
"JAWAB AKU." teriak Samson melepas cengkraman itu dengan keras, membuat tubuh Bunga sedikit terhuyung ke belakang.
"Apa karena ini Kamu ingin menikah dengan ku, IYA." Samson mengambil uang di saku celanannya lalu melempar beberapa lembar ke wajah Bunga.
"Cepat katakan, berapa harga mu Aku akan membayarnya. tapi batalkan perjodohan kita dan segera pergi dari kehidupanku." pekik Samson lagi.
Bunga yang dari tadi menghindari tatapan Tuannya kini dengan berani menatap Samson dengan tajam, sungguh ucapan Samson membuat dirinya terhina. ia melangkah mendekati Tuannya dengan aura yang berbeda.
"Saya tidak butuh uangmu Tuan, Saya mau menikah dengan pria lemah sepertimu hanya karena ingin menghancurkan seseorang." bisik Bunga tepat di telinga Samson, hembusan nafas Bunga membuat pria itu merinding.
"Apa maksudmu?" tanya Samson dengan lantang, ia merasa tersinggung ketika Bunga menyebutnya pria lemah.
"Apa Anda mengenal Reno Putra Admaja atau Bram Admaja?" Bunga mengangkat satu alisnya kemudian tersenyum.
"Kita memiliki musuh yang sama, Saya ingin menghancurkan hidup mereka sehancur-hancurnya." hinaan yang Samson berikan padanya tidak membuatnya gegabah, ia harus bisa mengambil hati Tuannya agar rencananya berjalan dengan lancar.
"Saya ingin menawari Anda kerjasama, apa Anda percaya denganku?"
Samson berfikir sejenak kemudian menatap Bunga dengan tatapan remeh.
"Cih.. jangan membuat alasan yang tidak masuk akal, ingat secepatnya Kamu harus membatalkan perjodohan Kita sebelum Mama meminta Kita bertunangan." Samson mengacuhkan tawaran Bunga, pria itu langsung pergi meninggalkan kamar gadis itu begitu saja.
"Arggh sial, kenapa susah sekali membujuk pria itu." Bunga membuang selimutnya asal, gadis itu pun dengan segera berganti baju karena sebentar lagi jam makan malam tiba.
*
*
Disisi lain, Viola tengah bersiteru dengan kekasih keduanya. siapa lagi jika bukan Reno. Viola marah pada Reno karena tiba-tiba kekasih keduanya itu menyuruhnya menekan Samson agar laki-laki itu dengan segera menikahinya, dengan entengnya Reno merubah rencana, pria itu memintanya untuk menjalani pernikahan selama setahun bersama Samson, padahal perjanjian awal tidak seperti itu. Viola cukup meninggalkan Samson di acara pernikannya, bukan malah benar-benar menikah dengan pria itu.
"Sayang Aku tidak mau menikah dengannya, Aku sangat mencintaimu." ucap Viola merasa keberatan.
"Hanya setahun Sayang, Aku janji setelah Kamu bercerai dengannya Aku akan langsung melamarmu."
Tanpa Viola tau niat Reno merubah rencananya karena ingin mendekati Bunga, entah mengapa gadis tomboy itu berhasil membuatnya gelisah setiap malam, bahkan Reno tidak pernah merasakan rasa itu saat jauh dari Viola.
"Baiklah Aku akan melakukannya untukmu, besok Aku akan menemui pria itu di kantornya." ucap Viola dengan pasrah.
"Terima kasih sayang." Reno memeluk Viola dengan erat, di balik pelukan itu Reno menipiskan bibirnya.
Pagi ini Samson di buat kesal dengan sang Mama, bagaimana tidak kesal jika Mama Rika memaksa Bunga untuk ikut dengannya ke kantor, sedangkan Evan pria itu sudah bersekongkol dengan Mama Rika agar tidak menjemput Samson pagi ini.
__ADS_1
Bunga, wanita itu tidak kalah kesal. karena Mama Rika memaksanya memakai baju yang bukan style nya, bahkan Mama Rika mendandaninya dengan penuh niat, meskipun begitu Bunga tidak bisa menolak, ia hanya bisa tersenyum paksa.
"Maksudmu apa meminta ikut ke kantor, cck bahkan pakaian mahal itu tidak cocok di badanmu." gerutu Samson melirik Bunga sekilas, keduanya kini berada di dalam mobil, Samson di paksa menyetir sendiri oleh Mama Rika.
"Bahkan Aku tidak ingin dekat-dekat dengan pria menyebalkan sepertimu." gumam Bunga dengan suara lemah.
"Kau bilang apa?"
"Ah tidak Tuan Saya tidak bicara apapun." jawab Bunga dengan malas.
"Aku peringatkan jangan bertingkah atau mencari masalah di kantor nanti." ucap Samson tanpa menatap Bunga.
"Iya." Bunga lebih memilih bersandar di jok mobil sembari menatap jendela, ia melihat lalu lalang kendaraan pagi ini cukup ramai.
