BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)

BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)
APA? Calon Istri


__ADS_3

Sesuai permintaan Mama Rika, pagi ini Bunga memboyong bajunya ke rumah sang majikan. semalam Mama Rika menelpon Bunga meminta gadis itu untuk sementara waktu tinggal di rumahnya, ia beralasan jika Samson harus di jaga 1x24 jam.


"Huft bagus-bagus tidur di kos-kosan, sekarang malah harus bertemu pria menyebalkan itu setiap waktu." gumam Bunga saat berada di angkot.


Tak lama angkot pun sampai di tujuan dan seperti biasa Bunga harus berjalan kaki agar bisa sampai ke kediaman majikannya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 Bunga sampai disana tepat waktu karena penghuni rumah baru saja akan sarapan.


"Selamat pagi Tuan dan Nyonya, maaf Saya sedikit terlambat." ucap Bunga dengan senyum merekah membuat Evan menatapnya penuh kekaguman.


"Pagi juga Bunga." ucap Evan tersenyum senang.


"Pagi ." ucap Mama Rika sementara Papa Adi hanya mengangguk sembari tersenyum, jangan di tanya bagaimana sikap Samson saat ini, pria itu menatap Bunga seakan-akan ingin menelan gadis itu hidup-hidup.


"Bunga Kamu bisa tidur di kamar atas, kamar milik Evan." ucap Mama Rika membuat Evan dan Samson mengernyit.


"Loh kok di kamar Evan sih Ma?" protes Evan, ia protes bukan karena kamarnya ingin di pakai oleh Bunga tapi dia sudah merencanakan ingin kembali tinggal disini agar bisa dekat dengan gadis itu.


"Iya Ma , kenapa tidak tidur di kamar pembantu saja." ucap Samson menimpali.


Penolakan Evan dan ucapan Samson membuat Bunga berfikir jika Evan sama saja dengan pria menyebalkan itu.


"Lagi pula Kamu jarang menginap kan nak." ucap Mama Rika pada Evan.


"Mulai malam ini Aku tidur disini kok Ma."


"Saya tidur di kamar pembantu saja Nyonya." selah Bunga kemudian.


Mama Rika diam sejenak lalu kembali berbicara.


"Ah begini saja, sebenarnya di lantai 3 ada tiga kamar tapi yang satu di alih fungsikan sebagai gudang, bagaimana kalau Kamu tidur disana saja biar para asisten membantumu membersihkan ruangan itu." ucap Mama Rika memberikan ide.


"Tidak perlu Nyonya, Saya tidur di kamar pembantu saja bersama Bibi." tolak Bunga karena tidak ingin merepotkan yang lain.


"Tidak ada kata penolakan, karena Kamu harus berada di dekat Sam 1x24 jam." ucap Mama Rika kekeh.


Dari tadi Samson dan Papa Adi hanya diam mendengar ucapan Mama Rika sementara Evan senyum-senyum sendiri membayangkan bisa bercinta dengan gadis tomboy itu, pasti rasanya sangat berbeda pikirnya.


"Baiklah Nyonya, kalau begitu saya permisi dulu." pamit Bunga ke dalam untuk menemui Bibi.


Sarapan pagi ini berjalan seperti biasa tidak ada yang istimewa.


"Bagaimana kakimu Sam, apa sudah ada perkembangan?" tanya Papa Adi di selah makannya.


"Cukup baik Pa." jawab Samson.

__ADS_1


"Kamu harus sering berlatih bersama Bunga agar otot kakimu kembali pulih." sela Mama Rika.


"Iya Ma." sahut Samson dengan malas.


Sarapan pagi pun usai, kini Evan dan Papa Adi beranjak dari kursi untuk berangkat bekerja.


"Papa berangkat dulu Ma." Papa mencium kening Mama Rika.


"Evan juga berangkat Ma." saat Evan ingin mencium Pipi wanita parubaya itu dengan cepat Papa Adi menarik tangannya untuk pergi.


"Heem dasar." Mama Rika mengeleng melihat tingkah suaminya.


"Sam kata Evan, kemarin Viola kesini ya?" tanya Mama Rika pada putranya yang masih berada di meja makan.


"Iya Ma kenapa?"


"Mama kan sudah bilang berkali-kali, wanita itu bukan gadis baik-baik." ucap Mama Rika.


"Cck Mama belum mengenal kekasih ku, Viola wanita yang baik maka dari itu Aku memilihnya untuk menjadi calon istriku."


"Ukhuk ukhuk.." Mama Rika tiba-tiba terbatuk saat mendengar penuturan putranya.


