
Satu jam sudah berlalu akhirnya keduanya sepakat menjalani kerjasama, tidak tanggung-tanggung Samson menanamkan modalnya 30% di perusahaan Admaja Corp.
Saat Samson, Evan dan Bunga ingin keluar dari ruangan itu suara Reno tiba-tiba menghentikan ketiganya.
"Maaf Tuan Sam, apa dari tadi gadis cantik di sebelah Anda berada disini?" Reno menatap Bunga dengan kagum, entah mengapa jantungnya berdetak lebih cepat saat menatap wajah cantik Bunga.
"Mohon maaf Kami buru-buru." ucap Evan langsung menarik tangan Bunga untuk segera keluar dari ruangan itu.
Reno hanya bisa menatap kepergian ketiganya yang mulai menghilang di balik pintu.
"Lain kali jangan memakai pakaian ini, apa Kamu tidak sadar jika dirimu terlihat lebih cantik dan sexy saat memakainya." protes Evan ketika ketiganya sudah berada di halaman parkir.
Mendengar ucapan Evan membuat Samson menghentikan langkahnya dan berbalik badan.
"Aku yang menyuruhnya memakai baju itu, apa Kau keberatan?" Samson sangat geram dengan sifat Evan yang mesum itu.
"Ya Aku keberatan." Evan kembali berjalan dan saat melewati Samson ' Bugh..' ia dengan sengaja menabrakkan tubuhnya cukup keras membuat Samson hampir saja terjatuh.
"Hahaha rasakan pembalasan Ku.." Evan tergelak keras lalu dengan santainya memasuki mobil.
"Brengsek, awas Kau akan Ku potong ular kadutmu itu." teriak Samson dengan kesal.
Bunga menepuk jidatnya melihat tingkah kedua pria itu, ia melirik kiri dan kanan untuk memastikan jika tidak ada orang lain yang berada disana, dengan langkah cepat ia berjalan ke arah Samson berinisiatif membantunya.
"Mau Ku bantu Tuan?"
Baru saja tangan Bunga ingin menyentuh bahu Samson, gadis itu sudah mendapat peringatan.
"Jauhkan tanganmu dari tubuhku." tegas Samson.
Bunga dengan reflek memundurkan tubuhnya, bibirnya terlihat mengerucut, karena kesal ia pun meninggalkan Samson yang masih mematung menatapnya.
"Sialan beraninya gadis itu meninggalkan Ku." gerutu Samson sembari melangkah menuju mobil dengan susah payah.
Kini mobil fortuner hitam milik Samson melaju membelah jalanan yang cukup ramai. karena sebentar lagi jam makan siang kantor tiba, ketiganya pun memilih pulang untuk makan siang di rumah sebab Mama Rika yang memintanya, menginggat tadi saat di resto mereka tidak makan. padahal banyak sajian yang di siapkan rivalnya namun Samson dan Evan menolak memakannya, keduanya beralasan jika ada meeting mendadak.
Di kediaman Samson saat ini, Mama Rika sudah menyiapkan hidangan spesial untuk kedua putrannya dan juga Bunga, ia sudah tidak sabar menunggu kedatangan ketiganya.
"Pa kenapa mereka lama sekali ya?" Mama Rika mondar-mandir di depan pintu utama.
"Kepala Papa pusing liat Mama mondar-mandir terus." Papa Adi menghembuskan nafas kasar saat melihat tingkah istrinya.
Tak lama terdengar deru mobil semakin mendekat, membuat wajah Mama Rika yang tadinya resah kini mulai menampakkan senyum cerianya.
__ADS_1
"Sayang-sayang Ku kenapa kalian lama sekali, Mama sudah masak banyak untuk kalian."
"Tumben Mama menunggu Kita di ruang tamu?" Samson menatap Mamanya penuh curiga.
"Mama juga terlihat bahagia sekali." sambung Evan.
Mama Rika tidak menjawab, ia hanya mengiring Samson, Evan, Bunga dan suaminya untuk melangkah ke meja makan.
"Wah bakal ada pesta nih." ucap Evan mulai menduduki kursinya.
Saat Bunga berjalan melewati mereka, Mama Rika dengan segera menahan tangan gadis itu, lalu mendudukkannya tepat di samping Samson membuat lelaki itu menatap Mamanya tidak suka, begitu juga dengan Evan merasa aneh dengan tingkah Mama Rika.
"Ehem ..sebenarnya Mama mengumpulkan kalian disini untuk membicarakan sesuatu." Mama Rika menatap satu persatu putranya lalu menatap Bunga dan yang terakhir menatap sang suami yang tengah memijat pelipisnya.
"Mau bicara apa Ma katakan saja." ucap Samson, karena tidak bisa menahan lapar ia pun menyendok sup iga yang berada tepat di depannya, sementara Evan meminum jus alpukat favoritnya.
