BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)

BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)
Wisuda


__ADS_3

"Hah .. apa benar yang di cermin itu aku?" Bunga berdiri seraya menatap pantulan dirinya di cermin.


"Ya Nona anda sangat cantik bukan." kedua make up artis itu merasa puas dengan hasil karyanya kali ini.


"Apa sudah..-" ucapan Meta mengantung saat melihat sahabatnya berubah 180⁰.


"OMG so beautiful girl." Meta menatap kagum kearah sahabatnya, sementara Bunga menatap sahabatnya dengan wajah datar karena masih kesal pada Meta.


"Udah dong cemberutnya, yuk keluar Mama dan Papa udah nunggu kita." Meta tersenyum lalu mengandeng Bunga keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga disusul kedua make up artis di belakangnya.


"Wah kamu cantik sekali Bunga." ucap Mama Meta dengan mata berkaca-kaca saat melihat paras Bunga yang mengingatkan dirinya pada Mutia.


"Terima kasih Tante." Bunga terlihat tersipu malu.


"Baiklah Kita berangkat sekarang." sela Papa Meta saat melihat kesedihan dimata istrinya, lalu mengandeng istrinya keluar.


Kini mereka berempat sudah berada di aula, banyak orang yang datang dan acara pun akan segera di mulai.


Seiring berjalannya waktu satu persatu acara sudah berlalu, kini MC menutup acara dengan memanggil donatur terbesar di sekolahnya untuk naik ke atas panggung sebagai bentuk penghormatan sekaligus mengumumkan siswa yang paling berprestasi di SMA Mahardika.


"Mohon perhatiannya sebentar." ucap seorang siswa yang bertugas menjadi MC di acara ini.


Semua tamu seketika diam hingga membuat ruangan itu sunyi dalam sekejap.


"Terima kasih, sebelumnya Saya sebagai MC sekaligus sebagai siswa disini mengucapkan banyak terima kasih kepada donatur terbesar kita yang sudi bersedia hadir di acara sederhana ini, sebagai rasa penghormatan kami dari pihak sekolah di mohon Tuan Adi Winata beserta Nyonya Rika Winata untuk maju ke depan.


Kedua orang yang di panggil langsung berdiri dan berjalan ke arah panggung dengan bergandeng tangan.


"Kasih tepuk tangan untuk kedua tamu besar kita." ucap MC.


'Prok..prok..prok' bunyi tepuk tangan dari para tamu membuat acara semakin meriah.


MC mempersilahkan kedua tamu terhormat itu untuk duduk di tempat yang sudah di sediakan.


"Untuk selanjutnya kita umumkan siswa beruntung dan paling berprestasi di sekolah Mardika tahun ini, coba tebak siapa? (terdengar suara riuh dari para siswa) Tidak perlu banyak cakap lagi ya kita langsung panggil saja ...dia adalah BUUUUNGA, ya saudari Bunga di mohon untuk maju ke depan."


'Prok.prook cuit..cuiit' tepuk tangan meriah di iringi siulan dari siswa laki-laki menambah kemeriahan di akhir acara.


"Bunga nama Lo di panggil tuh." Meta menyikut bahu sahabatnya yang tengah melamun.

__ADS_1


"Hah.." Bunga lalu berdiri dan berjalan menuju panggung dan tidak lupa memberikan senyuman manisnya membuat para siswa laki-laki kembali histeris.


"Selamat ya Bunga." ucap MC lalu menyingkir ketika kepala sekolah tengah berjalan ke arahnya dengan membawah buket dan piagam sebagai simbol keberhasilan Bunga yang sudah menjadi siswi berprestasi dan mengharumkan nama sekolah.


Kepala sekolah sedikit memberikan wejangan kepada siswa siswi yang lain agar bisa mencontoh Bunga, setelah usai Kepala Sekolah membisikkan sesuatu pada MC.


Sementara di sudut panggung kedua pasangan suami istri ini begitu terkejut saat menatap gadis yang berada di hadapan mereka.


"Pa bukankah dia gadis yang seminggu ini kita cari." ucap Mama Rika menatap Bunga yang masih berada di atas panggung.


"Hah benarkah?" Papa Adi menelisik penampilan gadis itu dari atas hingga bawah, ia tidak percaya jika gadis cantik yang berdiri di hadapannya kini ialah gadis tukang parkir yang sempat di lihatnya di resto waktu itu.


"Cck Mama sangat yakin Pa, nanti setelah pulang dari sini kita temui dia ya Pa." pinta Mama Rika bersemangat saat menginggat misinya yang ingin menjodohkan putranya dengan gadis itu.


"Terserah Mama saja." Papa Adi mengeleng tidak habis fikir dengan istrinya yang ingin menjodohkan putra tampannya dengan gadis tukang parkir itu.


