Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 10


__ADS_3

"Bagaimana dengan kencanmu minggu kemarin?" tanya Airin kepada putranya.


Edgar yang tampak tengah memasang dasi terlihat menghela napas. Ia malas membahasnya. Dari sekian banyak wanita yang ibunya kenalkan, baru satu kali itu ada berani merendahkannya. Harga dirinya terasa diinjak-injak.


Masih jelas dalam ingatannya serangkaian kekesalah yang wanita itu lakukan padanya. Apalagi saat ia memakan sate usus waktu itu, kalau diingat lagi ia merasa mual.


Dili Lesmana. Nama itu tidak akan ia lupakan begitu saja. Apalagi wanita itu sudah berani mengatakan tepat di depan wajahnya bahwa wanita itu tak tertarik padanya. Seharusnya ia yang mengatakan hal itu. Tak ada satupun wanita yang mampu menolak pesonanya.


"Kalau kamu merasa cocok, Mama ingin kalian bertemu lagi."


"Tolong Mama berhenti melakukan hal itu padaku!" tegas Edgar.


"Hah, kok kamu jadi membentak Mama?" Airin cukup terkejut mendengar nada tinggi putranya. Ia sampai memegangi dadanya karena kaget.


"Ah, maaf, Ma ... Aku tidak bermaksud begitu." Edgar melembutkan suaranya. Ia memegangu tangan ibunya.


"Aku kira kamu mau memarahi Mama." Airin memasang wajah memelas.


"Tidak, Ma. Aku hanya tidak suka dijodoh-jodohkan terus. Aku masih mau fokus bekerja."


"Kalau usiamu masih awal 20an, Mama bisa memaklumi kamu terus bekerja, Edgar! Ini sekarang usiamu hampir memasuki 30 tahun dan belum ada wanita yang membuatmu tertarik? Bagaimana Mama tidak khawatir?"


"Iya, Ma." Edgar hanya bisa mengalah saat ibunya mulai mengomel. Kalau boleh jujur, ia memang belum memiliki keinginan untuk menikah.


"Apa kamu tidak dengar rumor yang beredar di kantor? Kamu itu dibilang penyuka sesama jenis, Edgar! Mama kan sakit hati! Kamu memilih sekertaris laki-laki, tim kamu juga semuanya laki-laki! Mereka kira kamu alergi wanita! Jangan bilang kalau rumor ini benar, Edgar! Mama bisa manti berdiri kalau kamu seperti itu."


Edgar memijit keningnya. Ia tak menyangka jika ibunya terlalu mempercayai candaan orang-orang di kantor. Ia sengaja memilih tim lelaki agar mudah diajak mobilisasi, kemanapun harus pergi tak ada kendala seperti yang akan dialami karyawan wanita. Para wanita perlu berdandan dan itu menurutnya sangat buang-buang waktu.


"Pokoknya Mama akan terus menjodohkanmu sampai ada yang cocok! Kalau yang kemarin memang tidak membuatmu tertarik, akhir pekan depan, Mama akan menjadwalkan kencan lagi untukmu!"


Mendengar kata kencan sudah membuat Edgar muak. Ia harus merelakan akhir pekannya yang berharga demi menemui wanita-wanita yang menurutnya tidak menarik sama sekali.


"Aku cocok dengan wanita yang Mama kenalkan kemarin," kilah Edgar.


"Benarkah?" raut wajah Airin terlihat senang. "Pilihan Mama kali ini tidak salah, kan?" ia langsung memeluk putra kesayangannya.

__ADS_1


"Tidak, Ma. Dia wanita yang menarik. Kami juga sudah sepakat untuk saling mengenal," kata Edgar.


"Oh, syukurlah kalau begitu. Mama merasa lega. Kalau sudah sama-sama cocok, kalian langsung menikah saja," desak Airin.


"Iya, Ma. Beri kami kesempatan untuk pendekatan dulu."


"Mama kan sudah tidak sabar untuk menimang cucu." Airin mengerlingkan sebelah matanya.


Edgar tidak bisa membantah lagi jika ibunya sudah seperti itu. Melihat kebahagiaan di wajah ibunya adalah keberhasilan terbesar untuk dirinya.


"Ya sudah, Ma. Aku mau berangkat kerja dulu. Kasihan Ramon yang menunggu di bawah," pamitnya.


"Kamu tidak sarapan dulu?"


"Aku sarapan di kantor saja, ini sudah hampir kesiangan."


