BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)

BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)
Balas Dendam


__ADS_3

Biasakan Like Sebelum Membaca😘


Pagi ini Bunga kembali menampakkan kakinya di gedung WT Grup, gadis itu di perintah oleh Evan untuk membawah berkas penting yang tidak sengaja tertinggal di meja makan.


Kini Bunga sudah berada di depan ruangan wakil Ceo, sebelum mengetuk pintu ia nenghembuskan nafas dalam, sejak rencana perjodohan itu terjadi entah mengapa Evan sepertinya menjaga jarak dengannya, sikapnya tidak lagi seramah dulu hingga membuatnya takut menghadapi pria itu.


'Tok tok tok..'


"Masuk."


Terdengar suara dari dalam, dengan cepat Bunga membuka pintu dan berjalan masuk. nampak pria itu tengah sibuk dengan layar komputernya.


"Maaf Tuan menganggu pekerjaan Anda, ini map yang Anda inginkan." Bunga menyerahkan map berisi berkas-berkas yang akan di gunakan untuk meeting pagi ini.


"Taruh saja di meja, setelahnya Kamu bisa pergi." ucap Evan tanpa memandang Bunga.


Entah mengapa ada rasa sedih yang Bunga rasakan, orang sebaik Evan yang terlihat riang dan suka mengodanya kini bersikap dingin sedingin es.


Setelah menaruh berkas itu di meja, Bunga pun lekas keluar dari ruangan itu.


"Maaf'in Gue Bunga." gumam Evan dengan suara lemah.


Ya Evan sudah menyadari jika dirinya menyukai gadis tomboy itu. sebelum rasa suka itu menjadi cinta, Evan memilih mengubur perasaannya dari pada harus menentang keputusan wanita yang sudah sangat baik padanya.


Setelah keluar dari ruangan Evan, Bunga berjalan dengan melamun hingga tanpa sengaja gadis itu menabrak seorang pria berjas hitam.


"Ah maafkan saya." Bunga membungkukkan badan tanpa menatap pria yang di tabraknya.


"Kamu? bukankah Kamu yang ikut pertemuan waktu itu." ucap pria itu.


Bunga mendongak, ia terkejut ternyata yang di tabraknya adalah Reno putra dari Bram, orang yang sudah membuat hidup keluarganya hancur. keterkejutan Bunga hanya sesaat melihat siapa yang di tabraknya membuat gadis itu tersenyum sangat manis.


"Iya Tuan." ucap Bunga menebar pesonanya.


"Ah sial dia manis sekali saat tersenyum, kenapa jantung ku berdebar ya?ngak beres nih." batin Reno tidak sadar memegang dadanya.


"Anda baik-baik saja Tuan?" tanya Bunga berakting cemas.


"Eh iya Aku baik-baik saja, emm maaf apa Aku boleh meminta nomor ponselmu." Reno melihat kiri dan kanan, untung jalan yang ia lewati nampak sepi, disana hanya ada dirinya Bunga dan sekertarisnya yang masih setia berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Yeah kena Kau." batin Bunga menyeringai.


"Tentu." tanpa ragu Bunga langsung memberikan nomor ponselnya pada pria itu.


"Sudah Tuan Saya permisi dulu." pamit Bunga.


"Ah iya silahkan." mata Reno menatap Bunga hingga siluet gadis itu menghilang.


"Ehem.." sekertaris Reno berdehem dengan keras, ia tidak suka melihat atasannya menatap Bunga dengan tatapan mendamba.


"Ah iya, Kita harus segera ke ruang meeting." ucap Reno saat tersadar.


Pagi ini Reno datang ke kantor WT Grup sebagai perwakilan perusahaannya untuk menghadiri meeting penting.


Di mobil Bunga tersenyum menyeringai, hari ini merupakan hari keberuntungan baginya karena bisa bertemu dengan Reno.


"Balas dendam akan di mulai." gumam Bunga, senyum manisnya berubah menjadi seringgai licik.


Entah apa yang gadis itu rencanakan, tentunya hanya Bunga dan Neng Othor yang tau 😂


Sepulang dari kantor Bunga di kejutkan dengan penghuni rumah yang terlihat berkumpul di ruang tamu. disana ada Mama Rika, Papa Adi dan Samson. hari ini Papa Adi sengaja tidak ke kantor karena permintaan dari sang istri tercinta.


Bunga berjalan ke arah Mama Rika sembari tersenyum paksa, di benaknya saat ini bertanya-tanya apa yang akan mereka katakan, Bunga melirik ke arah Samson nampak pria itu sudah tidak memakai tongkatnya lagi.


"Apa Aku akan di pecat. " batin Bunga.


"Emm begini nak, maaf menganggu waktu mu, Tante hanya ingin bicara sebentar." ucap Mama Rika.


"Iya Nyonya, Nyonya ingin bicara apa? apa Nyonya ingin memecatku?" Bunga memasang wajah memelas. jika hari ini dia di pecat, tekatnya untuk membalaskan dendamnya pada keluarga Bram akan gagal.


