengan rasa ikhlas, karena akang menginginkan sesuatu, menginginkan timbal balik. Ditambah lagi dengan kelakuan-kelakuan Akang yang tidak manusiawi, sampai tega menyiksa sesama manusia, berebut seperti begal, memutus jasa orang di tengah jalan. maksud Akang yang baik dibumbui dengan perilaku-perilaku yang tidak sesuai, Sampai berani membulatkan mata, menegangkan ulat leher, tidak jauh beda dengan begal yang akhirnya orang kampung Sukaraja sampai-sampai kehilangan nyawa, disiksa oleh Akang. Bahkan bukan orang kampung Sukaraja saja yang akan siksa termasuk Surya Jaya pun Akang siksa dengan begitu kejam dan keji. Nah dari dasar itu, saya tidak ikhlas dan tidak setuju Kalau menyerahkan jiwa dan raga sama laki-laki seperti Akang, karena ternyata begitulah sikap Akang yang sebenarnya. mohon maaf Kang Galih saya bukan tidak tahu cara berterima kasih, tapi dalam hal ini saya harus tegas ketika mengambil keputusan, karena ini semua menyangkut kehidupan saya kedepannya. dan Sekali lagi saya mohon maaf kalau semua kejelekan Kang Galih dibuka di tempat ini, agar orang-orang bisa mengerti dan memahami!" ujar Ranti panjang lebar, Dia berbicara dengan wajah datar tidak ada sedikitpun ketakutan Terukir di wajah itu, ketika menjelaskan pendiriannya