
Mendengar jawaban dari wanita yang baru dia temui, tubuh Jana merasa didorong masuk ke dalam jurang, merasa dipermalukan, merasa di tekan sampai tingkat paling bawah. Awalnya dia sangat sombong, Karena dia sudah merasa yakin bahwa dialah pemenangnya, namun sekarang kenyataannya berbanding terbalik, dia tidak menyangka akan mendapat serangan seperti itu, hingga akhirnya dia pun menundukkan kepala, wajahnya terlihat memerah, duduknya terasa melayang, akibat dari rasa malu yang memenuhi ubun-ubun.
Orang-orang yang berada di situ, terlihat bergumam saling mengumpat Jana, karena tadi Mereka melihat dengan jelas sikap Jana yang angkuh dan sombong, sekarang mereka seperti sedang membalas kesombongan pemuda Kampung Sukaraja itu.
"Kenapa kok Neng Ranti berbicara seperti itu, kira-kira dari siapa Jang Jana merebut babi itu?" tanya Mang sarpu yang masih penasaran.
"Ah, Mang sarpu tidak harus tahu merebutnya dari siapa, yang jelas Kang Jana tidak memiliki sifat Kesatria, tidak memiliki sifat yang jujur, tidak pantas untuk dijadikan jodoh saya, tidak pantas menjadi pemenang sayembara ini, tidak pantas mendapat hadiah. Bahkan dia harusnya bertanggung jawab karena dia sudah berani menyiksa orang yang tidak bertuah dan berdosa, bahkan saya sendiri tidak terlepas dari siksaan, saya diikat dengan kuat, tidak memiliki aturan, seperti tidak memiliki rasa dan perasaan."
Mendengar jawaban dari Ranti, kepala Jana semakin menunduk, Dadun terlihat menarik nafas dalam merasa kecewa, merasa ikut malu karena dia juga mengakui bahwa Jana bisa mendapatkan seekor babi hasil dari merampas.
Begitu juga dengan Mang sarpu, dia pun tidak berbicara lagi hanya kepalanya yang menggeleng-geleng, wajahnya pun memerah merasa malu oleh Mbah Abun.
"Lah, Lah, kenapa kok seperti ini, Jadi siapa yang harusnya menjadi pemenang sayembara ini?" tanya Mbah Abun yang dipenuhi kebingungan untuk menentukannya.
"Orang yang unggul dalam sayembara ini, orangnya tidak ada di sini, sama Ranti tidak akan dikasih tahu, takut ada orang yang menyakitinya kembali, karena sudah bisa terlihat jelas orang-orang yang mengikuti sayembara, semuanya sama jahatnya, semuanya kejam, tidak memiliki rasa kemanusiaan." jawab Ranti dengan tegas dan jelas, membuat orang-orang yang berada di situ terlihat kaget, namun mereka tidak berani berbicara karena mereka mengakui bahwa usaha yang mereka jalankan tidak sedikitpun memiliki kejujuran, sampai tega menyiksa orang lain yang terpenting dirinya berhasil.
__ADS_1
Pak Kulisi, Pak RT, pak RW dan sesepuh Kampung Ciandam Mereka terlihat manggut-manggut, mengerti dengan keadaan yang sebenarnya. Wira terlihat sedih begitupun dengan Galih, apa lagi Daus yang menggigit jari.
Sedangkan Jana dan Dadun mereka merasa seperti sedang dilempari kotoran, kedatangan mereka hanya untuk ditertawakan. hingga akhirnya kedua orang itu keluar dari rumah tanpa berpamitan terlebih dahulu. setelah berada di luar mereka bertiga pun berdiskusi kecil-kecilan, yang keputusannya mereka akan pulang ke kampung Sukaraja, dengan membawa hati yang sangat hancur dan malu.
Begitupun dengan Wira, yang meminta izin untuk pulang ke kampungnya, mau menyetorkan jasad Surya Jaya ke keluarganya.
"Abah.....! kalau begini saya pamit pulang terlebih dahulu, Terima kasih atas semua penyambutan Abah, Saya mau menyetorkan jenazah Mang Surya Jaya ke keluarga," ujar Wira dengan suara Parau, merasa sedih karena apa yang sudah dia kerjakan tidak membuahkan hasil, yang ada kerugian lah yang ia dapat.
