
Semua berkas kerja sama sudah ditanda tangani oleh pihak clien dan juga pihak Ansel.
"Baiklah sebaiknya kita pesan makan terlebih dahulu, saking asiknya kita jadi melupakan makan siang." Ucap Ansel kepada cliennya.
"Baiklah kami juga belom makan siang." Ucap seorang clien, yang sepertinya adalah bosnya.
Niko memanggil seorang pelayan untuk mendekati meja mereka, pelayan laki laki itu tergopo gopo berlari kecil mendekati meja mereka.
"Permisi tuan ini buku menunya." Sambil memberikan buku menu yang ada di tangannya satu persatu kepada mereka.
Ansel, Nadia beserta clien mereka, memasan menu sesuai selera masing masing.
Pelayan laki laki itu segera menyerahkan sebuah kertas berupa pesanan tamu yang baru saja dia teke order kepada pihak kasir, agar pihak kasir bisa menulis pesanan tamunya dilayar cumputer, dan sebuah print kecil sudah mengeluarkan semua pesanan tamunya di kitchen.
Makanan sudah keluar dari balik bilik kecil, dan langsung disambut oleh seorang waither, waither itu langsung menaroh semua pesanan tamunya disebuah trolly yang berbentuk persegi empat dengan banyak tingkatan diatasnya, trolli pun didorong menuju meja makan tamunya.
"Permisi tuan, nona ini pesaannya." Ucap seorang waither, sambil meletakkan pesaan.
***
Nadia sedang menunggu Ansel dilobby, sementara Ansel lagi berada di basement Nadia membuka hpnya dan melihat sudah banyak notip pesan dari Adel dan 10 panggilan tak terjawab.
Nadia mengernyitkan alisnya, pasalnya Adel sahabat nya tu jarang sekali menyepam dirinya seperti itu, kalau tidak dalam keadaan darurat atau buruk.
Nadia pun memberiarkan itu terlebih dulu, karena mobil Ansel sudah berada didepan lobby Nadia tidak mungkin menyuruh bos yang baru satu harinya itu marahkan padanya.
"Lama banget sih, kamu gak liat aku dari tadi kalson kamu hah." Sarkas Ansel, yang berhasil membuat bulu kuduk Nadia meremang.
"M.. aaf tuan." Ucap Nadia yang sambil menundukkan kepalanya.
"Hem."
Mobil sudah melaju dengan kecepatan sedang, Ansel melirik Nadia yang kini sedang asik menatap layar ponselnya.
Ansel merasa risih, karena dirinya merasa dicuekin, padahal kan nadia seperti itu hanya ingin menghilangkan rasa takutnya berada disamping Ansel.
"Heii, aku bukan supir kamu kali, ajak bicara kek, apa kek diam ajah, kayak aku sedang ajak boneka jalan jalan ajah." Ucap Ansel, yang terlihat seperti orang yang sedang cemburu.
"Duhh maaf tuan, saya salah lagi yah." Ucap Nadia.
sebenarnya mau kamu itu apa sih bos. gumam nadia dalam hati.
__ADS_1
Ansel tidak menjawab perkataan Nadia, gadis itu jadi tambah takut dibuatnya.
cantik juga, sekretaris yang pilih ini.Gumam Ansel.
"Kita mau kemana tuan, bukannya ini masi jam kerja." Ucap Nadia yang binggung karena sekarang mereka sedang berhenti disebuah mall.
"Udah ikut ajah, boss kamu siapa." Tanya Ansel.
"Tuan muda Ansel." Ucap Nadia dengan cepat.
"Nah jadi jangan protes, ikutin ajah oke." Sarkas Ansel, yang berhasil membuat Nadia bungkam.
Nadia mengangguk sambil berjalan terus mengikuti langkah Ansel.
"Tuan pelan pelan jalannya, aku susah nih, menyeimbangkan jalannya, soalnya langkah tuan cepat." Ucap Nadia, sambil membusungkan bibirnya kedepan.
"Iya iya, lambat banget sih jalannya." Sambil terus berjalan.
Ansel berenti disebuah toko jam tangan, dilihat Ansel dari samping kiri kanan tapi tidak melihat keberadaan Nadia, lalu Ansel menoleh kebelakang dan melihat Nadia yang masi berjalan, seperti Nadia sedang kesakitan.
Kenapa dia, sepertinya dia sedang kesakitan sekarang. Gumam Ansel yang melihat dari jauh Nadia.
