
Pagi ini di perusahaan WT Grup, para pekerja wanita menatap kagum gadis yang berpenampilan layaknya bodyguard seperti di cerita novel, paras cantik body bak gitar spanyol dan berkulit putih. gadis itu berjalan mengikuti langkah pria tampan bertongkat pemilik WT Grup, siapa lagi kalau bukan Samson Keanu Winata. dan gadis yang berjalan di belakangnya ialah Bunga.
Di sepanjang langkahnya mengikuti Samson wajah Bunga terlihat datar karena terlalu kesal pada Tuannya. bayangkan saja gadis tomboy yang selalu memakai baju kebesaran untuk menutupi tubuhnya kini di paksa memakai pakaian sangat ketat, iSamson menyuruhnya memakai pakaian serba hitam berbahan kulit membuat lekuk tubuhnya tercetak jelas, tidak sedikit para pekerja pria memandangnya tanpa berkedip membuat Bunga ingin mencolok mata mereka satu persatu.
Bunga terus melangkah mengikuti kemana Tuannya pergi hingga keduanya kini sudah berada di dalam ruangan CEO.
"Tuan lain kali saya memakai baju pengawal saja dari pada memakai baju ini." Bunga memberanikan diri berbicara dengan Samson yang saat itu tengah mengecek proposal untuk menghadiri pertemuan dengan pemilik perusahaan Admaja.
Mendengar protes dari bawahannya membuat Samson menghentikan pekerjaannya dan menatap gadis itu dengan tajam.
"Kamu tidak memiliki hak untuk berpendapat, jadi lebih baik diam dan tutup mulutmu rapat-rapat." tegas Samson lalu kembali melakukan pekerjaannya.
"Cck ..apa dia sengaja membuatku malu, ah baju ini menjijikkan sekali." batin Bunga menatap dirinya sendiri dari bawah hingga atas.
Samson sempat melirik Bunga, melihat tingkah gadis itu membuat Samson ingin tertawa. tak lama terdengar seseorang mengetuk pintu ruangannya dari luar.
'Tok tok tok..'
"Masuk." ucap Samson, ia masih fokus pada berkas penting yang ada di tangannya hingga tak menyadari kehadiran pria ganjen yang tengah berdiri di samping Bunga.
"Wow.." mata Evan membola sembari menelan salivanya dengan susah payah.
"Apa Kamu benar-benar Bunga yang ku kenal?" tanya Evan berdiri tepat di samping gadis itu.
Bunga menatap Evan tidak suka karena pria itu menatapnya dengan tidak sopan.
"Bunga kenapa Kamu diam saja."
Mendengar sahabatnya kembali bertingkah membuat Samson mau tidak mau mengusir sahabatnya itu.
"Karena Aku yang menyuruhnya diam, jika tidak ada kepentingan silahkan keluar dari ruangan ini Van." Samson menatap wajah sahabatnya dengan malas.
"Cck.. Aku kesini mau mengantarkan ini." Evan berdecak lalu melemparkan map tepat di wajah Samson cukup keras membuat sang empunya mendelik tajam.
"EVAN MAHENDRA.." teriak Samson dengan suara mengelegar membuat pemilik nama itu berlari secepat kilat.
Bunga yang melihat hidung Samson memerah mencoba menahan tawanya.
"Aduh kenapa sakit sekali." Samson bergumam sembari mengelus hidung mancungnya yang terasa nyeri.
"Hahaha rasakan." batin Bunga.
__ADS_1
Samson menutup map yang ia bawah kemudian duduk bersandar sembari menatap gadis di depannya.
"Hey wanita jadi-jadian." panggil Samson.
"Ya Tuan." Bunga mencoba mengatur nafasnya agar amarahnya tidak meledak.
"Kata Mama Kamu pintar berkelahi, apakah benar?" tanya Samson dengan tatapan menyelidik.
"Ya benar Tuan."
"Bagus, sebentar lagi Kita akan bertemu rivalku, dia sangat licik dan berbahaya jadi Aku harap Kamu bisa mengatasinya jika ada masalah nanti, apa Kamu mengerti?"
"Ya Saya mengerti." jawab Bunga dengan yakin.
"Oke kalau begitu Kita berangkat sekarang." Samson beranjak melangkah ke arah pintu sembari mengunakan tongkatnya, sementara Evan sudah menunggu mereka di dalam mobil.
Sudah satu jam ketiganya berada di perjalanan lantaran jalanan sangat macet pagi ini, hingga akhirnya mobil yang di kendarai Evan berhenti tepat di depan resto mambu.
"Wah ternyata mereka mengadakan pertemuan di resto ini." batin Bunga celinggukan mencari seseorang yang selama seminggu lebih tidak ia lihat.
"Fokus pada pekerjaanmu saja." ucapan Samson mengejutkan Bunga.
Bunga hanya mengangguk mengerti, sedangkan di dalam hatinya terus mengumpati lelaki itu.
