
*Biasakan like sebelum membaca 😍
Makan malam keluarga Winata telah usai, Evan yang sudah selesai langsung berpamitan untuk pulang ke apartemennya.
"Ma Pa aku pulang dulu." Evan ingin mencium Mama Rika tapi ia urungkan saat mendapat tatapan tajam dari Papa Adi.
"Posesif sekali." cibir Evan.
"Menginaplah nak hanya untuk malam ini, ini sudah malam." pinta Mama Rika memohon.
"Lain kali saja ya Ma, Evan masih ada urusan." ucap Evan menolak.
"Pasti urusan wanita." gumam Samson pelan membuatnya mendapat plototan tajam dari Evan.
Ya Papa Adi dan Mama Rika tidak tau bagaimana kelakuan Evan di luar sana.
"Apa yang kamu katakan tadi Sam?" tanya Papa Adi.
"Jangan di dengarkan Pa, dia itu hanya iri dengan ku karena tidak memiliki kekasih." ucap Evan.
"Ah Kau benar Van, Sam kapan Kamu mengenalkan kekasihmu pada kami?" tanya Mama Rika yang sudah sangat ingin memiliki seorang menantu.
Samson menatap Evan dengan tajam, sementara Evan cekikikan dan berlalu pergi.
"Brengsek Lo Van." batin Samson masih menatap tajam tangan kanannya itu.
"Sam sudah kenyang Ma." tanpa menjawab pertanyaan Mama Rika Samson berlalu pergi begitu saja meninggalkan meja makan.
"Dasar anak itu." Mama Rika mengeleng menatap putranya yang mulai menjauh.
*
Sinar mentari mulai muncul dari ufuk timur dengan malu-malunya, gadis berparas tomboy pemilik nama Bunga kini tengah bersiap untuk berangkat bekerja sebagai tukang parkir salah satu resto mewah yang terletak di pertengahan kota, hanya pekerjaan itu yang cocok untuk pelajar sepertinya, Bunga berencana ingin mencari pekerjaan yang lebih baik setelah pengumuman kelulusan yang akan di umumkan seminggu lagi. biasanya Bunga menunggu parkiran hanya setengah hari saja, dari pulang sekolah sampai malam hari, untuk hari ini Bunga menunggu parkiran dari pagi karena sekolahnya libur.
"Kamu bisa Bunga." Bunga menyemangati dirinya sendiri sembari berdiri di depan kaca lalu berjalan mengambil topi dan peluit yang akan di pakainya untuk bertugas.
Usai sarapan Bunga dengan semangat berjalan kaki menuju jalan raya untuk menyetop angkutan umum. tidak lama ia sampai dan kebetulan angkutan umum langganannya baru tiba, kemudian Bunga menaiki Angkot berlogo merah biru itu.
"Neng Bunga, tumben Neng pagi-pagi sudah berangkat?" tanya sopir angkot langganan Bunga.
"Iya Pak Bunga sekolahnya libur, tinggal nunggu pengumuman kelulusan saja." jawab Bunga dengan sopan.
"Neng ngak mau lanjut kuliah?" tanya sopir itu lagi.
Pak sopir pernah mendengar dari Meta yang juga sering menaiki angkotnya bersama Bunga, jika Bunga merupakan siswi berprestasi dan tahun ini berhasil meraih beasiswa di perguruan tinggi.
"Doain ya Pak." Bunga tersenyum ke arah sang sopir.
Tak lama angkutan umum itupun berhenti di depan resto tempat Bunga bekerja. pemilik resto memiliki alasan mempekerjakan Bunga sebagai tukang parkir, karena pernah terjadi tindak kriminal disana, salah satu mobil milik pelangan mereka berhasil di bawah kabur pencuri, Bunga yang memang memiliki kemampuan ilmu bela diri akhirnya berani menawarkan jasanya pada pemilik resto, disinilah awal mula Bunga bekerja dan memilih tinggal di kos-kosan yang ia tempati sekarang.
"Neng Bunga makin gelis pisan." goda teman Bunga yang juga berprofesi menjadi tukang parkir disana.
"Eh Didin Lo masih kerja disini?" Bunga meledek Didin yang saat ini tengah menatapnya lekat.