"Mama ingin menjodohkanmu dengan Bunga." ucap Mama Rika dengan wajah tanpa dosa.
'Bruuuusshh.'
Jus Alpukat yang berada di mulut Evan kini sudah berpindah ke wajah Samson.
"Shiit..apa yang Kau lakukan?" umpat Samson reflek mengambil tisu lalu mengelap wajahnya, sementara Evan berdiri dengan mata membola.
"Tidak, memangnya kenapa? salah ya?"
"SALAH MA, kenapa Mama bisa berfikir seperti itu? apa kata orang jika seorang Samson Keanu Winata menikahi seorang pembantu." pekik Samson menolak keras perjodohan ini.
"Pelankan suara mu Sam." tegas Papa Adi penuh penekanan dengan sorot mata tajam, ia tidak suka jika wanita yang di cintainya di bentak seperti itu.
Bunga hanya bisa mengerutu dalam hati menyaksikan perdebatan keluarga Winata dan mendapat penolakan dari Samson.
"Siapa juga yang mau di jodohkan sama Lo, OGAH." batin Bunga.
"Aku sudah memiliki kekasih Ma. Samson sangat mencintai Viola, dia kelak yang akan menjadi istriku." tegas Samson.
"Tapi Mama tetap ingin kalian berdua menikah." ucap Mama Rika tak kalah tegas membuat Samson menghembuskan nafas gusar.
Samson mengambil tongkatnya lalu berdiri dari meja makan melangkah menuju lift, selera makannya sudah hilang saat mendengar permintaan konyol sang Mama.
"Kenapa Mama tiba-tiba menjodohkan mereka?" tanya Evan penasaran, ada rasa sakit yang menghujam jantungnya saat mendengar keinginan wanita parubaya yang sudah di anggapnya Ibu.
"Mama menjodohkan mereka karena kelemahan Samson, Mama tidak ingin mendengar Samson celaka lagi hiks hiks."
__ADS_1
Papa Adi mendengus saat lagi dan lagi harus melihat akting istrinya yang tidak meyakinkan itu, sementara Bunga yang dari tadi hanya menunduk kini mendongak dengan alis bertaut.
"Kelemahan? apa badan layaknya Samson masih memiliki kelemahan, tapi apa hubungannya kelemahan pria itu dengan perjodohan ini." kepala Bunga rasanya ingin meledak memikirkan hal itu.
"Tapi Ma-."
"Maaf Nyonya memangnya Tuan Samson memiliki kelemahan seperti apa?" Bunga memotong ucapan Evan.
Mama Rika beranjak dari tempat duduknya lalu menghampiri Bunga sembari menangis meskipun tangisan Mama Rika terdengar di buat-buat, bahkan di kelopak matanya tak ada satu tetes pun air mata.
"Begini nak Bunga, meskipun badan Samson besar dan kekar dia tidak bisa berkelahi dan sering kali mendapat serangan dari para pesaingnya. Tante tidak ingin kehilangan Samson, harapan Tante hanya Kamu."
"Kan ada Evan Ma, tak perlu lah menjodohkan mereka." sunggut Evan.
"Memangnya Kamu mau sampai bangkotan jagain Kakakmu? setiap hari saja kerjaan kalian hanya bertengkar." selah Papa Adi.
Mendengar ucapan Papa Adi membuat Evan berfikir, ada benarnya juga ucapan sang Papa, jika saja Samson mau belajar ilmu beladiri tidak perlu Evan terus mengekori Samson, ia pun hanya bisa menghela nafas dengan kasar.
"Sebelumnya saya meminta maaf Nyonya, saya menolak perjodohan ini." ucap Bunga sembari menunduk.
Mama Rika menghela nafas panjang, akhirnya ia harus mendengar apa yang tidak ingin dia dengar.
"Bunga Tante tidak perlu jawaban sekarang, Tante siap menunggu sampai Kamu menerimanya." kali ini wajah Mama Rika terlihat benar-benar sendu.
Bunga mencoba menatap wanita parubaya yang sudah sangat baik padanya lalu menghembuskan nafas dalam-dalam.
"Kasih Bunga waktu ya Nyonya." ucapnya kemudian.
Akhirnya Mama Rika tersenyum lega, makan siang pun di mulai tanpa adanya Samson disana.
*
*
Evan berjalan lunglai menuju ruangannya, entah mengapa mendengar keinginan Mama Rika yang ingin menjodohkan saudaranya dengan Bunga membuatnya tidak bersemangat lagi.
"Cck ..kenapa Gue jadi lesu gini." Evan mengusap wajahnya kasar lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya.
"Bunga, apa Gue suka sama gadis itu. ah entahlah lebih baik lanjutin kerjaan aja."
Akhirnya Evan kembali serius dengan pekerjaannya, menginggat Samson tidak lagi kembali ke kantor membuatnya harus bekerja ekstra.
Bersambung ...
__ADS_1