Tak lama mobil Samson tiba di gedung perusahaan miliknya, pria itu turun meninggalkan Bunga yang masih berada di mobilnya.
"Sial kenapa Aku di tinggal." dengan cepat Bunga keluar lalu menyusul Samson masuk ke dalam gedung itu.
Semua pegawai yang tidak sengaja berpapasan dengan Samson menatap ke arah Bunga yang saat itu tengah berjalan di samping Ceo WT Grup, banyak karyawan menyapa Samson karena hari ini hari pertamanya kembali bekerja setelah satu bulan lebih tidak ke kantor, Bunga hanya menundukkan wajah tidak berani mendongak hingga keduanya kini sudah berada di ruangan Ceo.
"Cepat masuk, Kamu hanya boleh duduk disini jangan memegang barang apapun, paham." perintah Samson menunjuk sofa yang berada di ujung ruangan kerjanya.
"Balas Dendam Bunga, wah kebetulan sekali judul ceritanya mirip dengan kehidupanku." gumam Bunga membaca judul cerita lalu mulai membaca ceritanya dengan serius.
Sementara Samson terlalu sibuk dengan komputernya hingga tak lama terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk." ucap Samson.
Seseorang membuka pintu lalu berjalan ke arah Samson.
"Ada apa Van?" Samson mendongak.
" Hanya butuh tanda tangan saja." ucap Evan melirik kearah Bunga, ia terpanah melihat penampilan Bunga pagi ini.
"Ehem." Samson berdehem mengejutkan Evan, pria itu langsung salah tingkah.
Evan mengambil map yang di pegang Samson lalu membawah map itu kembali ke ruangannya.
"Tuan .." Bunga menyapa dan berusaha tersenyum semanis mungkin, tapi senyuman manis itu pudar saat melihat Evan masih bersikap dingin padanya.
Waktu terus berputar hingga jam menunjukkan pukul 10.00 pagi, karena Bunga merasa bosan berada disana ia pun berdiri menghampiri Samson yang masih berkutat dengan pekerjaannya.
__ADS_1
"Tuan bolehkah Saya keluar sebentar?"
Samson menatap jam yang berada di pergelangan tangannya.
"Pergilah, setelah jam makan siang tiba Aku akan mengantarkanmu pulang." ucap Samson datar tanpa menatap gadis di depannya.
Tanpa banyak bicara lagi Bunga melangkah keluar meninggalkan ruangan Samson yang menurutnya seperti neraka itu. Bunga memasuki lift lalu memencet angka satu. karena tenggorokkannya terasa kering, Bunga memilih pergi ke Cafe yang berada tepat di samping kantor WT Grup.
Bunga mendudukkan dirinya di meja nomor 5, ia hanya memesan minuman tanpa berniat memesan makanan. saat Bunga menoleh ke depan, dirinya di kejutkan dengan dua orang yang sangat di kenalnya.
"Nona Viola dan Reno." Bunga menyeringai, gadis itu diam-diam merekam dua orang yang tengah bermesraan, Bunga akan menunjukkan video itu pada Tuannya, agar pria itu semakin membenci Reno dan mau menerima tawaran kerjasama yang ia tawarkan kemarin.
"Hahaha keberuntungan selalu berpihak padaku." gumam Bunga sembari menyeruput minumannya yang baru saja datang.
Sedangkan di meja nomor 3, kedua orang itu tengah membahas rencana Reno yang akan di lakukan Viola pagi ini.
"Kamu harus meyakinkan Samson, buat pria itu menuruti semua kata-katamu, Kamu paham kan sayang." ucap Reno, pria itu mengelus rambut Viola dengan lembut.
"Baiklah, apapun akan Aku lakukan untukmu." Viola bersender di bahu kekar milik Reno dengan manja.
Tanpa keduanya sadari ada seseorang yang sedang merekam kemesraan mereka dari jarak cukup dekat.
Setelah kepergian Viola, Bunga dengan sengaja menghampiri Reno di meja nomor 3.
"Hai, Tuan Reno ya?" Bunga berpura-pura memasang wajah terkejut, sedangkan Reno mengernyitkan dahi menatap wanita cantik yang kini tengah menyapanya.
"Siapa ya?"
"Ah Anda melupakanku, Saya Bunga perawat Tuan Samson." jawab Bunga memasang wajah kecewanya.
"Hah benarkah, astaga Kamu cantik sekali Bunga. Aku sampai tidak mengenalimu." ucap Reno sedikit terkejut saat melihat penampilan Bunga yang berubah drastis.
"Terima kasih atas pujiannya Tuan." Bunga tersenyum simpul.
"Jangan panggil Tuan, panggil saja Reno atau Kak Reno biar lebih akrab."
"Oh baiklah Aku panggil Kak Reno saja ya." ucap Bunga.
Keduanya saling mengobrol, entah apa yang mereka obrolkan. tapi Bunga merasa misinya kali ini berhasil, sepertinya Reno terlihat menyukainya, bahkan Bunga beberapa kali memergoki pria itu tengah menatapnya dengan tatapan lembut.
Bersambung ...
__ADS_1