
"Wahhh nona, anda hebat sekali, saya baru pertama kali dibentak dan itu dengan seorang wanita seperti anda nona, bisa mulut anda diam sebentar atau mulut anda mau saya segel." Ansel kesal melihat dirinya yang dibentak, apalagi ini dia bentak oleh seorang wanita, sungguh sangat menyebalkan sekali bukan.
"Segel saja, saya tidak takut." Bukannya takut, Nadia jadi balik mengaancam Ansel, yang dimana semakin membuat Ansel marah dan murka, karena ada seorang gadis yang berani sekali membalas perkataannya.
"Owhh, mengejutkan sekali nona, anda bukannya takut malah semakin menjadi jadi rupanya, apa anda tidak takut kepada saya, saya atasan anda bisa saja saya meemecat kamu hari ini karena perkataan kamu yang membuat saya jengkel, kesal, marah." Ansel dengan segenap hatinya berteriak dihadapan Nadia, yang membuat nyali Nadia semakin menciut karena, mendengar perkataan dipecat.
"Iya saya tidak takut kepada anda, saya hanya takut kep..."
Belom sempat Nadia Melanjutkan omongannya, mulut Nadia sudah di bekap terlebih dulu oleh Ansel.
"emmmm, lepas." Nadia mencoba melepaskan ciuman Ansel yang membuat Nadia takut, di pukul pukul Nadia perut dada tangan, namun tidak berhasil kekuatannya tidaklah sebanding dengan kekuatan Ansel yang mempunyai badan yang besar dan kekar.
"Diam, atau saya akan lakukan hal yang lebih dari ini kamu mau" Ansel berbicara membentak Nadia, sambil terus mencium bibir Nadia.
Nadia yang ketakutannya memikirkan hal apa lagi yang akan dia lakukan akhirnya terpaksa diam dan memejamkan matanya, menikmati sentuhan bibir yang berikan Ansel.
Ansel menatap Nadia yang memejamkan matanya, sebuah senyuman telukis dibibir Ansel, ketika melihat kepolosan yang tunjukkan Nadia, tulah sebabnya Ansel memilih Nadia sebagai pasangan nya walaupun tuk sementara hanya pernikahan kontrak.
"Sekarang apa kamu masi berani macam macam kepada saya."sambil melepaskan ciuman dibibir mereka.
Nadia belom menjawab dia masi menstabilkan pikirannya dan degep jantungnya yang berdegup sangat kencang hampir menyurapi seperti pacuan kuda.
Beginikah rasanya berciuman, ternyata tidak seburuk yang aku pikir, rasa bibirnya manis, napasnya juga harum, oehhh.Batinnya.
__ADS_1
"Hahaha, ternyata kamu belom pernah berciuman, berapa usiamu sekarang." Ansel tertawa dengan nada mengejek, yang membuat Nadia maluu dan akhirnya Nadia beralih posisi duduknya agar, Ansel tak dapat melihat wajah nya.
"S____aya 22 dua puluh dua tahua, memang kenapa ada yang salah jika seorang wanita belom pernah berciuman hah." Nadia menekankan kata berciuman disini.
"Hahah tidak, heran saya, dikota yang sebesar ini, tapi nona Nadia yang dibilang cukup cantik, namun belom pernah berciuman, hahah lucu sekali" Ansel masi tetap saja mengejek Nadia sekarang.
Ansel pun mendekati Nadia lagi dan...
Cupp.
Ansel mencuri ciuman lagi dari Nadia, sambil merangkul pinggang Nadia, karena saat ini mereka sedang duduk.
"Tuan lepas..." Nadia ingin menganis bagaimana dia bisa terjebak didalam situasi yang sangat menyebalkan ini.
"Diam." Ansel berbicara dengan nada dinginnya, atau lebih tepatnya membentak agar gadis itu nurut kepadanya.
Ansel yang kesal dari tadi di hanya terus akhirnya diapun marah kepada Nadia, sumpah demi apapun Ansel sama sekali tidak berniat membuat gadis itu menangis atau membentak nya.
Ansel yang merasakan bibir Nadia seperti candu baginya, hingga tak sadar dia telah membuat gadis lugu tak berdosa seperti Nadia menangis.
Suara isak tangis Nadia, membuat Ansel yang tadinya seperti ingin memakan Nadia menghentikan ciumannya dan beralih menatap Nadia.
Ansel melihat Nadia yang menangis, seketika menjadi merasa bersalah akan kelakuan nya, dia jadi merasa iba kepada Nadia.
__ADS_1
"Heii maaf kan aku, aku tidak bermaksud seperti seorang pisikopat begini, aku hanya sedang pusing dengan apa yang aku hadapi, aku sungguh tidak menginginkan perjodohan ini sekertaris Nadia, aku binggung harus berbuat apa, sedangkan kau, dari tadi hanya membantah ucapan ku."Ansel berbicara dengan sungguh sungguh, sambil menjabak rambutnya dengan frustasi.
"Ahhhhhggg..."
Nadia yang melihat sisi lain dari Ansel jadi merubah pendapat nya, dia akan bertanya terlebih dahulu sebelum memutuskan apa yang akan dia lakukan.
Nadia bukanlah gadis yang bodoh, dia gadis yang cerdas, semasa kuliahnya dia selalu mendapatkan penghargaan dari universitas nya.
"Apa anda yakin, akan memilih saya sebagai calon istri anda, walaupun itu hanya kontrak pernikahan, apakah anda tidak takut jika suatu saat nanti kita ketahuan melakukan ini."
Nadia tidak lagi memangil Ansel dengan sebutan tuan.
"Iya saya yakin, saya memilih kamu sebagai calon istri ku, apa kamu bersedia Nadia Ziraningsih."
"Hemm, saya akan coba, walau sebenarnya saya sendiri tidak yakin dengan hal itu mengingat keluarga saya..." Nadia menunduk sebelum melanjutkan kalimatnya, Nadia menghela napas panjang sebelum melanjutkannya.
"Keluarga saya sudah tidak ada lagi disini, hanya ada saya yang tersisa didunia ini hikss hiks hiks." Nadia sedih mengingat kejadian yang menimpah keluarganya.
Ansel sudah berangkul tubuh Nadia, pada saat Nadia bercerita tentang keluarga.
Ansel pun menghela napas panjang dia mengerti dengan kesedihan yang dialami Nadia.
Ansel sudah tau semua tentang Nadia, Ansel sudah terlebih dulu menyelidiki latar belakang Nadia, keluarga, tinggal dimana. Jadi Ansel sudah tidak terkejut lagi bilah nanti Nadia menangis.
__ADS_1
"Saya akan terima semua itu, keluarga saya sebenarnya juga tidak terlalu memilih siapa yang akan mendampingi saya, namun mungkin karena masa lalu saya yang dulu yang mengakibatkan saya tidak lagi mejalin hubungan serius dengan seseorang."
"Baiklah saya bersedia tuan." Nadia berbicara mantap dengan hal ini, dia sudah berpikir jernih sekarang, dia akan menerima, tohh Ansel saja tidak masalah dengan kehidupan nya yang tidak mempunyai keluarga ini.