Mama Rika diam-diam mencari tau tentang identitas Bunga, ternyata Bunga yang terlihat kuat dan pemberani ialah gadis yang sangat malang karena hidup sebatang kara di kos-kosan yang begitu sempit, Mama Rika juga tau jika Bunga sedang membutuhkan biaya untuk meneruskan sekolahnya maka dari itu Mama Rika memanfaatkan keadaan ini untuk mendekatkan sang putra dan Bunga, Mama memilih Bunga karena dirinya begitu mengagumi sosok gadis itu.


Usai Bunga mengucapkan satu dua buah kata kini MC kembali memanggil Papa Adi dan Mama Rika untuk menyerahkan buket dan piagam ke siswi berprestasi tahun ini.


"Selamat ya." ucap Papa Adi menepuk bahu Bunga pelan sembari tersenyum.


"Selamat ya calon mantu." bisik Mama Rika tepat di telinga Bunga membuat gadis itu tertegun dan berfikir keras, setelah tersadar dari rasa kagetnya ia pun membalas ucapan Mama Rika hanya dengan senyuman.


Acara wisudah pun selesai kini Bunga berada di ruangan kepala sekolah sementara Meta sudah pulang dengan kedua orang tuanya.


"Sebenarnya ada kepentingan apa Bapak memanggil saya kesini?" tanya Bunga dengan sopan.


"Begini nak Bunga, sebenarnya ada yang ingin bertemu denganmu." jawab Kepala Sekolah.


Alis Bunga mengernyit, siapakah gerangan yang ingin menemuinya.


"Siapa Pak?" tanya Bunga yang sangat penasaran.


"Tuan Adi dan Nyonya Rika, mari Bapak antar Kamu ke ruangan pribadi Bapak." Kepala Sekolah beranjak lebih dulu di ikuti oleh Bunga di belakangnya.


Tanpa banyak tanya Bunga mengikuti langkah Kepala Sekolah, dari jauh nampak dua orang penting itu tengah memandangnya.


"Silahkan Bunga Bapak tinggal dulu, mari Tuan Nyonya." Kepala Sekolah sedikit membungkukkan badan lalu pergi dari ruangan pribadinya.

__ADS_1


Kriiik


Kriik


3 menit mereka saling diam, Bunga yang sangat penasaran kenapa mereka memanggilnya, akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.


"Maaf kenapa Tuan dan Nyonya memanggil saya kemari, apa saya memiliki kesalahan?" tanya Bunga.


Mama Rika mengulas senyum. "Begini Bunga sebenarnya kami membutuhkan bantuanmu." ucap Mama Rika memasang wajah sedihnya, sementara Papa Adi melirik sang istri dengan malas karena akting istrinya sangat meragukan.


"Kalau boleh Saya tau bantuan apa itu Nyonya?"


"Eem sebenarnya Kami butuh jasa mu untuk mengurus anak kami, anak kami baru saja mengalami kecelakaan dan Tante sebagai Ibu ingin yang terbaik untuk anak Tante, jadi.. maukah Kamu menjaga dan merawat Putra Tante sampai dia sembuh, karena musuhnya banyak sekali, Tante takut terjadi hal buruk dengan putra Tante." ucap Mama Rika memelas.


Bunga berfikir sejenak ."Apa di terima saja ya, aku kan butuh uang." batin Bunga.


"Eem baiklah akan saya coba." ucap Bunga kemudian membuat wanita paru baya yang berada di depannya merasa bahagia.


"Bagus, Kami tunggu kehadiranmu besok pagi. ini kartu nama saya." Papa Adi memberikan kartu namanya lalu beranjak dari duduknya.


"Ayo Ma Kita pulang." ajak Papa Adi.


Mama Rika mengangguk sembari tersenyum, begitu juga Bunga langsung beranjak dari sana mengikuti langkah keduanya dari belakang.


"Pak Kami izin pulang dulu karena urusan Kami sudah selesai." izin Mama Rika pada Kepala Sekolah.


"Baik Tuan dan Nyonya, terima kasih sudah hadir di acara sederhana Kami." ucap Kepala Sekolah sembari membungkuk hormat.


Papa Adi hanya mengangguk lalu membawah istrinya pergi dari sana.


"Bunga apa Kau punya masalah dengan keluarga Winata?" tanya Kepala Sekolah saat kedua orang penting itu sudah menghilang.


"Tidak Pak mereka hanya menawariku sebuah pekerjaan." jawab Bunga apa adanya, sementara Pak Kepala Sekolah hanya mengangguk.


"Kalau begitu Saya juga izin pulang Pak." pamit Bunga.


"Ya silahkan."


Bunga pun pulang menaiki angkutan umum langganannya, karena penampilannya yang mencolok membuat siapa saja kagum saat melihatnya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2