
Kali ini Dokter Mirna putri dari Dokter Arman tengah memeriksa keadaan Mama Rika yang masih berakting lemas. Dokter Mirna menautkan kedua alisnya heran, ia merasa istri dari pemilik WT Grand Familly itu tengah baik-baik saja.
Melihat gerak gerik Dokter mirna yang mulai terlihat aneh, Mama Rika dengan cepat memegang tangan Dokter beranak satu itu sembari mengedip-ngedipkan matanya memberikan kode. Dokter Mirna yang mengerti arti isyarat itu hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana keadaan Mama sekarang?" tanya Samson dengan wajah kawatir, pria itu tengah berdiri di samping Papanya.
"Nyonya Rika hanya kelelahan saja."
"Kepala Saya juga pusing sekali, apa mungkin terlalu banyak beban fikiran ya Dok?" sela Mama Rika berakting meringis sembari memijat kepalanya, tentu saja apa yang ia keluhkan berusaha menyindir sang putra yang tengah menatapnya penuh sesal.
"Benar Nyonya, sebaiknya jangan memikirkan masalah yang berat-berat dulu agar kondisi Anda cepat pulih." Dokter Mirna tersenyum menatap Mama Rika.
"Kalau begitu saya permisi." pamit Dokter Mirna kemudian, sembari merapikan alat kesehatan yang ia bawah.
"Mari Dok Saya antar." Bunga beranjak dari sofa dan berjalan keluar.
Mama Rika yang masih kecewa dengan putranya menatap Samson dengan kesal, ia fikir hubungan Samson dan Bunga sudah semakin dekat dan menunjukkan banyak perkembangan tapi nyatanya siang ini ia di kejutkan dengan ulah sang putra yang membuatnya malu sekaligus tidak enak hati di depan Bunga.
"Kalau Kamu ingin Mama tetap hidup jauhi wanita itu, pertunanganmu dan Bunga akan di langsungkan setelah kondisi tangan Bunga kembali pulih." ucap Mama Rika dingin tanpa menatap putranya.
Samson menarik nafas panjang, kali ini ia tidak ingin berdebat. ia hanya bisa mengangguk mematuhi ucapan sang Ibu dengan berat hati.
Tak lama Bunga kembali, di ikuti Evan di belakangnya. Samson menyingkir kini Evan duduk di sisi ranjang. sementara Bunga, Papa Adi dan Samson tengah duduk di sofa. tentunya Bunga tetap menjaga jarak dengan Samson, karena keduanya di halangi oleh Papa Adi yang berada di tengah mereka.
"Mama baik-baik saja kan?" Evan duduk di sisi ranjang, memegang tangan Mama Rika dengan wajah cemas.
Seperti biasa pria itu pulang karena jam makan siang sudah tiba.
"Mama baik-baik saja." jawab Mama Rika sembari tersenyum.
Evan melepas tangan Mama Rika sembari terkekeh melihat sang pawang yang duduk tidak jauh dari sana tengah menatapnya tajam. wajahnya berubah datar saat matanya bersitatap dengan Samson, Samson pun sama tidak kalah dingin menatap Evan. tatapan mereka berdua terputus ketika mendengar suara Bibi yang menyuruh mereka untuk segera makan siang.
__ADS_1
Kini di meja makan hanya ada Samson, Evan dan juga Papa Adi. sementara Bunga lebih memilih makan bersama Mama Rika di kamar. ketiganya makan dengan hikmat hingga tandas. Papa Adi beranjak lebih dulu meninggalkan kedua putranya yang masih berada disana.
"Gue pengen bicara empat mata sama Lo, Gue tunggu di taman belakang." Evan beranjak dari kursi berjalan menuju taman. Tak lama Samson berjalan mengikutinya dari belakang.
Dari jauh Samson bisa melihat sahabatnya itu tengah duduk santai di gasebo sembari bermain ponselnya. kakinya semakin lama semakin mendekat, ia tau apa yang akan di bicarakan sahabatnya. pasti tidak lain mengenai Bunga.
