
Mobil Samson sudah terparkir di baseman, lelaki itu turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk Bunga. lagi-lagi Bunga di buat binggung akan sikap Samson, gadis itu hanya mematung tanpa berniat turun.
"Saya ikut turun Tuan?"
Pertanyaan Bunga membuat Samson kembali geram.
"Tidak adakah pangilan lain selain Tuan, jangan terlalu formal cukup aku kamu. ayo turun."
"Tapi Tu- eh Saya harus memanggil apa?" Bunga binggung harus memanggil Samson apa.
"Panggil Sayang atau hubby Aku tidak keberatan." Samson tersenyum jail pada Bunga, sementara Bunga mendengus menatap Samson yang mulai berulah.
"Kak Sam tapi penampilan ku seperti ini." Bunga memilih memanggil Kakak saja dari pada menuruti permintaan pria di depannya.
"Kakak, oke tak apa." Samson menatap Bunga dari atas ke bawah.
"Kenapa dengan penampilanmu? ayo kita sudah di tunggu." Samson menarik tangan Bunga agar keluar dari mobil.
Keduanya kini jalan beriringan. Bunga tidak punya nyali untuk mengangkat kepala sebab semua karyawan sepertinya tengah menatapnya di sertai suara bisik-bisik yang membuat hatinya sakit. sedangkan Samson, pria itu tidak peduli dengan pandangan para karyawan. ia dengan santai mengandeng tangan Bunga sampai keduanya berada di dalam lift.
"Jangan dengarkan mereka." Samson bicara sembari melirik Bunga yang terlihat murung.
Bunga hanya mengangguk, detik kemudian keduanya keluar dari lift. mereka berjalan menuju ruangan CEO.
"Tunggu disini Aku tidak akan lama." Samson menyuruh Bunga menunggu di ruangannya. lalu berjalan keluar meninggalkan Bunga sendiri.
Lebih baik Bunga menghabiskan waktunya dengan bermain ponsel sembari menunggu Samson selesai dengan urusannya.
Saat Bunga membuka medsos tiba-tiba saja tangan Bunga bergetar, airmatanya pun ikut luruh tak lama terdengar isakan pilu membuat siapa saja yang mendengar pasti merasa iba.
"Papa.." gumam Bunga mengelus ponselnya dengan tangan gemetar.
Di ponsel Bunga, nampak seorang yang begitu mirip dengan Bram tengah duduk di kursi roda. tubuhnya kurus tatapannya nampak sayu seperti banyak menyimpan kesedihan di sorot matanya.
__ADS_1
"Papa masih hidup." Bunga menangis bahagia di iringi kepalan tangan yang menyimpan banyak dendam pada keluarga Damar, ia yakin jika kedua orang tuanya masih hidup.
Karena terlalu larut dalam kesedihannya Bunga sampai tidak menyadari kedatangan Samson yang sudah berdiri di depannya.
"Kenapa menangis?" suara Samson melembut, hatinya juga merasakan sakit saat melihat gadis kecil itu menangis.
Bunga mendongak menatap Samson yang tengah berdiri di depannya, tanpa menjawab ucapan Samson gadis itu langsung berdiri dan memeluk tubuh tegap Samson dengan erat. Bunga menumpahkan segala kesedihan dan bahagianya di dada bidang milik pria itu. sementara tubuh Samson menegang, sesaat dirinya berfikir apa yang membuat gadis sekuat Bunga menangis. detik kemudian tangannya melingkar membalas pelukan Bunga.
"Ada apa, coba katakan?" Samson mengurai pelukannya, ia menatap Bunga dalam.
"Tidak ada."
"Hey jangan bohong, Kamu punya masalah? coba ceritakan mungkin Aku bisa membantu mu." Samson menangkup pipi Bunga dengan kedua tangannya.
Bunga berfikir mungkin menceritakan masalahnya pada Samson adalah cara terbaik, akhirnya Bunga menarik Samson untuk duduk kemudian dia menceritakan semuanya. tragedi 7 tahun silam dan siapa Damar sebenarnya.
