
Bunga terkejut namun sedetik kemudian ia tersenyum dalam hati.
"Terima kasih Tuhan telah membantu Ku." batin Bunga.
"Tuan Sam." ucap Bunga pura-pura terkejut.
Samson menarik Bunga dan menyembunyikan gadis itu di belakang tubuhnya, sementara Reno terlihat cemas bukan karena ia takut menghadapi Samson, ia hanya takut jika percakapannya tentang Viola tadi di dengar oleh Samson. jika itu terjadi sudah pasti rencananya untuk bisa memiliki Bunga gagal.
"Hai brother, santai saja mari duduk dulu." ucap Reno sesantai mungkin.
"Maaf Saya tidak ada waktu untuk menemani Anda, Saya hanya meminta Anda untuk menjauhi calon istri Saya, permisi." ucap Samson lalu menarik tangan Bunga agar mengikutinya.
Ya saat Samson dan Evan berencana mengikuti Bunga, Samson lah orang yang paling semangat turun dari mobil, dia di buat syok saat melihat siapa yang di maksud teman oleh Bunga, pria itu sengaja memesan meja cukup jauh dari meja Rivalnya, tak lama Evan juga ikut bergabung dan seperti Samson pria itu juga terkejut melihat Bunga berada satu meja dengan Reno.
Samson dan Evan terus memperhatikan keduanya, mereka tidak mendengar apapun. meskipun begitu Samson tetap fokus pada Bunga yang nampak tersenyum ke arah rivalnya dan lagi ia merasa kesal melihat gadis itu genit pada pria lain, apalagi pria itu Reno, dadanya semakin bergemuruh saat Reno sengaja memegang tangan Bunga, karena sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya Samson bangkit dan menghampiri kedua orang itu meninggalkan Evan sendirian.
Kini Bunga di seret paksa oleh Samson menuju mobilnya.
"Tuan sakit." rintih Bunga.
Samson tidak perduli, pria itu mendorong Bunga masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.
"HEY PENTUL KOREK..arrgh sial Gue di tinggalin." Evan berjongkok dengan nafas memburu karena kelelahan berlari.
"Ckk bilangnya ngak suka tapi keliatan banget kalau jealous." Evan berniat memesan taksi tapi ia urungkan saat melihat sopir pribadi Mama Rika berada disana.
"Loh Mang, ngapain disini?" tanya Evan.
"Tuan Evan, Saya tadi di suruh Ibu nganter Nona Bunga." jawab sopir.
"Astaga, kenapa dari tadi Gue kayak orang bodoh sih." Evan menepuk jidatnya pelan.
"Mang Bunga sudah pulang sama Samson, Mang Udin anter Saya saja." Evan langsung masuk ke dalam mobil di ikuti sang sopir.
Akhirnya mobil pun melaju meninggalkan resto.
Di dalam resto Reno mengeram menahan kesal, pria itu merogoh saku celananya dan mendeal nomor seseorang.
'Sambungan Terhubung.'
"Ikuti mobil Samson, buat dia cacat seumur hidup dan jangan sakiti wanita yang sedang bersamanya." Reno memutus panggilan secara sepihak.
Usai menelpon anak buahnya, Reno memilih pulang. ia ingin secepatnya memutuskan Viola agar Bunga bisa menerimanya.
*
__ADS_1
*
Di mobil Samson dan Bunga sama-sama diam, Samson hanya fokus dengan setir kemudinya, dalam hati ingin bertanya ada hubungan apa Bunga dengan Reno namun karena gengsinya terlalu tinggi ia hanya bisa memendam pertanyaan itu. melihat Samson yang terus diam akhirnya Bunga memberanikan diri untuk bertanya pada pria di sampingnya.
"Tuan membuntuti Ku ya?" tanya Bunga menatap Samson dari samping, pria itu terlihat salah tingkah saat ia bertanya seperti itu.
"Cih siapa juga yang mengikutimu, ini karena ulah Evan dia yang memintaku mengikutimu." ucap Samson beralasan.
"Benarkah? lalu dimana Tuan Evan?"
'Chiiiiiiiitt...' Samson menghentikan mobilnya secara mendadak.
"Shiiit ..Aku lupa dia tertinggal disana."
"Astaga." gumam Bunga dengan suara pelan tapi masih bisa di dengar oleh Samson.
Samson mengambil ponselnya dan mengirimi Evan pesan agar pria itu pulang memakai taxi saja, tidak lama Samson mendapat balasan dari Evan jika sahabatnya itu sudah pulang bersama mang Udin.
