
Dari kejauhan Ansel sudah terlihat, memperlihatkan tubuh yang berperawakkan tegas, dengan rahangnya yang panjang, wajah tirus, dan mata birunya, yang mampu mehipnotis para perempuan didunia ini.
Ansel sudah berjalan memasuki kantor, yang diikuti Nadia dari belakang, layaknya boss dan bawahan.
Pintu lift yang menuju langsung kelantai peresdir, sudah terbuka Ansel masuk terlebih dahulu yang diiringi Nadia masuk bersama Ansel didalam lift.
Seketika lift yang mereka masuki hilang kendali dan macet di tengah jalan.
"Ada apa tuan." Ucap Nadia yang seketika panik melihat lift yang mereka naiki berhenti.
"Entahlah aku juga tidak mengerti, tapi sepertinya liftnya sedang rusak." Jawab Ansel, dan langsung melambaikan tangannya di kamera cctv yang ada di dalam lift.
"Hallo, apa ada orang yang mendengar kami disini, lift nya macet, cepat perbaiki atau kalian akan mati." Ucap Ansel yang mengancam operator.
Dari dalam ruang operator, sangat jelas sekali terlihat peresdir mereka yang sedang terjebak didalam lift yang mati.
"Heii kau mau mati, didalam sana ada peresdir Ansel, kenapa liftnya bisa mati seperti itu." Sarkas orang yang ada didalam ruangan operator.
"Maafkan saya tuan, kami tidak mengetahui kalau didalam sana ternyata ada peresdir Ansel, kami benar benar mintak maaf, tolong jangan dipecat saya tuan, istri saya sedang hamil muda dirumah." Ucap salah satu orang yang memperbaiki lift tersebut.
"Saya tidak mau tau, lift secepatnya harus dibuka, atau kalian semua tidakkan selamat, kalian mengerti."
"Iya kami mengerti tuan, kami akan segera memperbaikinya."
Sementara di dalam lift, Nadia merasa dirinya seperti tidak bisa bernapas, Nadia memiliki riwayat phobia pada ruangan sempit.
"Tuan, kami mendengar anda, bersabarlah para teknisi sedang memperbaiki lift yang saat ini sedang tuan gunakan." Jawab seorang yang berada didalam ruangan operator.
"Cepatlah, kalo kalian semua ingin selamat." Bentak ansel, yang kemarahan nya saat ini sedang memuncak muncak.
Tiba tiba Ansel tersadar dengan seorang gadis yang sedang bersamanya, Ansel menoleh kearah Nadia, dan mendapatkan gadis itu sedang meringkuk di ujung lift.
Ansel mendekatkan tubuhnya menghampiri n
Nadia dan bertanya.
"Kamu kenapa." Tanya Ansel dengan tulus.
__ADS_1
"Saya tidak apa apa tuan." Jawab Nadia yang berusaha menyembunyikan rasa takut akibat phobia yang dia miliki.
Ansel yang melihat itu, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Nadia. Dan Ansel kemudian bertanya, untuk menghilangkan rasa penasaran nya.
"Apa kamu takut didalam ruang sepit." Tanya Ansel yang menatap lekat tubuh Nadia.
Dengan gugup dan takut Nadia menjawab.
"I.. ya tuan, saya mempunyai phobia pada ruangan sempit tuan." Sambil terus menstabilkan napasnya.
"Benarkah, itu saat berbahaya." Jawab Ansel, yang langsung memegang pundak Nadia.
"Apa yang kamu rasakan saat ini." Ansel bertanya dengan raut wajah cemas yang dia miliki.
"Rasanya aku tidak bisa berpanas dengan benar saat ini tuan." Nadia dengan raut pucatnya, menjawab.
"Kamu terlihat pucat." Sambil mendekatkan tubuhnya memeluk tubuh Nadia.
apa yang harus aku lakukan, apa aku harus memberikan napas buatan kepada sekretaris baruku ini. Ansel berbicara dalam hati.
"Heiii cepat buka pintu liftnya." Sambil melambaikan tangannya kearah kamera cctv, dan menggedor-gedor pintunya.
Nadia tidak bisa apa apa lagi tubuhnya sudah lemas, dan terkulai dilantai, Nadia seketika pingsan.