Ansel kemudian berjalan cepat menghampiri Nadia.
"Kakiku sakit, seperti lecet tuan." Ucap Nadia yang seperti ingin menangis.
Tidak butuh pikir panjang, Ansel lalu menggendong tubuh mungil Nadia, dan menyadarkan kepalanya dibahu bidang Ansel.
"Tuan turunkan saya, saya masi bisa berjalan."Ucap Nadia yang sedikit memberontak, malu karena ini baru pertama kalinya bagi Nadia di gendong seorang laki laki, apalagi ini ditampat umum, banyak pasang mata melihat mereka saat ini.
Namun Ansel seaakan tidak perduli dengan tatap orang orang yang melihat mereka.
"Udah diam, cerewet banget sih, kamu jangan seneng dulu, saya kayak gini karena saya tu gak mau lihat kamu jalannya kayak siput, lambat." Ucap Ansel yang sedikit membentak Nadia.
"Baiklah." Ucap Nadia sambil memannyunkan bibirnya.
Ansel diam diam menatap wajah Nadia.
Gemes banget sih liat kamu kayak gitu, pengen cubit pipi. Ucap Ansel yang menutupi senyuman nya.
"Duduk disini ajah, jangan kemana kamana aku mau pilihin jam dulu buat papa aku." Kemudian Ansel meninggalkan Nadia sendiri duduk disopa, sementara Ansel saat ini dia sedang memilih jam tangan yang cocok dan sesuai untuk papanya, karena kemaren sewaktu ulang tahun papanya, Ansel tidak sempat membelikan kado karena sibuk dengan pekerjaan nya.
__ADS_1
"Nih buat kamu." Sambil menyodorkan sebuah paper bag kecil kepada Nadia.
Nadia mengangkat alisnya sebelah.
"Apa ini? untuk apa tuan?" Ucap Nadia yang merasa binggung.
"Iya jam tangan lah, terus apa lagi, ini hadiah buat kamu karena telah sukses menarik para clien untuk mau kerja sama dengan perusahaan saya." Ucap Ansel yang acuh tak acuh, padahal dia yang memberi, tapi seolah seperti Nadia yang mengemis minta hadiah.
"Hem baiklah, terima kasih hadiahnya tuan mida." Ucap Nadia yang sedikit membungkuk kan badannya.
"Iya iya biasa aja, aku emang orangnya baik, jadi tidak heran sihh kamu bilang seperti itu." Ucap Ansel yang sedikit membusungkan badannya dan menepuk dadanya.
Nadia yang melihat itu, rasanya ingin tertawa, bossnya terlalu PD.
"Apa tuan sudah menemukan jam tangan yang pas untuk papa tuan." Ucap Nadia sambil tersenyum.
"Sudah ini kamu pegang." Sambil nyodorkan jinjingannya kepada Nadia.
Ansel mengangkat tubuh Nadia lagi, dan menyadarkan kepalanya tepat didepan dada bidang Ansel.
"Tuan, kaki saya sudah membaik, sebaiknya saya turun nanti tuan kecapekan tubuh saya beratkan."Ucap Nadia yang sedikit melebih lebihkan kebenaran.
"Berat apanya, endeng gini berat kamu itu yah, palingan cuman 40 kilo beras." Sarkas Ansel yang berbicara asal.
Huh.
Nadia mendengus mendengar penuturan Ansel.
Tit.. tit.
Suara bunyi mobil, Nadia sudah diduduk kan di kursi tepat disamping Ansel, berjalan dan duduk di kemudi, belanjaan sudah diletakkan dikursi belakang.
"Kamu haus tidak." Tanya Ansel.
"Tidak tuan." Sambil menggeleng.
Mobil sudah melaju menuju kantor saat ini, sepanjang jalan banyak orang wara wiri menjual minuman dingin, tissu dan semacamnya di lampu merah.
Nadia terlihat ibah saat sedang melihat anak jalanan yang sedang mengamen untuk menafkahi kehidupan sehari harinya.
Seketika Nadia jadi teringat dengan anak anak didik nya, yang pernah dia ajar dulu.
__ADS_1
Mobil sudah sampai di kantor, Nadia turun dengan dibukakan pintu oleh Ansel walau dari dalam mobil.
Ansel sedang memparkirkan mobilnya dibasement kantor, Nadia menunggu di depan lobby.