Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI

Babi Beranting Vol 6. KEMBALINYA RANTI
Bab 23. Jana Dan Dadun


__ADS_3

Keadaan alam semakin lama semakin malam, semakin terasa sunyi. suara jangkrik tidak sedikitpun berhenti namun suara anjing tanah sudah Terdengar agak jarang, dari kejauhan sesekali terdengar suara anjing yang menggonggong, sesekali terdengar belalang hijau yang bersuara di samping rumah.


Mbah Abun beserta para tamunya mulai mengendorkan perdebatannya, Galih dan wira mereka bisa menahan hawa nafsu, tidak saling berselisih paham, bisa ditahan dengan nasihat-nasihat aki Tardi dan Mang Zuhri.


Sedangkan Surya Jaya yang terbujur kaku di tengah rumah sudah ditutup menggunakan sarung, di bawah kakinya terlihat Wira yang sedang duduk bersila tegap. selain mengikuti obrolan, pikiran Wira sudah terbang ke kampung cipelang, Teringat sama orang tuanya dan Teringat sama bibinya, Bahkan dia sampai mengumpat di dalam hati.


"Bapak, ternyata memang benar apa yang disampaikan oleh Bapak, pekerjaan yang dikerjakan oleh Mang Surya Jaya bukan pekerjaan yang mudah. tapi satu pekerjaan yang membutuhkan kekuatan lahir dan batin, harus memiliki banyak ruang dan pengalaman. sekarang sudah terbukti Mang Surya sudah meninggal dalam rangka mengejar cita-cita ingin jadi pemenang sayembara. yang sabar Bibi, ternyata beginilah kejadiannya, Mamang Surya suami bibi sudah meninggal." begitulah gumam hati Wira sambil sesekali melirik ke arah Mbah Abun, yang sedang mengobrol dan bercerita ketika dia masih muda.


Lama mendengarkan cerita Mbah Abun semasa muda, akhirnya kopi panas pun keluar dibarengi dengan goreng Uli yang terlihat masih mengepul, Bahkan bukan hanya goreng Uli saja, pisang kukus pun dihadirkan membuat orang-orang yang mengobrol semakin merasa betah menunggu waktu pagi tiba.


Begitupun dengan Ranti yang dipaksa untuk mengisi perutnya, dengan makanan yang ada. setelah itu kemudian dia pun disuruh tidur tidak boleh ikut memikirkan hal yang tidak-tidak. maksudnya agar dia bisa tenang agar besok bisa memberikan kesaksian yang jelas dan benar untuk menentukan Siapa orang yang akan menerima hadiah sebagai juara sayembara.


Mendapat perintah dari ibunya, Ranti tidak menolak karena dia pun merasakan kelelahan, seperti baru pulang Berjalan jauh. dengan segera dia pun masuk ke dalam kamar, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur yang terasa empuk, terlentang semaunya, sendiri matanya terlihat bergerak-gerak menatap ke arah langit-langit kamar. pikirannya terbang melayang ke mana-mana, mengingat-ingat waktu yang sudah terlewat.

__ADS_1


"Alhamdulillahirobbilalamin, Terima kasih ya Allah. akhirnya hamba bisa berkumpul kembali dengan keluarga, berkumpul lagi dengan orang tua. tapi kenapa harus ada bahan pikiran seperti ada masalah yang akan menjadikan perpecahan. Ya Allah kenapa Kang Galih menjadi orang yang serakah, Kenapa Kang Daus menjadi kasar dan tidak bisa berpikir ketika mau bertindak. dan aku tidak menyangka Bapak Surya Jaya sampai harus meninggal. Ya Allah semoga engkau mengampuni segala dosanya dan menerima semua amal kebaikannya," begitulah gumam hati Ranti yang merasa bingung harus bagaimana menghadapi hari esok. soalnya Mbah Abun sudah mengambil keputusan bahwa besok dia ditunjuk sebagai Hakim untuk memutuskan satu persoalan yang sangat rumit, walaupun sebenarnya Ranti belum mengetahui akar permasalahannya seperti apa.


Memikirkan kejadian yang akan Ranti hadapi, membuat kepalanya terasa pening bahkan pelipisannya terasa mengenut, karena tidak menemukan jawaban dari apa yang harus ia kerjakan besok pagi. hingga akhirnya Ranti pun terlarut dalam lamunan membuka halaman-halaman yang sudah dia lalui, mengingat-ingat cerita-cerita yang baru saja dia lewati.


Lembaran-lembaran cerita kehidupan Ranti terus dibuka hingga akhirnya dia pun bisa melihat jelas kejadian yang dia alami, dimulai dari membuka lemari ketika kedua orang tuanya Pergi menghadiri undangan ke kota, padahal waktu itu Mbah Abun dan Abu Yayah menemui aki Sobani untuk mencelakai Sarman.