Mama Rika terkekeh mendengar ucapan Bunga. "Tidak, siapa juga yang ingin memecatmu. begini Tante ingin bertanya, apa Kamu sudah memiliki jawaban atas pertanyaan Tante kemarin, Tante berharap Kamu menerima perjodohan ini." ucap Mama Rika dengan serius.


Bunga sedikit terkejut, ia mencoba menatap Samson yang kini sedang menatapnya tajam. pria itu mengangkat tangannya ke arah leher, terlihat seperti sebuah ancaman di mata Bunga.


"Cck anceman Lo ngak mempan." batin Bunga kembali menatap Mama Rika yang kini tengah menunggu jawabannya.


"Saya menerimanya Nyonya." jawab Bunga dengan tersipu malu. Demi apa, dia harus rela menikah dengan pria seperti Samson.


Bunga sudah bertekad, demi membalaskan dendamnya dan merebut apa yang menjadi haknya, Bunga rela di persunting pria yang sama sekali tidak mencintai dirinya.

__ADS_1


"Ngak, Sam Ngak mau Ma." sela Samson berusaha menolaknya.


Bunga berpura-pura memasang wajah sedihnya di depan Mama Rika saat mendapat penolakan dari Samson.


"Keputusan Mama sudah bulat, Kamu harus menikah dengan gadis pilihan Mama, ayo sayang kita masak sesuatu untuk merayakannya." ajak Mama Rika pada Bunga, keduanya pun pergi meninggalkan Samson yang terlihat kesal.


"Sudahlah Sam terima saja, toh Bunga gadis yang cantik dan baik." Papa Adi menepuk bahu putranya lalu menyusul istrinya pergi meninggalkan Samson sendiri.


"Arrgghh brengsek, wanita sialan..Aku tau Kau menerima perjodohan ini karena harta, lihat saja Aku akan memaksa mu membatalkan rencana perjodohan ini meskipun harus dengan cara kekerasan." ucap Samson tersenyum menyeringai.


Samson berucap dengan penuh percaya diri, ia lupa jika fisiknya tak setangguh Evan, tanpa ia tau Bunga gadis yang terlihat polos itu bukan lawan yang seimbang untuknya.


Terdengar suara percikan air dari dalam kamar mandi. setelah membantu Mama Rika memasak, Bunga pamit ke kamar untuk membersihkan badannya yang sudah sangat lengket karena hari hampir menginjak petang, gadis itu berdiri di bawah shower dengan mata terpejam, keputusan yang ia buat untuk menerima perjodohan itu membuatnya sedikit ragu, tapi tidak ada cara lain hanya dengan menjadi istri Samson orang terkaya no 1 di negara ini membuat ia semakin mudah menghancurkan mereka. apalagi keduanya rival yang sama-sama ambius untuk melumpuhkan satu sama lain.


Bunga menghabiskan waktu sekitar 1 jam di kamar mandi. merasa tubuhnya kembali rileks, ia pun menyudahi acara mandinya. tangan Bunga terulur mengambil handuk kecil untuk menutupi tubuhnya yang polos, sudah kebiasaan lama seorang Bunga, ia selalu keluar dari kamar mandi dengan hanya mengunakan handuk. bibir sexy itu bersenandung sembari mengeringkan rambut indahnya yang masih basah, setelah mencepol rambutnya dengan handuk Bunga keluar dari kamar mandinya.


"Sial, apa yang dia lakukan." batin Samson bergejolak.


Ya Samson yang saat itu ingin membuat perhitungan pada Bunga karena gadis itu sudah berani menantangnya di buat gelagapan sendiri saat melihat pemandangan indah yang di suguhkan oleh pemilik kamar. jakun Samson naik turun saat matanya memandang paha mulus milik Bunga. bahkan celana yang tadinya longgar kini terasa sesak saat big cobra terbangun dari tidur lelapnya.


Samson menutup pintu kamar Bunga dengan pelan, tapi na'as sang pemilik kamar menyadari kehadirannya. keduanya kini saling tatap, cukup lama mereka terdiam hingga kesadaran Bunga mulai kembali.


"Aaaaaaaaa.." Bunga berlari mengambil selimut yang berada di atas ranjang dan melilitkan selimut itu pada tubuhnya.


"Apa yang Tuan lakukan disini?" Bunga berdiri di samping ranjangnya sembari menatap Samson tajam.


Samson tersenyum miring sembari melangkah mendekati gadis itu.


"Kau tau apa kesalahanmu hari ini?" Samson semakin mendekat, sementara Bunga berjalan mundur.


"Saya tidak melakukan apapun." jawab Bunga dengan polos.


Samson berdecak, kemudian memegang kedua bahu Bunga dengan erat.


"Kenapa Kamu menerima perjodohan ini?" Samson menatap Bunga dengan tajam, kedua tangannya tanpa sengaja meremas bahu gadis itu cukup kuat.


Sebisa mungkin Bunga mengendalikan dirinya agar tidak menyakiti pria yang tengah menatapnya murka. Bunga hanya diam, ia lebih memilih memalingkan wajahnya dari pada memandang pria sejuta pesona di hadapannya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2