
"Perkenalkan nama saya Nadia tuan."
Ansel menatap Nadia ssekilas kemudian duduk di kursi kebesaran nya.
"Baiklah apa kau sudah tau kalau kau disini bekerja menjadi sekertaris saya, dan kamu tau kan siapa saya disini." Ucap Ansel berkata dengan sedikit angkuh memamerkan jabatan yang dia punya kepada Nadia."
Huh angkuh sekali orang yang akan menjadi boss saya ini.
"Iya tuan saya tau, anda seorang presiden direktur disini." Sambil berusaha tersenyum manis kepada Ansel yang akan menjadi boss nya itu.
"Baiklah persiapkan dirimu, nanti kamu akan menemani saya menemuni investor diluar."
"Baik tuan." Balas Nadia singkat.
Sementara hrd yang menemani Nadia ke masuk kedalam ruangan, sudah pergi terlebih dahulu tadi .
Sekarang tinggallah mereka berdua di dalam ruang itu, ruang tersebut terasa sangat mencekam, seketika udara panas datang sedikit keringat keluar dari kulit Nadia. Padahal disana sudah ada ac tapi Nadia merasa panas didalam ruangan tersebut.
"Kau kenapa? grogi masak kayak gini ajah kamu udah keringat dingin kayak gitu." Sambil menunjukkan air muka yang tidak ada ekspresi sama sekali.
Nadia yang melihat itu langsung tertunduk malu, langsung menyeka keringat diwajahnya.
"Baiklah kau boleh keluar." Ucap Ansel kepada Nadia.
Nadia keluar dan berjalan menuju pintu.
__ADS_1
Ckelek.
Pintu terbuka Nadia menarik napas dalam ketika sudah berada didalam ruangannya.
Tarik hembuskan.. Tarik lagi hembuskan.
huh.
Nadia kemudian menatap berkas berkas yang telah diletakkan dimejanya, entah siapa nadia tidak tahu siapa yang meletakkan semua kertas kertas putih ini, sudah menumpuk dimeja kerjanya.
Dipikir Nadia mungkin semua ini sudah lama tidak dikerjakan, sampai bisa menumpuk seperti ini.
Tidak terasa sudah dua jam nadia bekerja di perusahaan ini, tidak terlalu sulit untuk Nadia lewatkan, toh ini lebih baik menurut Nadia dari pada dia harus bekerja sebagai pencuci piring dan menjadi guru less yang bayarannya, untuk makan saja tidak cukup.
Tiba tiba suara bunyi telpon yang ada didalam ruangannya berbunyi dan mengagetkan dirinya yang sedang pokus mengerjakan semua berkas yang dimejanya.
"Buatkan saya kopi sekarang." Ucap Ansel kemudian langsung menutup telpon tanpa mendengar jawaban dari lawan bicaranya.
Nadia mengenali suara tersebut dia adalah peredir yang menjadi boss Nadia saat ini.
Nadia kemudian langsung membuatkan Ansel kopi .
Pak presdir biasanya suka kopi yang agak manis atau manis banget ya, ahhh aku jadi binggung, aku takut salah.
Akhirnya setelah berpikir cukup keras, Nadia kemudian membuatkan kopi dengan rasa yang tidak terlalu manis namun juga tidak terlalu pahit.
__ADS_1
Kopi sudah siap, Nadia berjalan menuju ruangan presdir.
Tok tok.
"Masuk." Nadia kemudian masuk dan meletakkan kopi buatannya didepan pak presdir.
"Ini buatan kamu."
"Iya tuan ini buatan saya, semoga tuan suka." Sambil tersenyum dan kemudian langsung menundukkan wajahnya.
Ansel menghirup kopi itu, dan langsung memuntahkannya kelantai.
Nadia yang melihat itu memang sudah menganwanti wanti, akan hal ini dan benar saya itu memang terjadi.
Nadia langsung mengambil kan tissu yang ada didalam ruangan itu dan menyerahkan kepada peresdirnya Ansel.
"Maafkan saya tuan, akan saya buatkan lagi yang baru, saya tidak tahu selera tuan itu bagaimana? boleh saya tahu?."
"Sudah pintar memintak mintak kamu ya, padahal masi baru."
"Bukan seperti itu tuan, saya hanya tidak ingin anda berasa tidak nyaman." Jawab Nadia.
"Ini terlalu pahit saya mau kopi yang manis namun tidak mengurangi rasa pahit yang ada di dalam kopi tersebut." Sarkas Ansel sambil agak sedikit berteriak.
"Baik tuan."
__ADS_1
Nadia kemudian keluar dan langsung menuju pantry dia membuat ulang kopi sesuai pesaan presdir Ansel.