"Bangunlah, kamu tidak apa apa kan." Sambil memegang muka Nadia dan menepuk nepuknya, agar gadis itu bangun.
Ansel cemas saat itu juga, Ansel kemudian mengambil hpnya yang ada didalam saku jasnya, dan ingin menelpon seseorang, namun nihil tidak ada sinyal didalam sana.
"Baiklah sepertinya tidak ada lagi cara lain, aku harus memberi gadis itu napas buatan." Ucap Ansel, yang kini sudah mengangkat tubuh Nadia berbaring di pangkuannya, agar memudahkan Ansel untuk menciumnya.
CUUP.
Ansel sudah mendekatkan bibirnya di bibir nadia kini bibir mereka sudah menyatu, Ansel berusaha memberikan Nadia napas buatan semampunya untuk menyelamatkan Nadia.
Kelopak mata Nadia mengerjap mengerjap, perlahan matanya terbuka dan mendapatkan dirinya sedang di cium Ansel, bossnya, namun Nadia masi sedikit pusing, tubuhnya masi lemas, Nadia tidak berdaya walau hanya untuk memukul atau berkata apapun.
Ansel melihat Nadia yang sudah membukakan matanya, hati Ansel lega melihat Nadia sedikit demi sedikit membuka matanya, Ansel pun menghentikan napas buatan yang dia berikan.
__ADS_1
"Kamu sudah sadar." Tanya Ansel yang melihat nadia sudah sadar, dan seperti ingin beranjak dari pangkuan Ansel.
"Tidurlah tak apa, hari ini aku bebaskan kamu, tidur dipangkuan ku, karna kamu baru terbangun dari pingsan." Ansel berkata dengan tulus, walau agak sedikit konyol.
Nadia hanya mengangguk, dia tidak mampu menjawab, apapun saat ini, tubuhnya terlalu lemas.
Tidak beberapa lama setelah Ansel memberikan napas buatan, pintu terbuka, dan Ansel langsung berteriak mengupati semua karyawan b*odohnya.
"Maaf kan kami tuan, kejadian ini tidak akan terluang lagi." Sangkal seorang teknisi.
"Diamlah, aku tidak butu penjelasan dari kalian, tunggu saja apa akan terjadi nanti." Sarkas Ansel, yang meninggikan suaranya, memenuhi seisi ruang itu.
Disana sudah ada para dokter yang berjaga, Nadia yang saat ini digendong oleh Ansel, dan membawanya diruang pribadinya yang ada didalam kantor, Ansel membaringkan tubuh mungil Nadia di kasur yang berada didalam ruangan itu.
Dokter kini sedang memeriksa Nadia, Ansel menunggu dengan duduk disopa yang ada disana.
Dokter mendekat, dan menjelaskan keadaan Nadia dengan seditail mungkin.
"Bagaimana keadaaan gadis itu dokter." Tanya Ansel yang langsung menatap mata dokter.
"Tidak terjadi sesuatu kepada nona Nadia, hanya saja dia terlalu syok dan menyebabkan dirinya tidak bisa berpanas karena rasa takut yang dia miliki dan seketika pingsan, saya sudah menyuntikkan obat penenang kepada pasien tuan, dan ini adalah resep obat yang harus anda beli." Ucap dokter yang memeriksa keadaan Nadia.
"Baiklah terimakasih dokter." Dokter pergi setelah menjelaskan keadaan Nadia, dan memeriksa Nadia.
Ansel menelpon kaki tangannya untuk mendekat.
TOK TOK TOK.
Ansel keluar dia sudah tau kalau yang datang pasti adalah orang yang dia hubungi tadi, Ansel menyerahkan semua resep obat yang diberikan dokter kepada orang ke percaya nya.
Ansel masuk kedalam ruangan pribadinya, untuk mengecek Nadia.
"Tuan, saya dimana." Sambil memegang pelipis nya yang masi terasa agak berat.
"iItirahat lah, kau baru saja pingsan." Jawab Ansel dan kemudian menghampiri Nadia.
"Makanlah dulu, baru minum obat nya." Sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi.
__ADS_1
Nadia membuka mulutnya, walau sebenarnya dia tidak lah lapar.
"Makasih tuan, sudah menolong saya." Ucap Nadia dengan tulus, sambil terus mengunyah, nasi dimulutnya.