"Mama hati-hati dong." Samson memberikan gelas berisi air putih yang berada di depannya pada Mama Rika.


Mama Rika menerima gelas itu lalu meminumnya hingga tandas.


"Tidak Ma." jawab Samson dengan senyum ceria.


"Wah gawat nih, bisa-bisa rencanaku gagal menjodohkan Bunga dengannya." batin Mama Rika cemas.


Waktu terus berlalu, seperti ucapan Evan tadi pagi. pria itu benar-benar pulang ke rumah.


"Hai Bunga, semakin hari kenapa wajahmu semakin cantik sih." goda Evan saat tak sengaja berpapasan dengan Bunga.


"Tuan bisa saja, terima kasih atas pujiannya." Bunga memaksakan senyumnya.


"Bunga." panggil Evan.


"Iya Tuan." Bunga mengangkat kepalanya yang dari tadi menunduk.


"Mau tidak nanti malam jalan denganku." Evan tersenyum sembari menaik turunkan alisnya.


"Maaf Tuan Saya tidak bisa, Saya permisi dulu." Bunga meninggalkan Evan yang terlihat kecewa.


"pffff hahaha.." tanpa Evan sadari sedari tadi Samson tengah mengintipnya.

__ADS_1


"Luntur sudah gelar Lo, di tolak sama pembantu plus tukang parkir hahaha." Samson tergelak keras menertawakan wajah Evan yang terlihat sangat lucu menurutnya.


"Berhenti Lo ngetawain Gue, liat aja nanti Bunga akan klepek-klepek sama pesona Gue." ucap Evan dengan PD nya lalu memasuki kamar meninggalkan Samson yang masih tergelak keras.


'Brak'


Terdengar bunyi gebrakan pintu dari kamar samping karena Evan menutup pintu kamarnya dengan keras.


"Aduh perut Gue sakit banget karena ketawa." Samson menghentikan tawanya lalu memasuki kamarnya.


*


*


Seminggu berlalu, kini keadaan kaki Samson semakin membaik. pria itu bisa sedikit berjalan tanpa tongkat walau belum pulih benar, setiap hari Bunga selalu membantunya untuk berlatih, seperti pagi ini Bunga dan Samson tengah berada di taman belakang berdua saja.


"Ayo Tuan coba sekali lagi." Bunga berdiri menunggu Samson yang tengah berjalan ke arahnya, Samson tanpa sengaja menginjak krikil yang membuat kakinya sakit, pria itu sedikit oleng dan.


Grep


Bunga dengan cepat menangkap tubuh Samson yang hampir terjatuh, posisi keduanya kini begitu dekat. Samson yang baru kali ini menatap Bunga dari dekat tanpa ia sadari dirinya terpesona akan kecantikan alami yang gadis itu miliki. Samson menatap dari alis, mata, hidung dan turun ke bibir. bibir itu terlihat begitu mengoda di matanya, membuatnya ingin segera menyesap manisnya.


"Maaf Tuan." tiba-tiba suara Bunga mengejutkannya, membuatnya kembali tersadar.


"Hih jijik banget." Samson bergidik sembari mengibaskan baju yang ia pakai.


"Sialan tau gitu Aku biarin jatuh sekalian tadi, biar patah itu kaki." batin Bunga tanpa sadar menatap pria di depannya dengan tajam.


"Kenapa? Kamu mau melawan ku Hah." Samson melotot tajam ke arah Bunga.


Saat Bunga ingin menjawab tiba-tiba ponsel milik Samson berbunyi, tertera nomor kantor di layar ponselnya. dengan segera Samson mengangkatnya.


"Hallo.."


"Apa? mereka ingin mengajukan kerjasama?"


"Oke-oke atur semuanya untuk besok, Aku sendiri yang akan menemuinya."


Bunga menatap wajah Tuannya yang terlihat sedang menahan amarah, tak lama telpon itu di putus sepihak oleh pria yang masih berdiri di depannya.


"Besok Kamu harus ikut bersamaku ke kantor." ucap Samson.


"Tapi Tuan."


"Tidak ada tapi-tapian." Samson mengambil tongkat yang di bawah Bunga dengan kasar lalu pergi meninggalkan gadis itu yang masih berdiri terpaku disana.

__ADS_1


"Perusahaan keluarga Admaja ingin bekerja sama dengan ku, cih mereka pasti menyusun rencana untuk menghancurkan ku, Reno Kau belum mengenal siapa Aku, lihat saja nanti." monolog Samson yang saat ini sudah berada di kamarnya.


Bersambung ...


__ADS_2