BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)

BALAS DENDAM GADIS TERBUANG (Bunga Admaja)
Pria Bodoh


__ADS_3

Akhirnya mobil yang di tumpangi Samson dan Bunga berhenti tepat di garasi rumah milik Samson, Bunga keluar lebih dulu meninggalkan Samson yang tengah memarkirkan mobil.


"Sepertinya dia marah sekali." gumam Samson menatap Bunga dari jauh hingga gadis itu tidak terlihat lagi.


Sedangkan Bunga di buat terkejut karena Mama Rika tiba-tiba mengagetkannya di balik pintu.


"Sayang bagaimana-, loh wajah Kamu kenapa Bunga?" rasa kekepoan Mama Rika yang ingin mendengar bagaimana sikap Samson di kantor kini berganti menjadi kepanikan ketika melihat dua buah plaster tertempel diwajah cantik Bunga.


"Bunga tidak apa-apa Nyonya."


Mata Mama Rika mendelik tajam saat lagi-lagi Bunga menyebutnya Nyonya.


"Panggil Tante Mama, sebentar lagi Kamu jadi anak menantu di keluarga ini."


"B-baik Nyo eh Mama." ucap Bunga terbata.


"Bagus, sekarang ceritakan pada Mama mu ini kenapa wajah cantik mu bisa terluka." Mama Rika mengandeng tangan Bunga dan membawah gadis itu ke meja makan.


Samson yang baru melangkah memasuki rumah menghembuskan nafas kasar saat melihat dua wanita berbeda usia itu terlihat semakin akrab.


"Bagaimana caranya Aku membujuk Mama, Shiiitt memikirkan hal ini membuatku semakin pusing." Samson menjambak rambutnya frustasi, kakinya mulai melangkah mengikuti kemana para wanita itu pergi.


Papa Adi sudah lebih dulu berada disana tak lama Mama Rika, Bunga dan yang terakhir Samson ikut bergabung di meja makan.


"Loh pipi Kamu kenapa Nak?" tanya Papa Adi pada Bunga.


"Ini ulah wanita ular itu Pa, Mama kan sudah bilang padamu Sam dia wanita yang tidak baik, kenapa Kamu masih menemuinya." tutur Mama Rika bicara dengan nada sedikit kesal.


Sementara Samson menatap tajam gadis yang berada di depannya, beraninya gadis itu mengadu pada sang Mama.


"Benar apa kata Viola, ternyata dia wanita penjilat." batin Samson, tatapan matanya tidak lepas dari Bunga.


"Viola tidak seperti itu Ma, dia wanita baik-baik dan Aku mencintainya."


"Cih wanita baik-baik katanya, Kamu tau kalau dirimu itu pria terbodoh di dunia." batin Bunga menatap Samson tak kalah tajam.


"Sudah-sudah jangan berdebat, mau makan saja harus ribut dulu." gerutu Papa Adi yang mulai kesal melihat pertengkaran mereka.


Mendengar teguran dari Papa Adi kedua Ibu dan Anak itu langsung terdiam, tak lama terdengar suara langkah seseorang dari luar.


"Sayang kebetulan Mama masak banyak siang ini." Mama Rika menghampiri seseorang yang baru saja datang.


"Evan, tumben makan dirumah?" tanya Papa Adi.


Ya orang itu adalah Evan, sudah berminggu-minggu pria itu tidak pulang ke rumah, Papa Adi tau jika putra angkatnya itu kecewa dengan keputusan istrinya yang tiba-tiba menjodohkan Bunga dengan putra kandungnya Samson, maka dari itu Papa Adi mencegah sang istri untuk memaksa Evan tinggal lagi di rumahnya karena beliau tau, Evan pasti butuh waktu untuk menyendiri.


"Lagi pengen Pa, sepertinya nanti malam dan seterusnya Evan akan kembali tidur disini." Evan sudah berada di tempatnya, pandangannya mengarah pada Bunga yang saat itu sedang makan.


"Apa lukamu sudah baikan?" tanya Evan.


Bunga terkesiap, ia merasa tidak enak hati pada Mama Rika dan Papa Adi saat ada pria lain yang terlihat menghawatirkannya meskipun itu putra angkat dari Papa Adi.


"Emm b-baik Kak." Bunga menjawab dengan gugup.


Samson menatap Bunga dan Evan dengan tatapan menelisik.


"Sejak kapan gadis itu memanggil Evan dengan sebutan Kakak?" batin Samson.


"Kalau masih sakit Aku siap nganter Kamu ke Dokter." ucap Evan sembari menyuap makanannya.


"Tidak Kak ini sudah mendingan." jawab Bunga sembari tersenyum.

__ADS_1


"Cck sok perhatian." gumam Samson dengan suara pelan, tiba-tiba selera makannya menghilang ia pun berdiri dari kursinya dan meninggalkan meja makan.


"Loh mau kemana Sam, makanannya kan masih banyak." ucap Mama Rika menghentikan langkah putranya.


Samson berhenti melangkah dan berkata tanpa menoleh.


"Sam enek denger playboy cap kodok itu merayu." ia pun kembali melangkah, sedangkan Mama Rika menatap suaminya sembari tersenyum.


"Kampret Lo.." umpat Evan dengan kesal saat Samson mengatainya playboy cap kodok.


"Sudah-sudah kita lanjut makan saja." Papa Adi terlihat kesal melihat kedua putranya selalu saja bertengkar.


Di tempat lain


"Bagaimana sayang, apa Samson mau menikahimu?" tanya Reno.


Keduanya kini tengah berada di hotel milik Reno, seperti biasa Reno selalu meminta jatah pada Viola.


