
"Boleh minta air teh bapak?" ujar Surya Jaya sambil memindai area sekitar warung.
Tak lama pesanan pun datang, kakek-kakek penjaga warung mendekatkan teko dan gelas yang selalu tersedia gratis untuk para pengunjung warungnya.
"Apa Kang Daus ada di rumah bapak?" ujar Wira bertanya sambil menuangkan air ke dalam gelas.
"Ada..., bahkan mereka baru saja jajan di sini bersama teman-temannya, karena kemarin dia baru pulang dari Berkelana mencari benda yang diselenggarakan," jawab tukang warung memberikan jawaban yang sangat jelas dan tegas.
Mendengar jawaban dari kakek-kakek penjaga warung, membuat Wira merasa bahagia karena apa yang sudah direncanakan dengan pamannya, bisa berjalan dengan lancar.
"Sebelah mana rumahnya Bapak?" tanya wira setelah meletakkan kembali gelas yang baru saja dia teguk airnya.
"Di sebelah barat Ujang rumahnya, Tapi kayaknya dia tidak ada di rumahnya, karena tadi abah dengar, dia mau main ke rumah Mang Zuhri."
"Sebelah mana rumahnya Mang Zuhri Bapak?" susul Wira sambil menatap ke arah penjaga warung.
"Tuh sebelah sana, yang di depan rumahnya ada pohon jambu, halamannya ditanami kebun jahe," jawab penjaga warung sambil menunjuk menggunakan ibu jari.
Wira semakin merasa bahagia, sehingga dia pun berdiskusi kecil-kecilan dengan pamannya, hingga Mereka pun mendapat keputusan bahwa Surya Jaya akan menunggu di warung, sedangkan Wira akan pergi untuk menemui Daus yang sedang berada di rumah Zuhri.
Tanpa berpikir panjang akhirnya Wira pun pergi, sedangkan Surya Jaya dia tetap tinggal di warung untuk mengistirahatkan tubuh yang terasa sangat letih, sambil mengisi perut yang terasa keroncongan. sedangkan penjaga warung tidak sedikitpun memiliki curiga, dia menyangka kedua orang itu adalah tamu biasa, bukan Tamu Yang membawa niat untuk mengikuti sayembara. jadi ketika dia bertanya sama Surya Jaya, dia hanya menanyakan hal-hal yang biasa.
Sedangkan Wira, dia sudah sampai di rumah Zuhri, karena ternyata mencari rumah itu tidak susah, soalnya banyak pemuda yang sedang berkumpul dan di halaman rumahnya tertanam pohon jahe. Wira memindai rumah itu terlihatlah ada beberapa kelompok anak muda yang sedang berkumpul, seperti sedang berdiskusi dengan sangat serius dari salah satu kelompok itu, terlihatlah Daus yang sedang berbicara dengan teman-temannya, sehingga Wira pun dengan segera menghampiri.
"Assalamualaikum," ujar Wira sambil manggut memberi hormat.
"Waalaikumsalam warahmatullah wabarakatuh," jawab para pemuda itu dengan serempak, matanya menatap ke arah orang yang mengucapkan salam.
"Maaf mengganggu, apa ini benar kan Kang Daus?" Tanya Wira memastikan dengan menunjuk Daus menggunakan ibu jari.
__ADS_1
"Iya benar, saya sendiri....! tapi sebentar kayaknya kita pernah bertemu, tapi saya lupa kita bertemu di mana?" tanya Daus sambil menatap lekat ke arah Wira.
"Saya Wira orang cipelang Kang, yang dulu pernah mengobrol. maksud saya menemui Akang ada kepentingan sedikit, Ada yang ingin saya sampaikan."
"Oh begitu, Wira yang dulu pernah bertemu di jalan ketika mau ke kampung Ciandam, ketika mau memastikan tentang kebenaran sayembara?"
"Iya benar...! bagaimana bisa nggak kalau kita mengobrol dulu sebentar, soalnya saya ada kepentingan sedikit sama Akang," ujar Wira seolah tidak sabar.
"Bisa, bisa, bahkan sangat bisa, hehehe." jawab Daus sambil mengulum senyum, menandakan dia orang yang sangat ramah.
