BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)

BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)
Budak Cinta


__ADS_3

Di ruangan Ceo nampak sepasang kekasih tengah melepas rindu, Viola duduk tepat di pangkuan Samson sembari mengalungkan kedua tangannya pada leher kekasihnya, terdengar suara decapan dari lidah mereka yang sedang beradu.


"Kamu kemana saja Baby?" Samson bertanya setelah ciumannya terlepas.


"Aku sibuk, Kau tau itu kan." Viola memasang wajah puppy eyesnya yang mana membuat Samson gemas, kekesalan yang selama berminggu-minggu ini ia rasakan pada Viola kini hilang entah kemana.


"Baby sebenarnya kedatanganku kesini ingin berbicara serius denganmu." Viola menatap lelaki di depannya dengan dalam.


"Cepat katakan." Samson melingkarkan kedua tangannya di pinggul Viola sembari menatapnya penuh cinta.


"Aku ingin Kita segera menikah." ucap Viola dengan ceria.


Tangan Samson tiba-tiba terlepas dari pinggul Viola, bukan menunjukkan wajah bahagia karena sang kekasih mengajaknya menikah, wajah pria itu malah terlihat sedih.


"Kenapa Baby, apa Kamu tidak mau menikah denganku?" Viola berdiri dari pangkuan Samson, ia memasang wajah sedih seakan-akan begitu terpukul melihat reaksi Samson yang nampak tidak senang.


Samson menghela nafas panjang, lebih baik ia menceritakan semua rencana sang Mama yang ingin menjodohkannya dengan Bunga.


"Baby sebenarnya ada yang ingin Aku bicarakan padamu." ucap Samson dengan serius, Samson beranjak menyusul Viola yang kini sudah mendudukkan diri di sofa.


"Katakan." Viola menyilangkan kaki sembari bersedekap dada, pandangannya tertuju pada Samson yang kini sudah berada di sampingnya.


"Mama menjodohkan Ku dengan Bunga."


"WHAT..Bunga wanita jadi-jadian itu maksudmu?" reflek Viola berdiri karena terkejut.


"Ya Baby." ucapnya lesu.


"TIDAK..Kamu harus menikah denganku Baby hiks." Viola berteriak histeris, ia menangis sejadi-jadinya untuk meyakinkan Samson agar pria di depannya membatalkan perjodohan ini.


"Tenang Baby, Aku akan berjuang demi cinta Kita ." Samson menarik tubuh Viola dalam dekapannya.


Viola melepas pelukannya. ia menatap mata Samson dalam dan tanpa berkata lagi wanita itu menyambar bibir Samson dengan penuh gairah.


Keduanya kembali memagut, tangan Samson semakin menekan tengkuk Viola. keduanya sudah terbakar gairah, bahkan tangan Samson sudah berada di gunung kembar milik Viola. ia meremas dengan gemas membuat sang empunya mendesah nikmat, tanpa keduanya sadari di tengah pintu berdiri seorang wanita yang menatap keduanya dengan mata melebar.


"Ehemmm.." Bunga berdehem dengan sangat keras membuat dua orang yang tengah terbakar api gairah dengan terpaksa menyudahi aktifitas mereka.


"Brengsek.." Umpat Samson menatap nyalang pada Bunga yang sudah menganggu kesenangannya.

__ADS_1


Melihat siapa yang datang dengan langkah cepat Viola menghampiri Bunga lalu menampar wanita itu dengan keras.


'Plaakk..'


Bunga kini memegang pipi kirinya yang nampak memerah, satu tangannya mengepal kuat untuk menahan emosinya yang sudah mulai menguak.


"Dasar wanita penjilat, apa yang Kamu katakan pada Mama Rika hingga calon mertuaku meminta mu untuk menikahi kekasihku Hah." Viola seperti orang kesetanan, dengan kesal ia meraih rambut Bunga dan mencakar pipi yang sudah memerah itu dengan kukunya.


Bunga hanya diam saja meskipun ia kesakitan, ia ingin menunjukkan pada Tuannya bagaimana perangai buruk wanita yang di cintainya. gadis itu menatap Samson yang hanya berdiri mematung membiarkannya di serang dengan brutal oleh Viola, entah mengapa terbesit rasa kecewa yang tiba-tiba menelusub dalam relung hatinya.


"Sudah cukup, pria bodoh itu sudah di butakan cinta." batin Bunga.


Dengan reflek Bunga menahan tangan Viola yang tengah menjambak rambutnya, ia meremas tangan Viola hingga membuat wanita itu meraung karena kesakitan.


"Lepaskan tangan kekasihku." Samson berlari ke arah keduanya lalu menghempaskan tangan Bunga dengan keras.


Pipi Bunga yang tergores kuku tajam milik Viola terlihat mengeluarkan darah, terbesit rasa iba pada diri Samson saat melihat gadis di depannya, namun pria itu dengan keras kepalanya malah mengusir Bunga yang tengah menahan perih.


