
Nadia mengaduk aduk kopi yang dia buat itu, sesekali dia icip icip rasanya, ketika dirasa sudah pas Nadia lalu meletakkan kopi tersebut kedalam nampan plastik.
Berjalan menuju ruangan persdir agak sedikit gugup tapi Nadia berusaha memberanikan diri mengumpulkan segenap rasa keberanian yang dia milikki melangkah dan melangkah sampailah Nadia di didepan pintu.
T**ok tok**.
"Masuk."
Suara Ansel terdengar dari dalam, Nadia masuk melangkah menuju meja dan meletakkan kopi buatannya yang kedua ini didepan Presdir Ansel.
Setelah meletakkan kopi Nadia melangkah tiga langkah kebelakang sambil menunduk kan kepala, sesekali melihat kearah Ansel.
Ansel menghirup dan meminum kopi tersebut.
Nadia melihat itu, dilihat seperti tidak ada penolakan dari Ansel, hati nadia sedikit lega melihatnya.
"Hemm.. ini baru pas." Sambil meminum lagi kopi tersebut.
Nadia langsung keluar dari ruangan Presdir Ansel dan langsung menuju ruangannya menyelesaikan kembali berkas berkas yang belom dia selesaikan akibat panggilan telpon.
Huh.
Terdengar desahan Nadia. mengaduh menghadapi sikap bossnya itu.
Kembali berkutik lagi dengan semua berkas yang masi menumpuk di meja kerjanya.
Dilihat jam sekarang sudah menunjukkan waktu jam makan siang nadia langsung menuju ruangan Presdir Ansel, tak lupa juga Nadiah mengetuk pintu ruangan.
"Permisi tuan selamat siang, mohon maaf mengganggu waktu anda, saya kesini hanya ingin mengingatkan bahwa ada pertemuan bersama klien hati ini."
__ADS_1
"Wah wah, udah hebat kamu yah, baru ajah masuk kerja hari ini kamu seperti sudah tau saja apa yang harus kamu lakukan." Sambil tersenyum licik dan bertepuk tangan.
"I.. ya tuan karena itu emang sudah menjadi tugas saya sebagai sekertaris anda." Berbicara apaadanya dan agak sedikit terbata bata.
"Baiklah waktu kita tidak banyak, mari kita berangkat sekarang." Ucap Ansel kepada Nadia.
Nadia mengikuti Ansel dari belakang, mereka sekarang sudah masuk kedalam ruangan segi empat tu yang mengarah kelantai dasar.
Nadia menunggu didepan gedung kantor, sementara Ansel sedang mengambil mobilnya di basement.
Mobil sudah melaju menuju tempat dimana nadia berdiri saat ini, diam diam Ansel ternyata menatap Nadia.
*T***it tit
Suara klakson mobil memecahkan lamuan Nadia yang sedang bengong.
"Ayo masuk, nanti kita terlambat kalau kamu tetap berdiri terus disana."
Nadia duduk bersebelahan dengan Ansel, rasa canggung mulai melanda di dalam mobil tersebut tidak ada yang memulai pembicaraan.
Akhirnya Nadia memecahkan keheningan tersebut.
"Kalau boleh tanya, dimana kita akan bertemu dengan klien itu tuan."
"Ikuti saja, kamu cukup diam disini tak usah banyak bicara, nanti juga kamu tau dimana kita akan bertemu dengan klien tu." Sambil menunjukkan wajah yang tidak bisa ditebak.
Dih ni manusia apa batu es sih, dingin banget ditanya dikit langsung ngegas, biasa ajah coba akukan cuman nanya. Bergumam dalam hati
"Heiii jangan mengupat." Sambar Ansel yang melihat kearah Nadia yang seperti sedang berkumur kumur.
__ADS_1
Ehh? dari mana dia tau? kalau aku sedang mengupati dirinya?
"Ti..dak." Sambil membuang muka ke sembarang arah agar wajah kesalnya tidak dilihat oleh Ansel.
Mereka pun sudah sampai didepan loby hotel bintang 6 di kota A.
Ansel keluar lebih dulu yang disusul oleh Nadia. Mereka berjalan menuju lift Ansel menekan lantai nomor 7, lift tersebut berjalan menuju lantai yang mereka tujuh, sampailah mereka disebuah restoran yang sudah disulap dengan sedemikian rupa sehingga sangat cantik dan nyaman jika dinikmati dan dipandang.
Seorang pelayan wanita menghampiri mereka berdua, disana Ansel dan Nadia seperti nya datang lebih awal dari pada klien mereka.
Jadi mereka memesan minuman terlebih dahulu sambil menunggu para Cliennya datang.
Tidak beberapa lama minuman pesanan Nadia dan Ansel sudah mendarat dihadapan mereka, tapi orang yang ditunggu tidak kunjung datang.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya orang yang mereka tunggu datang.
"Selamat siang. Maaf sekali tadi ada kendala sedikit di jalan, jalanan diibu kota sangatlah macet jadi kami mintak maaf karena telah membiarkan anda menunggu cukup lama." Ucap seorang salah satu klien mereka.
"Siang, oh tidak papa tuan, kami juga baru saja datang."
"Baiklah mari kita mulai." Ucap Ansel.
Nadia masi menyimak semua yang mereka bicarakan sambil sesekali meminum jusnya.
Setelah berbicara cukup lama, akhirnya ada keputusan final.
"Baiklah saya akan menanamkan saham kami kepada perusahan anda sebesar 30%, bagaimana." Ucap seorang clien.
"Baiklah kami setujuh."
__ADS_1
Nadia kini sudah menyerah kan semua berkas berkas yang harus mereka tanda tangani sebagai bukti, kalau mereka sudah mengadakan kerja sama.