Seketika itu Daus pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian mengajak Wira untuk menjauh dari kelompok orang-orang yang sedang berkumpul, bahkan keluar dari halaman rumah Zuhri, karena melihat dari keseriusan Wira, Daus tidak mau mengecewakan orang yang meminta pertolongannya.
Setelah agak menjauh, mereka pun duduk di Batu yang berada di pinggir jalan, dengan segera Daus pun bertanya sambil menatap ke arah Wira.
"Ada apa Kang Wira?"
"Begini Kang Daus, Saya sedang ada kesusahan sedikit. Tadi ketika saya bersama paman saya mau menyetorkan babi ngepet ke kampung Ciandam."
"Di perjalanan babi itu direbut oleh dua orang yang sama-sama menginginkan babi itu. Nah, dari dasar itu sekarang Saya mau berbicara jujur, Saya mau meminta pertolongan, meminta bantuan sama Kang Daus."
"Pertolongan dalam bidang?"
"Pertolongan untuk membantu merebut kembali babi itu, kalau bersedia nanti hadiahnya kita bagi dua. Nah begitulah maksud dan tujuan saya Kang....!" jawab Wira yang langsung ke inti permasalahannya.
"Sebentar, sebentar....! Apakah babi itu sudah ditemukan?" tanya Daus.
"Bukan sudah ditemukan lagi, tapi sudah dimiliki, karena sebenarnya babi itu sudah lama berada di rumah dipelihara oleh Paman saya. tapi setelah mendapat keterangan dari Mbah Abun, Paman saya ada berniat untuk menyetorkan babi itu, apa Kang Daus ingat ketika dulu Akang memberikan keterangan sama saya?"
"Oh iya, Iya...! saya mengerti, mengerti....!" tapi Siapa yang dimaksud Paman itu?"
__ADS_1
"Paman saya namanya Surya Jaya,"
"Orang mana?" tanya Daus yang semakin terlihat penasaran.
"Orang cipelang?"
"Surya Jaya.....!" ulang Daus sambil mengerutkan dahi seolah mengingat-ingat nama itu. "Surya Jaya sang pawang babi itu bukan?" lanjut Daus Setelah mengiingat kejadian yang lalu.
"Iya benar, Paman saya adalah orang yang suka mengadakan sirkus babi?"
"Kalau begitu saya mengerti, karena dulu juga saya pernah main ke rumahnya. Tapi Surya jayanya nggak ada, yang ada hanya istrinya, Namanya siapa ya? Lupa," ujar Daus sambil melihat ke arah atas mengingat-ingat kembali nama istri Surya Jaya.
"Itu Bibi saya, namanya Bibi Hamidah."
"Oh iya, iya....! saya ingat saya juga pernah melihat babi itu di dalam kandang, Namun sayang babinya terlihat galak seperti sedang marah?"
"Iya memang begitu kalau sama orang yang tidak dia kenal?"
"Terus sekarang babi itu mau disetorkan?" Tanya Daus yang mulai mengingat kembali ke kejadian ketika dia Berkelana dalam rangka mencari babi yang di sayembarakan.
"Benar begitu Kang, sekarang babi itu mau disetorkan sama Mbah Abun. tapi begitulah direbut oleh orang lain, sehingga saya memutuskan untuk meminta pertolongan Akang, agar bisa membantu saya, dan semoga saja Akang bersedia."
"Baik, baik kalau begitu....! tapi masih butuh bantuan orang lain nggak?" Ujar Daus yang menyanggupi diakhiri dengan pertanyaan.
"Butuh ya, sangat butuh kang. tapi kalau masalah hadiah Saya tidak akan ngasih hadiah ke orang lain, Saya hanya akan mengatasi hadiah sama Akang, sesuai dengan perjanjian."
"Jadi?"
"Jadi kalau kang Daus Mau membawa orang lain, maka bagian Akanglah yang harus dibagikan dengan orang-orang yang kang Daus ajak."
__ADS_1
"Yah itu sangat mudah dan gampang, biarkan itu menjadi urusan saya. sekarang tunggu dulu sebentar, saya akan berdiskusi terlebih dahulu."
"Silakan Kang....! saya tunggu."