
Sedangkan Marni dengan segera dia pun masuk ke dalam rumah, kemudian menyimpan seeng ke atas tungku untuk memasak air panas, sambil menghangatkan nasi siang.
Kira-kira waktu sore setelah terdengar bedug magrib yang dipukul dari arah mushola. mang Sarpu beserta keluarganya berkumpul di ruang tengah, duduk di kursi sambil menghadapi pisang kukus yang berada di atas meja.
Kehidupan keluarga mang Sarpu terlihat sangat tenang dan santai, karena semua kebutuhan rumah tangganya sudah tercukupi. bahkan waktu itu mang sarpu terlihat menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, di tangannya ada rok0k putih yang mengepul mengeluarkan asap, sesekali rok0k itu dihisap sehingga kepalanya dipenuhi dengan asap putih yang mengepul, sesekali dia menyeruput kopi yang berada di dalam gelas mugh.
"Oh iya, bagaimana urusan babi itu bapak?" tanya Marni mulai mengawali pembicaraan, dia menanyakan tentang babi jadi-jadian yang tadi malam ditunda di dalam Pendaringan padi.
"Gagal.....! baju jimatnya tidak bisa dibuka karena ada orang yang mengintip, membuat Bapak sangat kecewa. padahal itu tinggal sedikit lagi tapi malah gagal.....!" gerutu Mang Sarpu sambil menyeruput kopinya.
"Terus sekarang dikemanakan?"
"Apanya?"
"Ya babinya lah kang!" tanya Marni yang belum mengetahui kejadian sebenarnya, karena tadi malam dia diungsikan ke rumah orang tuanya, agar ritual penyembuhan Ranti tidak ada yang mengganggu.
"Yah, dibawa ke Ciandam."
"Di bawa sama siapa?"
"Sama Jang Jana dan Jang Dadun," jawab Mang Sarpu menjelaskan.
"Lagian Akang Kerajinan amat, pakai mau-mauan mengurusi anak orang lain. kalau Akang mau mengurus, uruslah anak Akang sendiri, tidak harus mempersulit kehidupan." ujar Marni yang tidak setuju, karena dia merasa cemburu ketika melihat mang Sarpu yang sepenuh hati membantu Jana dan Dadun.
__ADS_1
"Lah kenapa kamu berbicara seperti itu? Kan kemarin juga Akang sudah jelaskan, babi itu bukan babi sembarangan tapi babi dua barangan, babi jadi-jadian, babi ngepet yang berasal dari Ciandam. Akang ingat sama Mbah Abun, Sahabat Sejati Akang yang sudah sangat besar jasanya. jadi menolong Jana dan Dadun bukan hanya sekedar menolong mereka, tapi sekaligus menolong sahabat Akang yang bernama Mbah Abun."
"Iya Marni ngerti....! tapi lain kali jangan mau lagi menolong mereka, mending kalau kita mendapatkan untung." jawab Marni yang tetap menggerutu.
"Ya Enggaklah, kan babinya juga sudah tidak ada." jawab Mang Sarpu sambil menekuk wajah, karena pekerjaannya selalu mendapat penolakan dari sang istri.
Keadaan pun menjadi Hening, yang terdengar hanya suara jangkrik dan belalang yang terdengar dari samping rumah. langit terlihat mendung, tidak ada bintang yang terlihat. Angin Malam bersemilir menerpa dedaunan, menimbulkan suara kemrosok dan kemresek, bergoyang mengiringi suara kodok dan katak yang terdengar dari arah sawah.
Dalam keadaan yang seperti itu, di luar rumah Mang sarpu terlihat ada dua bayangan manusia yang sedang berjalan mendekat ke arah halaman rumah. setelah sampai mereka pun terlihat berdiri, yang satu orang naik ke atas teras lalu mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
"Sampurasun!"
"Rampes...!" jawab Mang sarpu yang terdengar dari dalam, kemudian dia pun berjalan mendekat ke arah pintu.
Pintu pun terbuka, sehingga cahaya Lentera pun memancar ke arah luar, terlihatlah Jana dan Dadun yang berdiri di ambang pintu.