"KELUAR DARI KANTORKU SEKARANG." teriak Samson dengan lantang, ia tidak terima saat melihat Viola menangis dan mengaduh sakit di pergelangan tangannya.


Dengan penampilan awut-awutan dan perasaan kesal Bunga pergi begitu saja tanpa mengucapkan apapun, saat melewati ruangan Evan Bunga tidak sengaja berpapasan dengan pria itu.


Tanpa menunggu jawaban dari Bunga, Evan menarik tangan gadis itu dan membawahnya masuk ke ruangannya.


"Duduk disini."


Bunga hanya menurut, ia senang karena Evan kembali bersikap seperti awal mereka bertemu.


Evan mengambil kotak P3K, sebelum mengobati Bunga lelaki tampan itu menyingkap kedua lengannya hingga menunjukkan ototnya yang kekar.


"Apa Viola yang melakukan ini padamu?" tanya Evan di sela-sela kegiatannya mengobati Bunga.


"Aaahhh.." desah Bunga merasakan perih saat Evan mengolesi luka cakarannya dengan antiseptik.


"Sakit ya, maaf." Evan berucap dengan lembut, sesekali ia meniup luka yang masih terlihat basah itu. ia tidak lagi bertanya saat tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya tadi.


Bunga merasa terharu diperlakukan selembut itu oleh seorang pria.


"Terima kasih Kak." ucap Bunga dengan senyum manis, lukanya yang basah sudah tertutup oleh plaster.

__ADS_1


Evan tersenyum. "Panggilan yang sangat bagus, tidak apa-apa siapa tau dari panggilan Kakak berubah jadi sayang atau hubby." ucap Evan sembari terkekeh, sementara Bunga ikut tertawa.


Evan terpanah melihat tawa Bunga yang baru di lihatnya, sangat manis menurutnya, ia menatap mata indah itu cukup lama hingga terdengar suara seseorang dari pintu mengejutkan keduanya.


"Van apa Kamu melihat -." ucapan Samson terputus saat menatap adegan romantis di depannya, ia ingin menanyakan keberadaan Bunga pada tangan kanannya itu tapi tak di sangka-sangka nyatanya gadis itu berada disana dan tengah tersenyum manis ke arah Evan, entah mengapa ada rasa tidak rela saat Bunga terlalu dekat dengan sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudara itu.


Evan menatap tajam ke arah Samson yang kini sudah berada di dalam ruangannya.


"Mau apa Kamu kesini, urus sana kekasihmu yang matre itu." Evan menutup kembali kotak P3K dan mengembalikan ke tempatnya semula.


"Jangan pernah menghina Violaku." Samson menatap Evan tak kalah tajam.


Sementara Bunga hanya diam menahan kekesalannya tanpa ingin menatap pria menyebalkan itu, apa lagi mendengar pria bodoh itu kembali membela wanita yang sudah melukainya membuatnya semakin kesal.


"Hey Kau, ayo Ku antar pulang." Samson menatap wanita yang tengah memalingkan wajahnya.


"Biar Aku yang mengantarnya." sela Evan.


"Tidak, dia datang bersama Ku dan pulang pun harus bersama Ku."


"Tapi.." sebelum Evan melanjutkan ucapannya dengan cepat Samson menarik paksa tangan Bunga dan membawah gadis itu pergi.


"Sial, apa maunya pria jadi-jadian itu." gerutu Evan dengan kesal saat Samson berhasil membawah Bunga pergi.


*


*


Di mobil milik Samson keduanya kini berada, tak ada satu kata pun yang terucap dari bibir keduanya, mereka sama-sama menutup bibirnya rapat-rapat. hanya sesekali Samson melirik pipi Bunga yang tertempel dua plaster disana, dan lagi ada rasa sakit di hatinya saat melihat gadis di sampingnya terluka.


"Apa itu sakit?" Samson bertanya tanpa menatap gadis di sampingnya.


Bunga memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan dari pria di sampingnya.


"Tidak." jawab Bunga datar.


Samson menghela nafas dalam, ia tidak marah melihat sikap Bunga yang berubah dingin padanya, Samson kembali fokus pada setir kemudinya tanpa ingin bertanya lagi.


Sedangkan Bunga niatnya yang ingin menunjukkan bukti foto dan video kemesraan Reno dan Viola akhirnya ia urungkan, melihat sikap Tuannya yang bucin akut membuatnya menunda memberikan bukti perselingkuhan itu pada Samson, ia berencana akan mengumpulkan lebih banyak bukti dan kembali dengan misinya membuat Reno jatuh cinta padanya agar pria itu meninggalkan wanita bernama Viola.

__ADS_1


*Bersambung ...


__ADS_2