"Entahlah belum ada kepastian, orang tua Sam sudah menjodohkannya dengan wanita lain." Viola memeluk erat pria yang tidur di sampingnya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Reno.


"Di jodohkan? dengan siapa?" Reno terkejut mendengar berita itu.


"Bunga, perawat Samson yang tomboy itu."


"What.." pekik Reno dengan mata membola, karena terlalu terkejut ia sampai mendorong tubuh Viola dan hampir saja wanita itu terjatuh dari ranjang dengan tubuh polosnya.


"Kenapa reaksimu berlebihan, jangan bilang Kamu menyukainya sayang." tuduh Viola menatap bola mata Reno penuh selidik.


Ya Viola menceritakan semuanya pada Reno tanpa ada yang di tutup-tutupi, jika dalam waktu dekat ini Samson belum bisa membahas masalah pernikahan, di karenakan kedua orang tua Samson sudah menjodohkan kekasih pertamanya itu dengan perawatnya.


"Hah ..tidak, mana mungkin Aku menyukainya. bahkan bertemu dengannya saja Aku tidak pernah." bohong Reno.


"Serius Kamu belum pernah bertemu?"


"Gadis itu milikku Aku akan merebutnya darimu." batin Reno tersenyum smirk di balik punggung Viola.


"Baiklah tugasku memberimu jatah selesai, sekarang biarkan Aku pergi karena sebentar lagi ada jadwal pemotretan." Viola beranjak dari ranjang mengambil bajunya yang tergeletak di lantai dan membawahnya ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.


Setelah pergi Reno dengan cepat mengeser tubuhnya agar bisa memjangkau ponselnya yang berada di atas nakas.


"Nomor Bunga, ah ini dia." Reno dengan cepat mendeal nomor Bunga dan menempelkan benda cangih itu di telinganya.


'Tuuut..'


'Tuuuuut...'


Sudah tiga kali Reno mencoba menelpon tapi belum ada jawaban dari gadis itu.


"Kemana dia." gerutu Reno, ia pun mencoba menelpon kembali dan begitu beruntungnya dia karena percobaan yang ketiga ini berhasil di angkat oleh Bunga.


'Telpon tersambung.'


"Hallo siapa ya?" terdengar suara merdu dari sebrang sana membuat jantung Reno berdebar-debar.


"Ini Aku Reno, apa Kamu masih menginggatku?"


Beberapa detik tidak terdengar lagi suara dari sebrang sana.


"Bunga apa Kamu mendengarku?"


"Ah iya Kak tentu saja Aku menginggatmu, oh ya ada perlu apa Kak?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyuruhmu menyimpan nomor ini, sudah dulu ya Aku tutup dulu telponnya.


"Oke."


'Sambungan terputus.'


"Argh dasar bodoh, kenapa Kamu tidak mengajaknya bertemu." Reno menyesal cepat-cepat menutup obrolan, ia mengacak rambutnya dengan kesal.


*


*


Sedangkan di tempat lain kedua pria yang biasanya seperti tom and jerry itu dengan kompak menguping penbicaraan Bunga dengan seseorang di balik telpon.


"Telponan sama siapa dia?" gerutu Evan pelan.


"Mana gue tau." jawab Samson tidak kalah pelan.


Kedua pria ini tengah bersembunyi di balik sofa dengan posisi menungging seperti seekor kucing. sementara Bunga berdiri tepat di depan kamarnya terlihat serius berbicara dengan seseorang di balik telpon dan sesekali tersenyum.


"Gila, Bunga cantik banget kalau senyum, meleleh nih hati Gue." gumam Evan sembari meremas sesuatu di sampingnya.


"Cih biasa aja, aaa brengsek tangan Lo ngapain kampret." ucap Samson mengeram kesal saat Evan dengan keras meremas bokongnya.


"Gue tau Lo cassanova tapi jangan sama Gue, hii jijik." lanjut Samson dengan tubuh bergidik.


"Sorry-sorry gak sengaja hehe." ucap Evan sembari nyengir kuda.


Tak lama terdengar suara bariton dari arah belakang yang mengejutkan keduanya.


"Astaga kalian berdua sedang apa?" tanya Papa Adi dengan bersendekap dada.


"Eh Papa.." Evan beranjak berdiri di susul oleh Samson.


"Kalian tidak balik ke kantor? sudah jam berapa ini." pekik Papa Adi hingga suaranya terdengar sampai ke telinga Bunga.


"Kenapa Pa?" tanya Bunga berjalan sedikit terburu ke arah ketiga pria yang sedang ribut.


"Kita akan berangkat Pa, ayo Van." sela Samson kemudian menyeret tangan Evan agar mengikutinya.


Papa Adi mengelengkan kepala melihat tingkah aneh kedua pria muda itu.


"Tidak apa-apa nak, maaf sudah menganggumu. Papa tinggal ya." pamit Papa Adi pada Bunga.


Bunga hanya mengangguk sembari menatap ketiga pria yang sedah menghilang di balik lift. tak lama ponselnya kembali berdering terlihat notif pesan dari seseorang.


Bajingan :


"Bunga bisakah nanti malam kita bertemu, Ku tunggu di Cafe kemarin."


"Dandan yang cantik😊"


Isi pesan dari Reno.


"Ini kesempatan buatku." gumam Bunga sembari tersenyum smirk.


Bunga :


"Oke."


Pesan terkirim untuk Reno.

__ADS_1


Bunga sudah tidak sabar membuat hidup keluarga Damar menderita dan merebut kembali hak milik Papanya yang sudah bersusah payah membesarkan perusahaan Admaja.


Bersambung ...


__ADS_2