"Mari Pak saya antar." ucap seorang pelayan yang menyambut kedatangan mereka.
Evan dan Bunga mensejajarkan langkahnya dengan Samson karena tidak ingin pria itu tertinggal hingga sampailah mereka di depan room yang sudah di pesan oleh rival Samson.
Sebelum pelayan membuka pintu, ia mengetuk pintu dahulu.
'Tok tok tok..' tak lama terdengar samar-samar sahutan dari dalam.
'Ceklek..' pelayan itu membuka pintu lalu mempersilahkan pelangannya untuk masuk.
"Silahkan masuk Tuan dan Nona." setelah ketiganya masuk, ia pun pergi dan akan kembali membawah pesanan yang sudah di pesan oleh Reno.
Dari kejauhan Samson dan Evan yang baru masuk room bisa melihat dua orang pria dan satu wanita sedang mengobrolkan sesuatu, sementara Bunga yang berjalan di belakang keduanya tidak dapat melihat siapa pun.
"Permisi, maaf Kami telat." Samson menghentikan obrolan mereka yang terlihat begitu serius.
"Ah Tuan Samson orang terkaya nomor satu di negara ini, Saya merasa beruntung bisa bertemu dengan Anda." suara seorang pria parubaya terdengar menyapa, memuji atau mengejek entahlah.
__ADS_1
Sementara itu gadis yang mengawal Samson dan Evan berdiri mematung ketika mendengar suara yang tidak asing di telinganya.
"Sepertinya Aku mengenal suara itu, tapi siapa?" batin Bunga lalu berjalan semakin maju hingga.
JEDDAAAARRRR
Bagai tersambar petir, tubuh Bunga seketika lemas saat melihat seorang pria yang ia kenal.
Samson memaksakan senyumnya mendengar ucapan pria parubaya itu, sedangkan Bunga jantung gadis itu berdetak begitu cepat semakin melangkah mendekat maka dirinya semakin yakin jika orang itu orang yang pernah dirinya lihat, sekilas bayangan 7 tahun silam kembali berputar di kepalanya.
Mama dan Papamu sudah meninggal, kau harus pergi dari rumah ini."
tanpa sadar mata indah itu mengeluarkan setetes airmata, sebelum semua orang menyadari tingkahnya yang aneh, dengan cepat Bunga menghapus airmatanya lalu kembali melangkah memasuki ruangan itu.
"Duduklah disana." begitulah maksud dari mata Samson saat memberikan kode pada Bunga.
Bunga yang mengerti langsung mendudukkan dirinya di sofa, sofa yang Bunga duduki berada di ujung cukup jauh dari tempat Samson saat ini, kehadirannya tidak di sadari oleh Reno karena pria itu sibuk menata berkas dengan sekertarisnya.
"Saya tidak ingin berbasa-basi lagi Tuan Sam, Saya berharap Anda mau bekerjasama dengan perusahaan milik keluarga Admaja."
'Deg deg deg..'
Jantung Bunga berdetak sangat cepat, tangannya mengepal kuat saat mendengar marga Admaja keluar dari bibir pria parubaya itu.
Samson tersenyum miring mendengar ucapan rivalnya yang sedikit memaksa.
"Jangan terlalu terburu-buru Tuan Damar." Samson melirik Evan yang tengah menatap sekertaris Reno, wanita itu mengunakan baju kurang bahan meskipun ia memakai blazer tapi potongan dada bajunya terlalu renda hingga memperlihatkan bukit kenyal yang begitu mengoda iman para lelaki yang melihatnya.
"Sshhh..." Evan hanya bisa mengumpati Samson dalam hati sambil menahan rasa sakitnya saat kakinya di pukul dengan keras oleh Samson mengunakan tongkan yang dia pegang.
"Baiklah sepertinya Kita perlu mengobrol santai terlebih dulu agar saling mengenal." ucap Damar mencoba mencairkan suasana yang sempat hening.
"Kenalkan ini putra Saya Reno, dia yang akan mengurus semuanya jika Anda bersedia menerima kerjasama ini." lanjutnya lagi.
Sebisa mungkin Samson dan Evan menahan amarahnya saat melihat Reno yang saat ini tengah tersenyum seperti orang tanpa dosa.
"Salam kenal Tuan Sam dan Tuan Evan, ternyata benar kata orang jika kalian berdua pria yang sangat tampan dan gagah, tentunya juga harus tanguh dan kuat bukan." ucap Reno sengaja menyulut emosi Samson.
Tangan Samson mengepal kuat, mata elangnya menatap Reno dengan tajam. sepertinya pria di hadapannya saat ini dengan sengaja mengejeknya.
"Kita mulai saja sekarang." melihat situasi sudah tidak kondusif membuat Evan segera memulai tujuan mereka.
__ADS_1
*Bersambung ...
Vote Like End Komen 🥰 Jangan lupa ye*