"Apa yang udah Lo lakuin?" tanya Evan setelah lama keduanya sama-sama diam.
"Bukan urusan Lo." Samson memalingkan wajah dengan bersendekap dada menatap beberapa bungga yang bermacam ragam bentuk dan warnanya.
Evan tau apa yang terjadi tadi sebelum dia pulang, Bunga sudah menceritakan semuanya.
"Jangan pernah buta karena cinta, berlian yang terlihat berkilau belum tentu mahal nilainya."
"Maksud Lo?" Samson menatap Evan tidak mengerti.
Evan tidak menjawab, ia memberikan ponselnya pada Samson. disana banyak bukti kebejatan Viola yang sudah Evan kumpulkan sejak lama. ia melakukan hal ini karena ingin menyadarkan sahabat sekaligus saudara yang sangat di sayanginya jika Viola bukan wanita yang baik, meskipun keduanya sering adu mulut tapi di dalam lubuk hati Evan yang paling dalam, ia ingin melihat Samson bahagia dan menemukan pendamping yang tepat. meskipun harus merelakan kebahagiaannya sendiri.
Sekelibat ucapan Bunga tiba-tiba terbayang lagi di fikiran Samson. beberapa kali gadis itu mencoba memberinya peringatan tapi Samson malah menganggapnya omong kosong belaka.
"Brengsek." Samson membanting ponsel milik Evan ke atas rerumputan lalu beranjak pergi dengan langkah terburu-buru.
"Eh eh.." Evan reflek melompat menjangkau ponselnya yang hampir saja terjatuh.
"Dasar kampret Lo." teriak Evan dengan perasaan kesal, untung saja ponsel yang baru di belinya tidak jadi terjatuh.
Pria itu berdiri dengan susah payah, lalu berjalan kedalam karena sudah waktunya ia kembali ke kantor. nampak mobil Samson melesat meninggalkan halaman rumah.
"Mang.." Evan memanggil supir pribadi sang Mama yang tengah bersantai.
Mang Udin berlari menghampiri Evan dengan perasaan sungkan karena kepergok tengah leha-leha.
__ADS_1
"Ya Tuan."
"Suruh anak buah Mang Udin mengikuti Samson kemanapun dia pergi." perintah Evan.
"Siap Tuan."
"Oh ya Mang, apa orang-orang yang kita sekap masih berada disana?" tugas Evan yang banyak membuatnya tidak sempat untuk melihat langsung keadaan mereka.
"Masih Tuan."
"Oke jangan biarkan mereka kabur, Aku akan menyempatkan diri untuk melihatnya nanti."
Setelah mendapat anggukkan dari Mang Udin, Evan segera memasuki mobil dan kembali ke kantor sedangkan Mang Udin langsung melaksanakan tugas dari Tuannya.
*
*
Mobil Samson melesat dengan kecepatan penuh, ia ingin menanyakan langsung apa maksud dari Viola berkhianat. menjalani hubungan 3 tahun nyatanya tidak membuatnya berfikir jika wanita yang sangat di cintainya bisa melakukan hal yang menjijikkan dan dengan teganya menghianati cintanya yang benar-benar tulus.
Mobil Samson kini sudah berada di bassman apartemen milik Viola, ia yakin jika kekasihnya berada disana. dengan langkah cepat Samson memasuki gedung itu, ia memasuki lift memencet tombol dimana kamar Viola berada.
Dan disini Samson sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen kekasihnya dengan wajah dingin dan rahang yang mengeras, Samson memencet sandi yang tentunya dia tau karena apartemen ini adalah hadiah yang pernah ia kasih pada Viola.
"Kau akan membayar semuanya karena sudah berani menghianatiku." gumam Samson dengan tangan mengepal.
Bersambung ...
*Bantu othor remahan ini, kalau ceritanya menarik sedekah bunga atau kopi juga boleh🤭
Sayang kalian para pembaca nyata maupun pembaca ghoib yang suka baca tapi lupa ngasih like😅*
__ADS_1