"Bagaimana?" tanya Bunga pada Samson yang sudah menyimpan ponselnya.
"Dia pulang bersama Mang Udin." jawab Samson datar.
"Ah syukurlah." Bunga menghela nafas lega, ia pun bersandar di jok mobil sambil memandang keluar.
"Hei.. cepat buka pintunya!"
"Cck siapa lagi mereka." Samson terlihat sedikit takut, bukan sedikit tapi banyak namun pria itu berusaha menyembunyikan ketakutannya di depan Bunga.
"Mereka siapa Tuan?" tanya Bunga dengan santai tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Entahlah, sebaiknya Kita berada disini saja cari aman. kaki Ku masih terasa sakit." ucap Samson beralasan sambil memegang kakinya dengan sedikit drama.
"Mau sampai kapan Kita berada disini Tuan?" tanya Bunga yang mulai kesal.
"Akh benar juga ya." Samson mengerutuki dirinya yang terlihat bodoh di depan Bunga.
"Baiklah Kamu tunggu disini biar Aku menghadapi mereka."
"Kemarin kaki gue yang patah mungkin hari ini nyawa gue yang akan melayang, Evaaaaaaan tolong Gue." batin Samson menjerit.
Saat Samson ingin membuka pintu, Bunga tiba-tiba melarangnya.
"Jangan, biar Aku saja." ucap Bunga tanpa ragu.
"Tapi-." ucapan Samson terhenti saat melihat Bunga sudah tidak ada di sampingnya.
__ADS_1
"Astaga nekat sekali dia." Samson panik, ia langsung menghubungi Evan untuk mencari bantuan.
Sementara itu situasi di luar terlihat begitu mencekam.
"Kami tidak ada urusan denganmu Nona cantik, biarkan pria yang berada di mobil itu keluar." pinta salah satu pria bertato.
"Hadapi dulu Aku, jika bisa mengalahkan Ku Kalian boleh membunuhnya." ucap Bunga dengan tenang.
"Wow berani juga nih cewek." ucap pria sangar lainnya.
'Bugh..' tanpa banyak omong Bunga langsung menendang salah satu dari mereka, hingga perkelahian pun terjadi.
Di dalam mobil Samson di buat syok, baru pertama kali ia melihat gadis itu berkelahi dan itu terlihat keren di matanya.
"Tuhan selamatkan dia." gumam Samson sembari mengangkat kedua tangannya.
"Shiiittt kenapa Aku sepengecut ini." gerutunya kemudian mulai kesal dengan dirinya sendiri.
Samson hanya bisa melihat perkelahian itu dari mobil, ia seperti sedang melihat film action dimana seorang wanita mencoba melumpuhkan semua lawannya, bahkan bibirnya berteriak dan bersorak saat Bunga berhasil melumpuhkan satu persatu pria sangar itu.
"Yeah tendang Bunga tendang, ya begitu.."
"Mampus Kau hahaha.."
"Tendang burung emprit miliknya ..haha" Samson terus berteriak dan tertawa untuk menyemangati gadis itu.
Harga diri Samson jatuh tepat di dasar laut saat harus di hadapkan dengan kejadian seperti ini, inilah kelemahannya yang selalu di jadikan kesempatan untuk musuh-musuhnya menjatuhkan Samson.
Samson membelalakkan mata saat lawan Bunga hanya tersisa satu orang, tapi wajah itu seketika tegang saat melihat pria sangar itu mengambil senjata tajam di saku bajunya, sebuah pisau lipat yang mampu menguliti kulit putih Bunga.
"Kau tidak akan selamat cantik." ucap pria itu mulai maju menyerang dengan membawah pisau lipat di tangannya.
Kali ini Samson tidak lagi berteriak, ia beberapa kali menelpon Evan tapi belum juga di angkat.
"Sial, tidak mungkin Aku berdiam diri disini." Samson dengan berani membuka pintu mobilnya.
Ketika Samson memberanikan diri ingin membantu Bunga, gadis itu mendapat luka sayatan di tangannya hingga darah bercucuran di atas aspal.
"BRENGSEK.." teriak Samson.
Melihat Bunga terluka dan melihat Samson menghampirinya, pria yang berhasil menyayat tangan Bunga kini berlari meninggalkan tempat itu.
"Tuan biarkan dia pergi, lebih baik kita kembali." ucap Bunga menahan sakit, malam ini ia memakai dress membuatnya tidak bisa leluasa bergerak dan all hasil ia pun terluka.
Bersambung ...
__ADS_1