
WT Grand Family
Pria bertubuh atletis yang kini tertidur di brangkar rumah sakit tengah merintih kesakitan, bukan karena lukanya yang membuat dirinya merintih tapi tangan lentik milik sang Mama tengah bertenger indah di telingganya.
"Aduh Ma sakit, kaki Sam sudah tidak bisa jalan. jangan membuat telinga ku juga tidak berfungsi." Samson mengusap kedua telinganya yang memerah sembari menekuk wajahnya dengan kesal.
"Bagaimana enak bukan? Mama sudah berkali-kali bilang sama Kamu Sam jangan pernah jauh dari Evan, kenapa Kamu lebih mementingkan wanita itu." gerutu Mama Rika karena dirinya sama sekali tidak menyukai Viola.
"Cckk.."
Samson berdecak kesal saat menginggat kekasihnya, bagaimana tidak kesal selepas dirinya sadar dari pingsannya, ia begitu menghawatirkan Viola tapi rasa kawatirnya berubah menjadi kesal saat ia mendapat notifikasi pesan dari sang kekasih yang isinya membuatnya marah-marah tidak jelas dan karena hal itu juga Mama Rika jadi memarahinya.
"Baby Aku baik-baik saja, Aku sudah berada di apartemenku, maaf tadi temanku main ke apartemen dan menunggu ku disana jadi Aku meninggalkanmu bersama orang yang berada disana." isi pesan Viola.
Ternyata Viola berani membohonginya, Samson tau dari orang yang menolongnya tadi mereka sama sekali tidak melihat seorang wanita di dalam mobil.
Tak lama lamunan Samson buyar saat pintu ruangannya tiba-tiba di buka dengan kasar, nampak sahabat dan Papanya berjalan dengan tergesah melangkah ke arahnya.
"Kenapa hal ini bisa terjadi? siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Papa Adi beruntun saat melihat wajah dan kaki putranya di beliti dengan perban, sementara Mama Rika pergi ke kamar mandi ketika Samson melamun tadi.
"Kalau tanya satu-satu Pa." ucap Samson semakin kesal, wajah tampannya semakin masam saat melirik Evan yang tengah menahan tawanya seolah-olah tengah mengejeknya.
"Dasar Kau, nama mu dan badanmu saja seperti Samson tapi tidak bisa berkelahi."
Papa Adi merasa sangat gemas pada putranya sudah beberapa kali dirinya meminta Samson untuk belajar ilmu bela diri tapi Samson selalu menolak.
"Kalian semua sama saja menyebalkan." sungut Samson dengan wajah masam karena lagi-lagi mendapat ejekan dari orang tuanya sendiri.
Tak lama terlihat Mama Rika keluar dari dalam kamar mandi membuat Papa Adi terkejut.
"Loh Mama kok ada disini?" Papa Adi berjalan menghampiri istrinya lalu merangkul pinggang Mama Rika dengan posesif, sementara kedua pria tampan yang melihat sikap bucin Papanya memutar bola mata dengan malas.
"Mama tadi mendapat kabar dari Dokter Arman Pa." keduanya kini duduk di sofa menyusul Evan yang sudah duduk disana terlebih dulu.
Dokter Arman ialah orang kepercayaan Papa Adi untuk memegang jabatan tertinggi di rumah sakit miliknya sekaligus menjadi Dokter pribadi keluarga Winata.
Perbincangan keduanya terhenti saat mendengar ponsel milik Evan berbunyi.
"Aku keluar sebentar Ma Pa." izin Evan keluar dari ruangan itu lalu mengangkat telponnya.
"Hallo, apa kalian sudah menemukan pelakunya?" tanya Evan kepada anak buahnya.
(.....)
__ADS_1
"Brengsek.." tangan Evan mengepal kuat saat anak buahnya mengatakan siapa pelakunya, lalu Evan menutup telpon itu dengan sepihak.
Evan sebenarnya tau jika Viola wanita yang tidak baik dan yang membuatnya semakin membenci wanita itu saat ia tau jika Viola berselingkuh dengan Rival sahabatnya, Evan pernah mencoba menceritakan sifat buruk Viola tapi Samson tidak percaya karena sahabatnya sudah di butakan oleh cinta.
Evan kembali memasuki ruangan yang di tempati Samson saat amarahnya sudah meredah.
"Telpon dari siapa nak, kenapa harus mengangkatnya di luar?" tanya Mama Rika penuh selidik.
Kini Evan duduk di samping Samson dan menceritakan apa yang di dengarnya tadi.
'Brak...' Papa Adi mengebrak meja setelah mendengar ucapan Evan hingga membuat ketiga orang yang berada disana begitu terkejut.
"Kenapa mereka selalu membuat ulah." geram Papa Adi.