"Silakan Jang, silahkan! Abah juga mohon maaf atas yang menimpa sama paman Ujang, dan terima kasih sudah ikut membantu mencari keberadaan Putri Abah." jawab Mbah Abun yang terlihat merasa kasihan.
"Mau bagaimana cara membawanya Jang?" tanya Zuhri setelah berada di samping Wira.
"Mau dipikul aja mang, karena uang saya sudah habis!" jawab Wira dengan polosnya.
"Sebentar dulu Jang, jangan buru-buru! kita menyuruh orang untuk menggotongnya, jangan dipikul! itu sangat tidak pantas Karena jenazah ini bukan jenazah di medan perang." Tahan pak Kulisi yang mendengar penjelasan dari Wira, dia tidak tega kalau harus mengizinkan jenazah Surya Jaya dibawa dengan cara di panggul, menurut pemikirannya itu sangat tidak hormat, seperti tidak ada perhatian dengan orang yang sedang kesusahan.
__ADS_1
"Iya Jang Wira, biarkan nanti Abah yang membayar orang-orang yang menggotongnya!" Timpal Mbah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia pun masuk ke dalam kamar. tak lama dia pun kembali sambil membawa uang, kemudian diserahkan ke pak Kulisi agar diatur sesuai porsinya.
Pak polisi pun bangkit kemudian dia mencari orang-orang yang sekiranya kuat untuk menggotong dan mengantarkan jenazah Surya Jaya ke kampung cipelang. tidak susah mencari selain melihat dari buruhnya, mereka juga memiliki tanggung jawab untuk menolong orang yang sedang terkena musibah.
Orang-orang yang tadi menonton, Mereka pun disibukkan dengan membuat keranda dadakan, agar tubuh Surya Jaya bisa dibawa dengan layak. Setelah semuanya selesai, orang orang pun mulai berangkat dengan menggotong tubuh Surya Jaya yang sudah tidak bernyawa menuju ke kampung cipelang.
Setelah mengantarkan orang yang meninggal dengan tatapan, orang-orang yang berkumpul di rumah mbah Abun perlahan mulai kembali ke rumah masing-masing, tidak Terus tinggal di tempat itu. begitu juga dengan Daus yang terlihat menjauh, bahkan dalam hatinya sudah berjanji dia tidak ingin melihat kembali wajah Ranti karena sudah kalah telak. Begitu juga dengan Galih dan Saipul yang pulang ke rumah Galih, sambil membawa hati yang terasa panas, merasa dendam terhadap Ranti karena dia tidak bisa menghargai pengorbanan yang begitu luar biasa, yang sudah habis-habisan mereka keluarkan.
Hingga akhirnya di rumah mbah Abun kembali sunyi, hanya ada Ambu Yayah, Mbah Abun dan Ranti yang masih duduk di tengah rumah. Mereka terlihat terdiam melamun seperti orang yang sedang bingung, karena masih belum ada keputusan siapa orang yang berhak menerima hadiah.
Lama-kelamaan Mbah Abun merasa penasaran, hingga akhirnya dia pun bertanya sama Ranti yang menjadi anaknya.
"Nyai.....!" Panggil Mbah Abun yang masih merasa penasaran, karena dia juga belum tahu siapa orang yang dimaksud oleh Ranti orang yang berhak menerima hadiah sayembara.
"Iya ada apa Abah?" jawab Ranti sambil melirik ke arah bapaknya.
__ADS_1
"Abah terpaksa mengadakan sayembara, soalnya Abah sudah putus asa, tidak bisa menemukan Nyai, karena tidak jelas kemana arah perginya. Nah sekarang kamu sudah kembali ke rumah dengan keadaan selamat, Tapi orang yang unggul dalam sayembara ini belum ketemu. coba tolong kamu jelaskan sama Abah Siapa orang itu, karena sekarang sudah tidak ada orang lain selain kita. coba tolong jelaskan!" begitulah pertanyaan Mbah Abun sambil menatap lekat ke arah Ranti, seolah ingin tahu isi di dalam hati anaknya.