Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 12


__ADS_3

Bruk!


"Tuh! Bantu aku kerjain tugas kuliah, dong!"


Seseorang baru saja melemparkan buku tepat di hadapan Dili setelah perkuliahan selesai. Terlalu sibuk memikirkan ayahnya, Dili sampai lupa jika kehidupan kampusnya dulu tak begitu menyenangkan. Sekarang, ia harus kembali mengulangnya.


Wanita yang seenaknya saja menyuruh dirinya bernama Tisya, putri salah satu petinggi di kampus mereka. Tisya baru kembali dari liburannya di luar negeri. Selama berkuliah, Dili terus menerus diganggu olehnya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Berani kamu menentangku?" bentak Tisya.


Dili menghela napas. Ia tak mau menjalani masa-masa terakhir di kampus dengan penuh penyesalan seperti dulu.


"Coba sesekali kamu kerjakan sendiri tugasmu, Tisya. Apa kamu tidak malu kuliah hanya dapat selembar kertas ijasah?" ejek Dili. Ia mengangkat tasnya dan hendak pergi dari kelasnya.


"Oh, berani sekali kata-katamu padaku!" Tisya menghentikan langkah Dili. Ia mencengkeram kuat lengan Dili sembari melotot.


"Singkirkan tanganmu!" Dili menepis tangan Tisya darinya dengan berani. Kematian yang sudah pernah dialaminya seakan tak lagi membuatnya takut akan apapun, termasuk Tisya.


Plak!


Tisya menampar Dili. "Kayaknya kita perlu memberi pelajaran kepada si culun ini! Bawa dia!" perintahnya.


Tiga orang teman Tisya langsung menarik tangan Dili dan menyeretnya paksa.


"Lepaskan aku!" teriak Dili. Tak ada seorangpun yang berusaha membantunya. Mereka hanya bisa melihatnya diperlakukan dengan tidak manusiawi.


Dili dibawa ke area belakang kampus yang sepi. Mereka berempat mengintimidasi lewat tatapan sinis dan sesekali mereka memukuli Dili.


"Dasar culun!" maki Tisya sembari mendorong Dili sampai jatuh tersungkur.


"Mulai berani dia melawan kita!" sahut salah satu teman Tisya.


"Pukul saja dia di tempat yang tidak terlihat dari luar seperti biasa. Jangan terlalu membuat curiga," ucap Tisya.


Awalnya Dili hanya diam pasrah menerima perlakuan semena-mena Tisya dan kawan-mawannya. Caci maki serta pukulan dibiarkan mengenai tubuhnya.


Dili termenung apakah dia akan terus seperti itu membiarkan dirinya diinjak-injak orang lain seperti dulu.

__ADS_1


"Ah! Berhenti kalian semua!" teriak Dili.


Entah kekuatan dan keberanian yang datang dari mana, Dili mengamuk kepada empat orang itu. Ia membalas pukulan mereka dengan membabi buta seperti orang kesurupan.


"Berani kalian menyakitiku? Memangnya siapa kalian memukuli tubuhku? Dasar sialan!" makinya.


Keempat wanita itu terlihat kewalahan menghadapi Dili yang seolah baru saja mendapatkan kekuatan. Penampilan mereka sampai berantakan. Mereka terbengong dengan keneranian orang yang selama ini mereka bully.


"Tisya ... Tisya ... Cepat ke area kantor rektorat!"


Salah satu teman baik Tisya berlari dengan napas terengah-engah menghampiri mereka di area belakang kampus. Ia kaget saat melihat kondisi mereka di sana.


"Tisya, kamu kenapa acak-acakan begini seperti setan? Di ruang rektorat sekarang sedang ramai, tahu!". Kata orang itu antusias memberikan kabar.


"Memang apa urusannya denganku? Mau ramai gara-gara demo aku juga tidak peduli!" ujar Tisya.


"Pak Edgar ada di sini, loh! Ada di kampus kita mau menemui ayahmu!" seru wanita itu dengan semangat.


"Apa? Ada Pak Edgar datang?" buru-buru Tisya membenahi penampilannya. Ia menyesal telah mencoba mencari masalah dengan Dili.


"Ayo buruan ke sana sebelum dia pergi!" ajak Tisya


Sementara, Dili jadi penasaran dengan nama yang baru saja disebutkan. "Edgar?" gumamnya.


