Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 15


__ADS_3

Gempi memperhatikan penampilannya di cermin kamar mandi. Ia memastikan dandanannya rapi agar tidak membuat malu dirinya dan perusahaannya.


Hari ini rencananya ia dan tim akan melakukan pertemuan dengan perusahaan Edgar, lelaki yang seharusnya dijadwalkan kencan buta dengannya saat itu. Ia sangat penasaran untuk melihat sosok lelaki itu secara langsung. Kabarnya Edgar sangat tampan.


"Ibu Gempi, apa Anda masih lama? Sebentar lagi tamu kita datang," kata asistennya.


"Oh, oke, aku akan keluar sekarang," jawab Gempi.


Sekali lagi ia memperhatikan penampilannya. Setelah mantap, ia keluar dari sana menemui anak buahnya.


"Ayo kita jemput mereka di parkiran," ajak Gempi.


Seluruh anak buahnya mengangguk setuju. Mereka kemudian berjalan menuju titik penjemputan yang telah disepakati.


Hari ini rencananya Edgar akan datang ke kampus milik orang tua Gempi untuk membahas rencana pembangunan panel surya. Gempi merasa beruntung ditunjuk sebagak perwakilan perusahaan utuk menemui para calon investor dan perusahaan rekanan, salah satunya Edgar.


"Pak, ini Nona Gempi. Dia yang seharusnya Anda temui saat kencan buta," ucap Ramon.


Edgar terlihat cukup terkejut saat mengetahuinya. Seharusnya malam itu ia bertemu dengan wanita yang tampak anggun dalam balutan pakaian kerja yang rapi. Namun, ia justru dipertemukan dengan wanita random dan aneh bernama Dili.


"Pak Edgar, akhirnya kita bertemu," kata Gempi sembari mengulurkan tangannya.


Ia baru tahu jika lelaki yang seharusnya ia temui ternyata setampan itu.


"Nona Gempi. Maaf untuk malam itu karena aku tidak bisa datang," kata Edgar.


Gempi mengulaskan senyum. "Tidak apa-apa, Pak. Saya memahami kesibukan Anda," ucapnya. Ia telihat senang bisa berkesempatan untuk bertemu dengan Edgar Rayyes.


"Jadi, Anda yang akan menangani proyek pembangunan panel surya di kampus ini?" tanya Edgar.


"Benar, Pak. Saya menjadi perwakilan perusahaan ayah saya untuk terlibat dalam proyek ini. Bagaimana kalau kita bertemu dengan pihak kampus untuk membicarakan rencana ini secara lebih rinci?" usul Gempi.


"Oke, mari kita ke sana."

__ADS_1


Rombongan Gempi dan Edgar berpindah menuju ke gedung rektorat untuk melakukan rapat dengan pihak kampus. Perusahaan Edgar menjadi salah satu yang menang tender dalam pembangunan panel surya yang direncanakan di kampus tersebut. Kehadiran mereka mendapatkan perhatian pada mahasiswa. Mereka sangat ini melihat sosok Edgar yang juga pernah berkuliah di sana dan menjadi lulusan terbaik.


***


Gempi memegang segelas wine sambil berdiri memandangi langit malam di balkon kamarnya. Sesekali ia meneguk cairan berwarna merah itu sembari mengingat pertemuannya dengan Edgar. Ia benar-benar menyukai lelaki itu.


Kemudian, ia juga teringat pertemuannya dengan Airin di mall. Ibu Edgar seperti menutupi sesuatu darinya. Ia ingin sekali diberi kesempatan lagi untuk bisa dekat dengan Edgar.


"Lagi ngapain, Kak?"


Suara Tisya menghentikan lamunan Gempi. Seperti biasa, adik kesayangannya itu tanpa permisi masuk ke dalam kamar dan langsung merebahkan diri di atas ranjangnya.


Gempi kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu sliding yang terhubung dengan balkon.


"Kenapa di sini? Balik ke kamar sana, besok kan kuliah!" perintah Gempi. Ia heran kenapa bisa punya adik sebandel itu. Tisya juga sangat malas kuliah.


"Santai saja, Kak. Telat juga tidak ada yang marah," ujar Tisya.


Gempi geleng-geleng kepala. Kelakuan adiknya sangat jauh berbeda dengan dirinya. "Jangan mentang-mentang orang tua kita jadi salah satu pemilik kampus kamu jadi seenaknya sendiri, Sya. Kuliah itu penting supaya menguasai ilmunya," tuturnya.