"Aku berjanji akan membalas perbuatan mereka padaku." ucap Samson meremat seprei dengan sangat erat.
"Bagaimana caranya kamu membalas mereka jika kamu tidak memiliki kemampuan ilmu bela diri, sekarang saja kamu tidak bisa berjalan." ucap Mama Rika sedikit kesal melihat putranya yang keras kepala.
"Ya Aku janji kalau kaki ku sembuh aku mau belajar ilmu beladiri." ucap Samson kekeh.
"Bagus." Mama Rika memeluk suaminya dengan erat karena saking bahagianya.
"Kita membutuhkan seseorang untuk merawat sekaligus bisa menjagamu." ucap Papa Adi kemudian.
"Tidak, Mama mu hanya boleh merawat diriku seorang." ucap Papa Adi sembari mencium pipi istrinya, sementara Mama Rika terlihat memberengut kesal melihat sikap posesif suaminya.
"Lalu siapa yang bisa mengurus ku sekaligus menjaga ku?"
"Aaaaa Mama sudah dapat orangnya." ucap Mama Rika tiba-tiba ketika menginggat seseorang lalu membisikkan sesuatu pada suaminya.
"Terserah Mama saja." ucap Papa Adi pasrah, sementara Samson dan Evan menatap keduanya dengan rasa penasaran.
*
*
Hotel Carlyle
"Aaah semakin cepat sayang." racau Viola saat Reno tengah memompanya dari atas.
"Oh ini sangat nikmat." ucap Reno menambah ritmenya semakin cepat.
"Aku akan sampai Ren."
__ADS_1
"Tahan sayang sebentar lagi."
"Aaahhhh.." terdengar lenguhan dari keduanya setelah pelapasan nikmat itu usai, Reno langsung ambruk di samping Viola karena kelelahan sudah mengempur wanita itu selama 2 jam.
"Untung saja Kau tadi datang menolong ladang uangku." ucap Viola ketika nafasnya terdengar teratur.
"Heeemm.." Reno hanya menimpalinya dengan deheman.
"Apa Kau tau siapa yang melakukan itu padanya?" tanya Viola dengan rasa penasaran.
"Entahlah Aku tidak tau." Reno menarik Viola dan membawah wanita itu kepelukannya.
"Aku yang melakukannya sayang, Kau hanya milik ku bukan milik banci itu." batin Reno tersenyum smirk.
Ya tanpa sepengetahuan Viola, Reno lah dalang di balik semuanya karena pria itu tidak suka melihat kekasihnya pergi berdua saja dengan rivalnya.
Kini keduanya terlelap hingga pagi tiba.
*
*
Seminggu Kemudian
Di sebuah kamar bernuasa pink terlihat dua gadis cantik sedang bersiap untuk berangkat ke acara wisuda yang di selengarakan hari ini di sekolah mereka.
"Aku sudah cantik belum?" tanya Meta yang saat ini sudah di make over oleh perias langganan keluarga Raharja.
"Heem .." Bungga yang baru saja akan di make over berdehem dengan malas, bagaimana Bunga tidak kesal jika sahabatnya Meta memaksanya untuk berdandan, karena Bunga menghargai niat baik sahabatnya dengan terpaksa dirinya menurut saja.
"Buat sahabat ku menjadi secantik mungkin." ucap Meta pada kedua make up artis yang tengah memoles wajah sahabatnya, dirinya tidak peduli dengan wajah sahabatnya yang terus di tekuk.
"Baik Nona." ucap keduanya serempak di tengah pekerjaan mereka.
Meta menatap jam yang berada di sudut kamarnya, melihat waktu yang di gunakan untuk merias sahabatnya cukup lama akhirnya Meta memilih keluar menunggu Bunga di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya.
Bunga yang saat ini tengah di make over hanya melamun memikirkan langkah kedepannya bagaimana, apa ia menerima beasiswa itu atau memilih bekerja saja. jika dirinya lebih memilih bekerja pekerjaan apa yang pantas untuknya jika hanya bermodal ijasah menengah atas, paling mentok menjadi seorang waiters ataupun OB. jika dirinya memilih kuliah pasti masih harus mengeluarkan biaya untuk keperluan lainnya, apa yang akan ia gunakan untuk membayar jika seminggu ini saja dirinya tidak bekerja sama sekali.
Aku harus kuliah dan menjadi orang sukses seperti cita-cita ku dulu." batin Bunga menyemangati diri sendiri.
"Nona anda benar-benar cantik." ucap salah satu make up artis membuyarkan lamunan Bunga. kedua orang itu merasa kagum melihat kecantikan gadis yang berada di hadapannya saat ini. siapa sangkah gadis tomboy yang tadinya hanya memakai celana jeans dan kaos kebesaran kini berubah menjadi putri cinderella.
Bersambung ...
__ADS_1