
Dua minggu sudah berlalu semenjak kejadian itu, Nadia jadi lebih suka diam dan tidak banyak bicara.
Sementara Ansel dia selalu membayangkan ciuman yang dia berikan sewaktu menolong Nadia yang hampir kehabisan napasnya, akibat phobia yang dia alami.
Nadia juga demikian dia selalu membayangkan ciuman pertamanya di sebuah lift, yang dia sendiri tidak tau bagaimana rasanya ciuman itu, karena terakhir Nadia melihat Ansel juga sudah mencium Nadia namun bibir mereka pada saat itu masi bertautan hingga Nadia tau kalau Ansel saat itu mencium nya.
Nadia terlalu malu untuk mengingat kejadian itu.
Drett... Drett.. Drett.(Suara Ponsel)
Suara ponsel itu tiba tiba mengagetkan lamunan Nadia.
Dilihat nya siapa yang menelpon itu, ternyata adalah Ansel.
Nadia: Iya hallo" Dengan nada lembut Nadia menjawab telponnya.
Ansel: Iya bisa kamu keruangan saya sekarang." Ansel berbicara dengan sedikit menaik kan volume suaranya.
Hingga Nadia terpaksa harus menjauhkan telpon yang sedang dia genggam karena suaranya Ansel memekikkan telingganya.
Nadia:Iya tuan tentu saja bisa, saya kesana sekarang" Nadia menjawab telponnya masi sama seperti tadi dengan nada lembut, walau sebenarnya hati Nadia kesal dan sebal dengan boss kasarnya ini."
Ansel: Cepat. " Masi dengan nada menaikkan suaranya."
Tok Tok Tok.
Nadia mengetuk pintu presdir Ansel, dan tak perlu membutuhkan waktu lama, sudah ada jawaban dari dalam yang memerintahkan Nadia untuk masuk.
"Permisi tuan, boleh saya masuk sekarang."
__ADS_1
"Hemm masuk lah" Kali ini tidak terlalu tinggi lagi suaranya, yang membuat Nadia sedikit bisa bernapas lega.
"Ada apa tuan." Nadia bertanya setelah dia masuk kedalam ruangan.
" Duduklah." Titah Ansel kepada Nadia, dan kali ini sedikit lembut.
Nadia pun duduk di kursi yang berada didepan Ansel.
"Boleh saya minta tolong kepada kamu." Ansel menatap Nadia dengan sedikit memohon.
mata abu abu Nadia bertemu dengan mata coklat milik Ansel, mereka bertatapan kurang lebih 20 detik.
Hingga mereka pun menyadari, dan Nadia beserta Ansel langsung mengalihkan pandangan mereka ke sembarang arah.
Deg
Deg
Deg
Sementara Ansel, dia juga sama gugupnya dengan Nadia, namun Ansel bisa menjaga mimik wajahnya, agar tidak mencolok kalau dia sedang salah tingkah saat ini.
Setelah berusaha menyeimbangkan degup jantungnya agar bisa kembali dengan normal Nadia pun bertanya apa yang biasa dia bantu.
"Apa yang bisa saya bantu tuan." Nadia bertanya dengan sungguh sungguh.
Bagaimana tidak Ansel adalah atasan Nadia, lalu apa yang perlu Nadia bantu disini? otak Nadia pun mulai berpikir.
"Baiklah ikuti saya." Ansel memberi titihnya, agar Nadia mengikuti nya dari belakang.
__ADS_1
Nadia pun mengikuti Ansel sesuai perintah, walau banyak pertanyaan yang saat ini sedang menari nari di kepala Nadia, tidak biasanya bossnya Ansel seperti ini, tapi Nadia menyimpulkan kalau ini benar benar hala serius yang akan di bicarakan.
Mereka sampai disebuah ruangan yang lumayan besar seperti ruang pribadi.
Nadia mungkin lupa kalau dia pernah kesini, sewaktu Nadia pingsan Ansel membawa Nadia kesini bukan.
Ansel mengambil keycard yang ada di dalam dompetnya.
Clikk.
Pintu terbuka, mereka lun masuk kedalam ruangan itu, Nadia seperti familier dengan ruangan ini, namun dia lupa kapan dia kesini? dan bagaimana mungkin dia bisa disini? sedangkan ini adalah seperti ruangan khusus untuk tuan muda Ansel.
"Duduk sekertaris Nadia." Titah Ansel melihat Nadia masi berdiri di depan pintu.
"Ehh iya tuan." Nadia menghampiri Ansel, sambil tersenyum kikuk.
" Baiklah sekarang kita sudah ada disini, jadi apa yang mau tuan omngkan." Nadia memberi pertanyaan terlebih dulu, agar bisa menutupi rasa malunya saat ini.
" Apa kamu mau jadi istriku" Ansel menatap Nadia yang terkejut dengan apa yang dia katakan.
"Iya saya tau kamu pasti berpikir kenapa saya lakuin ini kan, kamu tenang ajah jni seperti pernikahan kontrak, nanti gaji kamu saya naikkan 3 kali dilipat bagaimana." Tawaran Ansel membuat Nadia mengigit bibir bawahnya, bagaimana tidak gaji Nadia saat ini sudah sangat besar, ditambah lagi dengan dinaikkan 3 kali lipat.
"Heii bisakah kau menutup mulutmu itu, nanti ada lalat yang masuk kedalamnya." Ansel berbicara seperti itu karena melihat Nadia yang dari tadi membuka mulutnya menyerupai hurup 0.
"Baiklah saya sudah menutup mulut saya, lalu kenapa anda mau menikahi saya." Nadia masi dengan keterkejutannya, lalu dia menjawab dengan sedikit emosi sekarang.
"Owh, nona anda tenang dulu." Ansel mencoba menenangkan Nadia yang mulai sedikit emosi.
"Iya karena orang tua saya ingin menjodohkan saya dengan anak rekan bisnisnya, yang sama sekali tidak saya sukai, saya membenci dia, jadi saya memutar otak saya, bagaimana caranya agar perjodohan ini tidak di lanjutkan. Dan saya mintak maaf saya memilih nona Nadia sebagai pasangan saya." Dengan wajah sedikit memelas dan menjengkelkan.
__ADS_1
Nadia membenci wajah itu sungguh dia benci, bagai mungkin sebuah pernikahan diaggap main main seperti itu, apa tadi pernikahan kontrak, sungguh tidak bermoral.
"Bagai mana mungkin anda menganggap sebuah hubungan suci sebagai ajang main main, jangan karena anda kaya raya, milyarder anda jadi semenah menah kepada saya tuan Ansel." entahlah Nadia tidak berpikir lagi sekarang, entah setelah ini dia dipecat atau apa dia tidak tau.