"Ya iya dong, mana ada orang yang mau mempekerjakan mantan napi kayak gue gini." Didin meninggalkan Bunga saat ada mobil yang akan memasuki kawasan Resto.
"Yaelah Lo sensian banget sih Din." Bunga mengekor di belakang Didin membantu pria itu untuk mengarahkan mobil yang akan parkir.
Didin hanya lulusan SMA, dia pernah menjadi napi karena nekat mencuri uang di toko klontong, saat itu ia membutuhkan uang untuk membeli obat neneknya yang sedang sakit. uang yang dia curi tidak seberapa tapi hukuman yang di jalaninya hampir 5 tahun, itu saja Didin mendapat penanguhan penahanan karena selama berada di penjara dirinya bersikap baik. Didin semakin menyesali perbuatannya saat mendapat kabar jika sang Nenek meninggal karena serangan jantung.
"Oh ya setelah ini Lo jadi nerusin sekolah kan?" tanya Didin kembali duduk di susul Bunga di belakangnya.
__ADS_1
"Ya begitulah." jawab Bunga sembari tersenyum.
"Ngak ada yang nemenin gue jaga parkiran lagi dong." Didin berpaling berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Santai, gue pasti sering main kesini."
Didin hanya mengangguk dan kembali berdiri melakukan tugasnya sebagai tukang parkir.
Perusahaan Wt Grup
"Bos siang ini ada pertemuan di resto bambu dengan perusahaan Raharja." Evan sedang berada di ruangan Ceo tengah menatap laptopnya sembari membacakan jadwal untuk hari ini.
"Sudah siap proposalnya?" tanya Samson tanpa memandang Evan.
"Semuanya siap." Evan mulai menutup laptopnya, sementara Samson berdiri dari kursi singahsana nya usai menatap jam yang saat ini pukul 11.30
"Oke kita berangkat sekarang." Samson beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar di ikuti Evan di belakangnya.
Seperti biasa kedua pria tampan itu selalu menjadi pusat perhatian para karyawan wanita, Evan yang memang seorang casanova sering berlaku genit pada karyawan yang menurutnya cantik dan sexy.
*
*
Keduanya kini sudah berada di depan resto bambu, tepatnya masih berada di parkiran.
"Wow so beautiful." gumam Evan saat matanya tak sengaja melihat gadis cantik tengah duduk di samping resto bersama seorang pria.
"Ah bibir merah muda itu." gumam Evan, tanpa di minta jiwa Casanovanya pun muncul.
Samson yang saat itu tengah membalas pesan dari kekasihnya reflek mendongak dan mengikuti arah pandang Evan, bibir pria itu tertarik ke samping dengan senyuman mengejek.
"Lo ngak tau sih mana berlian mana batu krikil." ucap Evan dengan kesal lalu keluar dari dalam mobil menyusul bosnya.
"Stop, jangan di perpanjang." setelah sempat berhenti, Samson berjalan tegap kembali dengan wajah angkuhnya, sementara Evan hanya bisa mendengus sebal.
Dari jauh terlihat dua orang perwakilan dari perusahaan Raharja duduk di ujung Cafe.
"Selamat siang, maaf membuat kalian menunggu." Samson berjabat tangan dengan calon investornya.
"Tidak Tuan Sam kami baru saja sampai." ucap salah satu dari mereka sembari tersenyum.
Pertemuan siang ini berjalan dengan lancar, karena jam sudah menunjukkan waktu makan siang, akhirnya mereka sekalian makan siang juga disana.
"Bos saya pamit ke toilet sebentar." Pamit Evan pada Samson yang hanya di angguki oleh Bosnya.
Tanpa sepengetahuan Samson Evan berjalan keluar menemui gadis yang di lihatnya tadi.
"Permisi, boleh saya meminta tolong?" Evan berjalan mendekat ke arah target.
Gadis itu menatap pria di hadapannya dari ujung rambut hingga kaki.
"Ya boleh, ada yang bisa saya bantu Kak?" tanya gadis itu dengan sopan.
Evan tersenyum lebar karena gadis di hadapannya sangatlah ramah, ia memutar otaknya agar bisa mendapat nomor ponsel gadis di depannya kini.
"Boleh saya meminjam ponsel kamu sebentar?" tanya Evan tidak kalah ramah.