"Kita tidak selamanya akan bersama dengan orang tua. Kamu harus bisa hidup mandiri, bertumpu pada kakimu sendiri, Sya." Gempi secara halus masih berusaha menasihati adiknya yang punya sifat pembangkang.


"Ah, berhenti menceramahiku! Kakak ini sudah seperti orang tua!" gerutu Tisya. Ia datang ke kamar kakaknya untuk bercerita, bukan untuk mendapatkan nasihat yang menurutnya tidak penting.


"Kakak seperti ini justru karena peduli padamu," jawab Gempi seraya berjalan menghampiri adiknya di atas ranjang. Ia ikut naik dan duduk di sebelah adiknya.


"Kak, yang waktu itu datang ke kampus bareng Kakaka itu yang namanya Pak Edgar, ya?" tanya Tisya penasaran.


Gempi mengangguk.


"Jadi, dia yang mau dijodohkan dengan Kak Gempi? Dia calon kakak iparku, dong!" seru Tisya semangat. Ia mendesak Irene agar menceritakan semuanya dan ia siap untuk mendengarkan.


"Bukan dijodohkan sebenanya, tapi untuk kencan buta supaya saling kenal," kilah Gempi.

__ADS_1


"Itu sama saja, Kak! Yang penting dia akan jadi kakak iparku!" kata Tisya kegirangan. Ia sudah membanggakan hal itu di depan teman-temannya. Memiliki seorang calon kakak ipar yang tampan, kaya, dan mapan tentu saja membuat semua orang iri.


"Itu tidak seperti yang kamu pikirkan, Sya. Kami tidak berjodoh," kata Gempi.


Raut wajah Tisya yang awalnya antusias berubah kecewa. "Kenapa, Kak?" tanyanya.


"Waktu kencan itu kami tidak bertemu. Edgar tidak datang. Dia sudah mengatakannya waktu itu. Dan dia sama sekali tidak mrmbahas kelanjutannya," jawab Gempi.


"Ih, Kak Gempi harus lebih proaktif lagi, dong! Kalau dia tidak maju, Kak Gempi yang maju! Masa mau melepaskan calon suami unggulan seperti itu?" Tisya memberikan semangat yang menggebu-gebu agar kakaknya tidak menyerah.


"Kamu ini apa-apaan, sih! Kalau memang gagal ya untuk apa dipaksakan? Itu hanya akan membuat harga diri kita jadi rendah saja," ujar Gempi.


"Ah, jaman sekarang kalau suka mengalah maka akan kalah, Kak. Diperjuangkan dulu, dong!" kata Tisya. "Tapi, kalau Kak Gempi tidak mau maju, aku yang bakalan maju. Bagaimana?" tanyanya.


Gempi memicingkan sebelah alisnya. "Kamu juga tertarik dengan Edgar?"


"Kalau Kakak menanyakannya pada semua wanita di kota ini, nenek-nenek juga bakalan bilang suka, Kak!" kesal Tisya. Ia mendekat ke arah kakaknya dan bergelayut manja kepadanya. "Memangnya Kakak tidak begitu tertarik sama Pak Edgar?" pancing Tisya.


"Tentu saja tertarik," jawab Gempi. "Tapi, kalau memang Pak Edgar tidak tertarik ya sudah tidak apa-apa," ucapnya.


"Jangan pesimis seperti itu, Kak! Nanti aku bantu mendapatkannya," kata Tisya.


Gempi tersenyum. Meskipun adiknya tukang membuat masalah, tapi ia tahu jika Tisya sangat sayang kepadanya. Mereka sebagai kakak adik selama ini jarang bertengkar. Mereka hanya terkadang berbeda pemikiran. Gempi tipe yang realistis dan pesimis, sedangkan Tisya optimis dan ambisius.


"Oh, iya, Kak! Boleh tidak aku pinjam kartu kredit Kakak?" tanya Tisya.


Gempi mengerutkan dahi. "Buat apa? Kamu kan sudah punya sendiri?" tanyanya.


Tisya melebarkan senyumannya. "Punyaku sudah tidak bisa dipakai lagi, Kak, sudah mencapai limit," ungkapnya.


Gempi sampai tercengang mendengarnya. "Kamu pakai buat apa saja sampai seboros itu?" tanyanya kesal.


"Bukan aku yang boros, tapi memang jatah yang papa berikan sedikit," ungkap Tisya sambil manyun.

__ADS_1


"Halah! Kamu sih mau diberi uang seberapa banyakpun bakalan habis," kata Gempi.


"Ayolah, Kak ... Sekali ini saja, aku lagi pengin banget beli tas baru. Nanti juga Kakak aku bantu," rayu Tisya.


__ADS_2