Dari lemari itu Ranti menemukan ruas bambu Tamiang, namun ketika dia mengambil lalu mengusap-ngusap bambu yang dipenuhi dengan ukiran, tiba-tiba bambu itu terbelah hingga terlihatlah baju hitam mengkilat seperti Sutra.


Dari rasa penasaran dan rasa kagum dengan kecantikan baju jimat itu, Ranti pun memakainya hingga dia pun loncat ke halaman rumah yang diikuti dengan tangkai-tangkaian kesedihan, kesengsaraan dan penyesalan, berantai-rantai kesulitan terus menghinggapi, begitu pula dengan rasa perih yang memenuhi dada.


Tiba-tiba Ranti terperanjat bangun dari tempat tidurnya, dia merasa tidak enak untuk berdiam diri seperti itu, ingin segera bertemu kembali dengan pemuda yang bernama Eman. dalam khayalannya tergambar jelas ketika Pemuda Sukaraja itu disiksa oleh Jana. dan terlihat kembali ketika Eman mau dibunuh oleh Surya Jaya menggunakan pisau belati, hingga akhirnya dia menjauh tidak bisa bersama kembali.


"Kang Eman, di mana Akang sekarang. bagaimana nasib akang sekarang, ya Allah semoga engkau melindungi Kang Eman, semoga Engkau mempertemukan hamba kembali dengannya, ya Allah....!" begitulah curahan hati Ranti akibat dari rasa khawatir yang membelenggunya.

__ADS_1


Ranti terus mengingat keberadaan Eman yang sudah ketahuan isi di dalam hatinya, yang sudah Terasa kasih sayangnya dan sudah terasa kebaikannya.


Aneh hati Ranti ketika mengingat Eman seolah tidak bisa disingkirkan, hatinya selalu mengait dengan Pemuda Sukamaju itu, walaupun Eman memang bodoh, walaupun Eman sangat miskin, walaupun tubuh Eman sangat kucel dan dekil, ketika melihat dari ukuran lahir, tidak ada yang bisa diambil darinya. tapi batin Ranti yang sudah matang dalam latihan tidak bisa berpaling. kesucian hati Eman sudah Ranti rasakan, sudah Ranti saksikan, soalnya tanpa mengharapkan apapun Eman berani berkorban untuk dirinya.


Lama kelamaan mata Ranti terasa lengket, hingga akhirnya dia pun tertidur dengan lelap, lamunannya terbawa ke alam impian. di dalam impiannya dia bertemu dengan Eman dan ternyata dalam impian itu Eman berubah wujud menjadi pria yang sangat tampan dan gagah, ditambah wajahnya yang sangat ramah, murah senyum, orangnya sangat baik dipenuhi dengan kasih sayang, sopan dan santun, begitu yang dirasakan oleh Ranti ketika di alam impian.


*****


Kembali ke cerita Jana dan Dadun yang telah gagal membawa babi untuk disetorkan ke bah Abun, karena dibegal oleh Galih dan Saipul. waktu itu, keadaan sudah lewat dari tengah hari, karena matahari sudah berada di sebelah barat, cahayanya tidak terlalu panas karena terhalangi oleh awan putih yang menggumpal di langit. burung-burung terlihat berterbangan saling mengejar dengan teman-temannya, sambil mengeluarkan suara Kemieripit, menandakan tidak ada kesusahan dalam hidupnya.


Berbeda dengan kehidupan manusia yang terkena dengan sifat berpasang-pasangan. siang dan malam, rendah dan tinggi, untung dan rugi, susah dan bahagia, itu semua tidak bersatu, tapi tidak pernah berjauhan, selamanya terus berbarengan menggandeng kehidupan manusia.


Begitu juga dengan kehidupan Jana dan sahabatnya yang bernama Dadun, yang awalnya mereka sudah tebal keyakinan kalau usahanya akan membuahkan hasil, akan mendapat kebahagiaan yang tak terhingga. namun tiba-tiba mereka bertemu dengan kesedihan ditimpa dengan rasa susah, dipukul dengan rasa kecewa, ditindih dengan rasa sengsara.

__ADS_1


Yang jadi permasalahannya, Awalnya mereka sudah sombong bahwa usaha yang mereka kerjakan akan membuahkan hasil, tapi buktinya mereka hanya mendapatkan Lara dan kesengsaraan, soalnya babi yang sudah berada di genggaman tangan mereka direbut oleh Galih dan Saipul.


Waktu itu, Jana dan Dadun mereka terus berjalan dengan gontai, badannya terasa sakit seperti terpecah-pecah, tubuhnya terasa sangat remuk seperti terpatah-patah, bajunya terlihat sangat dekil akibat bertarung memperebutkan babi ngepet dengan pihak Galih.


__ADS_2