Edgar meraih tasnya. Ia mencium pipi ibunya seraya bergegas pergi mememui Ramon di halaman rumah.


"Kita berangkat sekarang!" perintah Edgar setelah masuk ke mobil yang Ramon kemudikan.


Mobil mercy berwarna hitam itu mulai melaju meninggalkan halaman rumah mewah milik Edgar. Ramon merupakan asisten pribadi merangkap sopir yang sehari-hari mengantar Edgar ke kantor.


"Anda pasti ditanya-tanya tentang kencan kemarin, Pak?" tebak Ramon. Ia bisa menilai dari raut wajah kusut yang Edgar tunjukkan.


"Biasanya juga seperti itu, kan?" Edgar terlihat malas membahasnya.


"Nyonya tidak akan menyerah selama Anda belum menemukan pasangan yang cocok, Pak."


"Aku tahu. Makanya aku ingin mengakhirinya. Aku tidak mau dijodohkan lagi! Itu sungguh sangat menyiksaku."


"Artinya, Anda menerima wanita yang kemarin?"


Edgar terdiam sejenak. Ia bahkan tak terlalu mengenal wanita itu tapi dia sudah kabur duluan. Usianya lumayan terpaut 7 tahun darinya dan wanita itu masih mahasiswa.


"Apa aku masih kelihatan cocok dengan wanita yang lumayan lebih muda dariku? Dia masih kuliah." Edgar meminta pendapat Ramon.

__ADS_1


Ramon melirik ke arah spion tengah. "Masih kuliah? Wanita itu masih kuliah?" tanya Ramon heran. Setahu dirinya, selama ini Airin selalu memilihkan wanita dewasa dan matang untuk bersanding dengan Edgar. Mereka juga bukan wanita sembarangan, melainkan putri dari para pengusaha ternama.


"Ya, dia masih kuliah. Usianya kalau tidak salah 21 atau 22 tahun. Aku juga heran dengan pilihan ibuku kali ini." Edgar memikirkan kelakuan konyol dan menjengkelkan wanita itu. Dari sikapnya memang menunjukkan wanita itu belum dewasa.


Ramon sudah 5 tahun ikut dengan Edgar. Ia juga cukup tahu tentang keluarga Rayyes. Hubungan Ramon dan Edgar sudah seperti teman dekat.


"Kalau Anda memang merasa sudah cocok, saya rasa tidak ada salahnya. Lagi pula dia sudah kuliah, artinya sudah bisa dikatakan dewasa."


"Benar, kan? Aku takut dikatakan sebagai pedofil," ujar Edgar.


"Hahaha ... Pasangan yang memiliki selisih usia lebih jauh juga banyak, Pak. Anda juga belum kelihatan tua. Kalian masih berada di fase usia yag sama."


"Tahun depan aku 30 tahun, Ramon."


"Tahun depan saya 33 tahun, Pak!" sahut Ramon.


"Ah, iya. Enak juga menjadi dirimu, tidak ada yang mendesakmu agar segera menikah. Apa tidak ada yang sadar kalau kamu sudah tua?" ledek Edgar.


Ramon yang awalnya membela Edgar menjadi sedikit kesal mendengar ucapan atasannya itu.


"Bagaimana kalau aku sampaikan ini pada ibuku? Dia pasti akan semangat untuk mencarikanmu calon istri?" usul Edgar.


"Tolong jangan lakukan itu!" larang Ramon. Ia membayangkan betapa rumitnya jika Airin sudah ikut turun tangan.


"Kenapa? Kamu juga sudah dianggap seperti anak sendiri oleh ibuku. Sekalian biar kamu tahu bagaimana rasanya disuruh kencan setiap akhir pekan."


"Itu berlebihan, Pak. Saya tidak bisa bekerja membantu Anda jika harus sibuk berkencan," kilah Ramon.


Edgar kembali memikirkan tentang Dili. Jika ia sulit untuk menemui wanita itu, ia berencana akan mendatangi kampusnya. Ia tak bisa memaafkan kelakuan wanita itu terhadapnya.


***


"Hah! Repot juga kalau setiap hari harus lepas pasang kontak lens seperti ini," keluh Dili usai berhasil memasangkan lensa mata palsu di bola matanya. Ia sampai menitihkan air mata karena terasa perih.


Hari ini ia berencana menemui lelaki bernama Edgar itu lagi. Jika ia tidak berhasil membawanya ke hadapan sang ayah, ia pasti akan kembali dijodohkan dengan Adli.

__ADS_1


__ADS_2