"Ternyata kalian sudah datang, Ayo masuk ke dalam Jang!" Ajak Mang Sarpu yang terlihat sumringah, karena dia sudah tidak sabar ingin segera mengetahui masalah babi yang tadi malam berada di rumahnya.
Mendapat sambutan yang begitu ramah, dengan segera Jana dan Dadun pun masuk ke dalam, kemudian mereka pun duduk di kursi yang berada di ruang tamu.
"Tadi pergi ke mana mang, soalnya saya tadi sore ke sini tidak ada orang?" tanya Jana sambil menatap ke arah tuan rumah.
"Lah kok Ujang sudah datang ke rumah dari tadi, emang jam berapa pulang dari Ciandam Jang?" tanya Mang sarpu sambil mengerutkan dahi, tidak mengerti dengan apa yang terjadi kepada tamunya, karena menurut pengetahuannya jarak tempuh dari Ciandam ke Sukaraja lumayan sangat jauh, apalagi dengan membawa bawaan yang berat. Jadi kalau mereka pulang pergi paling nanti malam mereka baru sampai kembali ke kampung Sukaraja.
__ADS_1
"Justru itu mang saya datang ke sini. Saya tidak jadi ke Ciandam karena ada penghalang di jalan, makanya saya cepat-cepat datang ke sini, ingin segera laporan sama Mamang, Namun sayang mamangnya tadi tidak ada di rumah." jawab Jana menjelaskan.
"Lah kok seperti itu, bagaimana ceritanya?" tanya Mang sarpu yang semakin merasa penasaran.
Ketika Jana mau menjawab lagi, terlihatlah Marni yang keluar dengan memasang wajah yang masam, kemudian dia pun duduk di samping suaminya, membuat Jana terlihat ragu-ragu ketika dia hendak menceritakan semua pengalaman yang baru saja menimpanya.
Namun meski penyambutan Marni kurang baik, Jana tetap memberanikan diri untuk menceritakan semua yang terjadi tadi siang, karena ada Mang sarpu yang terlihat sangat Sigap ketika mendengarkan cerita yang dibawakan oleh Jana. berbeda dengan istrinya yang terlihat memajukan bibir seolah tidak suka, soalnya dia sudah bisa menebak akan ada keributan, akan ada orang yang mengganggu suaminya. tapi walaupun seperti itu dia tidak ikut nimbrung, hanya wajahnya semakin ditekuk, seperti orang yang sedang menjual tutut.
"Celaka Mang! kebahagiaan yang sudah berada di dalam genggaman tidak bisa diwujudkan."
"Kenapa kok bisa seperti itu Jang?"
"Babi itu tidak bisa membawa keberuntungan Mang, karena ada orang yang merebutnya di perjalanan." jawab Jana sambil menundukkan kepala menahan rasa pilu dan rasa kesal.
"Ada yang merebut Bagaimana Jang?" tanya Mang sarpu yang semakin terlihat penasaran.
"Begini mang ceritanya!" dengan segera Jana pun menceritakan pengalamannya yang tadi siang dia alami, semuanya diceritakan dengan detail dan sangat rinci agar Mang Sarpu bisa mengerti, sehingga akan mudah ketika dia mau meminta tolong.
Mendengar cerita yang dibawakan oleh Jana, membuat Mang sarpu terdiam dan berpikir ikut merasakan rasa pilu yang dirasakan oleh Jana, ikut merasakan rasa kecewa yang tak terhingga. soalnya keberhasilan yang sudah di depan mata, bahkan sudah berada di dalam genggaman, tidak bisa dinikmati keberhasilannya.
"Haduh....., Siapa orang yang memiliki pekerjaan yang sangat tega seperti itu, kira-kira mereka orang mana, rasanya sangat kebangetan sekali, tidak menghargai perjuangan orang lain!" ujar mang Sarpu yang ikut marah, soalnya terlihat dari raut wajahnya yang memerah seperti besi mentah bakar.
"Yang paling muda kayaknya itu orang Ciandam Mang, namun yang tuanya saya belum tahu dia orang mana, karena saya baru pertama kali bertemu dengannya!" jawab Jana menjelaskan.
__ADS_1
"Terus rencana Ujang bagaimana?"