Samson nampak terkejut mendengar cerita Bunga, terlihat dari matanya yang membola dan bibir menganggah. tidak ia sangka ternyata Bunga putri dari Bram, pengusaha muda yang sangat ia idolakan dulu. sepak terjang seorang Bram dalam dunia bisnis membuat Samson berambisi untuk meniru jejak sang idola. namun sangat di sayangkan saat puncak kejayaan seorang Bram , pria itu di beritakan meninggal bersama sang istri saat terjadi perampokan di rumahnya. dan sekarang perusahaan Admaja di gantikan oleh Damar adik dari Bram. membuat perusahaan Admaja kalah level dengan perusahaan miliknya.
Ada perasaan iba pada diri Samson saat Bunga memohon untuk merahasiakan jati dirinya. beberapa tahun terakhir Samson mendengar berita pencarian anak hilang atas nama Bunga Admaja keponakan dari Damar. siapa sangka Bunga yang Damar cari nyatanya Bunga yang beberapa bulan ini hidup serumah dengannya.
"Terima kasih Tu- eh Kak Sam." Bunga mengubah panggilannya saat Samson menatapnya tajam.
Samson menarik tangannya lalu menatap jam yang bertenger di tangan kirinya.
"Waktunya makan siang, Kamu mau makan di luar apa disini?" Samson menatap mata gadis yang sudah berhenti menangis namun matanya masih terlihat sembab.
"Di sini saja Kak, lagi malas keluar."
Samson mengangguk sembari tersenyum tipis, ia beranjak dari sofa menuju meja kerjanya lalu memencet intercom.
"Cepat keruangan Saya."
Tak lama tedengar pintu di ketuk. seseorang itu masuk tanpa menunggu sang empunya mengizinkan.
__ADS_1
"Bunga, Kamu disini?" Evan cukup terkejut melihat Bunga berada disana.
Ya Samson tadi menyuruh Evan untuk segera keruangannya.
"Iya kak." Bunga tersenyum kikuk.
"Belikan makanan buat Kita, Gue makan siang disini sama Bunga."
"Kita? lah Gue..?" Evan menunjuk dirinya sendiri.
"Terserah Lo mau makan dimana. asal jangan disini." Samson memberikan 5 lembar uang pada Evan lalu berjalan santai ke arah Bunga.
"Cck.. saudara durhaka Lo." umpat Evan lalu pergi dari ruangan Samson, sebelum itu ia mengerling nakal pada Bunga membuat mata sahabatnya menatap horor.
Evan tergelak di depan pintu. selepas menutup pintu wajah tampan itu berubah sendu.
"Semoga kalian bahagia." batin Evan mencoba tersenyum walau hatinya sakit.
*
*
Kini jam makan siang usai, kedua orang berbeda jenis ini sudah menghabiskan makanan yang di belikan Evan tadi. kini Samson kembali berkutat di depan komputer. sementara Bunga menatap kesal pada Samson karena pria itu melarangnya untuk pulang.
Sebenarnya Samson ingin bolos hari ini namun karena sempat terjadi masalah Evan sendiri yang meminta Samson menyelesaikannya. dan terpaksa Samson duduk kembali menghadap layar flat di depannya. menghiraupan Bunga yang berwajah masam karena kebosanan.
Tiga jam berlalu, kini pekerjaan Samson selesai. pria itu merenggangkan otot-ototnya merasa lelah sebab terlalu lama duduk di depan komputer. matanya membelalak lebar melihat Bunga yang tertidur di sofa.
"Ckk.. kenapa bisa lupa." gumam Samson beranjak dari kursi lalu berjalan mendekat ke arah Bunga.
Samson berjongkok menatap wajah Bunga yang terlihat cantik. tanpa sadar bibirnya terangkat memperlihatkan senyuman yang membuat kaum hawa terpesona. tangan kekar itu tiba-tiba terangkat merapikan anak rambut Bunga yang menutupi wajahnya. Samson menatap bulumata cantik yang begitu lentik, lalu turun ke hidung kecil nan mancung. tatapan itu terus turun hingga ke bibir merah semerah cery milik Bunga.
Hati Samson seketika berdesir merasakan gelenjar aneh pada dirinya.
__ADS_1
"Sial, ngeliat bibirnya aja udah buat Cobra di bawah bangun." Samson berdiri membiarkan Bunga tertidur, ia memilih memasuki kamar mandi sembari menunggu jam pulang kantor tiba.
Bersambung ...