Dili memutuskan untuk mengikuti mereka ke gedung rektorat. Benar saja, di sana sudah ada banyak mahaswa yang berkerumun dan didominasi kaum hawa.


Dili bersusah payah menembus kerumunan hanya untuk melihat orang yang baru saja dipuji-puji itu.


Dili tertegun saat melihat lelaki itu. Benar saja, dia Edgar yang menjadi pacar pura-puranya. Edgar datang bersama ayah Tisya. Seorang wanita cantik yang pernah ia lihat di restoran ternyata juga berada di sana. Baru ia sadari bahwa seharusnya Edgar berkencan dengan wanita itu. Namanya Gempi, kakak kandung Tisya.


"Dor!"


Dili sampai sedikit melonjak kaget saat tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya. Ketika ia berbalik badan, ternyata Maura ada di belakangnya. Ia menghela napas lega.


"Ngapain di sini?" tanya Maura.


"Tuh!"

__ADS_1


Dili menunjuk ke arah rombongan Edgar da. Gempi.


"Oh," gumam Maura.


"Kamu kenal mereka?" tanya Dili.


"Siapa sih yang tidak kenal dengan alumni terbaik kampus kita? Masih muda, ganteng, pintar lagi!" ucap Maura. "Makan di kantin, yuk!"


Maura menarik tangan Dili agar keluar dari kerumunan. Mereka bergandengan tangan berjalan menjauhi kerumunan menuju ke arah kantin.


"Edgar lulusan kampus kita, ya?" tanya Dili penasaran.


"Aduh, kamu ini payah banget! Dia sudah jadi legenda di kampus ini. Banyak yang tertarik masuk kampus ini juga karena terinspirasi dari Edgar," ujar Maura.


Dili hanya mangguk-mangguk. Selama ini ia tidak pernah terlalu tahu apa yang menarik dari kampusnya. Ia datang ke kampus hanya ingin kuliah, bukan mengurusi hal lain.


"Ngomong-ngomong, kenapa penampilanmu jadi seperti ini lagi? Waktu itu kamu kan sudah susah payah belajar dandan?" Maura terlihat sedikit cemberut. Ia sangat berharap melihat penampilan Dili yang berubah seperti waktu itu.


"Aku kan sudah bilang, aku dandan hanya untuk kepentingan kencan. Repot sekali kalau aku harus dandan hanya untuk datang ke kampus," ujar Dili.


"Kalau sudah terbiasa tidak akan terasa merepotkan. Lagipula ayahmu pasti sanggup untuk membayar seorang MUA untuk mengurusimu setiap hari," kata Maura.


"Hahaha ...." Dili tertawa dengan ucapan temannya. "Kalau setiap hari dirias oleh MUA, apa tidak seperti mau menikah setiap hari? Idemu itu ada-ada saja!"


"Oh, iya. Aku dengar tadi kamu diganggu lagi oleh Tisya dan geng-nya, ya?" tanya Maura.


"Ya, begitulah!"


Dili merasa malas mengingat kejadian tadi. Ia jadi teringat masa lalu yang menyakitkan selama kuliah. Namun, kali ini ia tidak akan tinggal diam jika ada yang merundungnya.


"Aku sampai khawatir terjadi sesuatu padamu. Tapi, kata anak-anak kamu berani melawan mereka," kata Maura. "Kamu hati-hati, ya! Hubungi aku kalau mereka mengganggumu lagi. Biasanya Tisya akan lebih kejam kalau ada yang melawannya."


Selama ini hanya Maura yang mau membela Dili di kampus. Anak lain malas untuk berurusan dengan Tisya yang merupakan salah satu petinggi di kampus mereka.


"Kayanya aku harus belajar tinju atau silat supaya lebih kuat menghadapi mereka," ucap Dili.


"Itu bagus kalau kamu berpikiran seperti itu. Nanti aku kenalkan pada temanku yang punya klub Kick Boxing," kata Maura.

__ADS_1


Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya mereka sampai di area kantin. Di kampus mereka, kantinnya seperti restoran. Makanannya tersaji dengan cantik dan lumayan mahal. Untuk mahasiswa dengan uang pas-pasan atau modal masuk dengan beasiswa, biasanya akan memilih makan di luar area kampus yang lebih murah.


__ADS_2