Geming.. tidak ada tanggapan saat gadis itu melihat ponsel di tangan pria yang ingin meminjam ponsel miliknya.
"Bukankah anda sudah memegang ponsel?" alis gadis itu mengernyit menatap pria di hadapannya dengan aneh.
__ADS_1
"Ehm itu.. Saya kehabisan pulsa." Evan gelagapan saat menyadari kebodohannya, sementara pria yang berada di samping gadis itu menatap dirinya dengan penuh selidik.
"Oh silahkan." gadis itu memberikan ponselnya tanpa ada rasa curiga.
Secara diam-diam Evan menyimpan nomor miliknya di ponsel gadis itu, begitupun nomor gadis itu diam-diam Evan menyimpannya.
"Hallo.." Evan pura-pura menelpon seseorang dan sedikit menjauh, tak lama ia mengembalikan ponsel milik gadis itu.
"Terima kasih, maaf ya tadi saya pinjam ponselnya sebentar karena ponsel milik saya kehabisan paket data." Evan mulai menunjukkan aksinya, ia mengeluarkan senyuman gula jawa yang membuat para ciwi-ciwi terpesona. Sedangkan gadis itu menatap aneh pria tampan yang berdiri di depannya.
"Kok bisa ya orang kaya kehabisan paket data? mungkin baju sama mobil dapat minjem kali." batin gadis itu.
"Oh ya kita belum berkenalan kan, siapa namamu?" Evan mengulurkan tangannya.
"Nama saya Bunga Kak."
"Cantik sekali namamu, sesuai dengan orangnya cantik." Evan menatap Bunga dari ujung rambut hingga ujung kaki, tidak lupa ia juga mengeluarkan senyuman mautnya, membuat Bunga tersenyum hambar.
"Namaku Evan ." tanpa sadar Evan menahan tangan Bunga lama hingga membuat seseorang disana berdehem dengan sangat keras.
"EHEM.." Didin berdehem sembari memandang sinis Evan.
"Emm oh ya terima kasih bantuannya, kalau begitu saya permisi." Evan menarik tangannya merasa tidak enak, sebelum pergi ia mengedipkan satu matanya pada Bunga, lalu kembali berjalan memasuki resto.
"Dasar buaya." Bunga mengeleng melihat kegenitan Evan.
"Pasti pria itu cuma pengen ngegoda Lo." ucap Didin dengan geram.
"Udah biarin Din." Bunga kembali ke rutinitasnya di susul Didin.
Di dalam resto Samson terlihat sangat kesal, karena menunggu Evan yang tak kunjung kembali dari toilet. untung saja kedua rekan bisnisnya sudah pulang terlebih dulu.
"Loh mereka kemana Bos?" Evan duduk tepat di hadapan Samson tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Sementara mata Samson melotot tajam pada tangan kanannya sembari mengatai Evan.
"Dasar pria mesum, bajingan." umpat Samson. tentu hanya berani mengumpat di dalam hati karena takut mendapat bogeman dari Evan.
"Apa kaki Lo berubah jadi sirip, kenapa lama sekali?" rasanya Samson ingin menelan Evan hidup-hidup.
"Hehe perut Gue mules." jawab Evan cengegesan.
Tanpa banyak bicara, Samson bangun dari duduknya lalu meninggalkan Evan begitu saja.
"Eh Bos tunggu." Evan beranjak menyusul Samson, sebelum pergi tidak lupa ia membayar billnya.
"Bos tunggu."
"Apa lagi, Lo ngak lihat udah jam berapa ini?" Samson menghentikan langkahnya sembari menatap tangan kanannya dengan kesal.
"Iya sorry." Evan segera membukakan pintu mobil untuk Samson lalu sedikit berlari menuju pintu kemudi.
Di dalam mobil lagi-lagi Evan di buat terpesona dengan paras tomboy Bunga yang terlihat sangat cantik meskipun berwajah polos seperti sekarang.
"EVAN.." teriak Samson melihat Evan belum juga menghidupkan mobilnya.
"Eh iya Bos."
"Dasar Casanova." gumam Samson melihat arah pandang Evan yang tidak berhenti memandang gadis tukang parkir tersebut.
Bersambung* ...
__ADS_1