Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 22


__ADS_3

Adli tiba di kantor Edgar dengan perasaan gugup yang terus membuncah di dalam dadanya. Ia tahu bahwa tujuan kedatangannya hari itu tidak mudah. Tidak hanya mencari tahu lebih lanjut tentang perusahaan teknologi yang dijalankan oleh Edgar, tetapi juga menemukan cara untuk mengenalnya lebih dekat. Namun, ia tidak ingin menunjukkan kegugupannya pada Edgar. Ia menyiapkan kata-kata yang tepat untuk mengawali pembicaraan.


Adli berjalan ke meja resepsionis dan memberitahu staf bahwa ia ingin bertemu dengan Edgar. Setelah menunggu selama beberapa menit, ia dipersilahkan masuk ke ruang tunggu. Ia memeriksa ponselnya, mencari beberapa informasi tentang Edgar dan perusahaannya. Tiba-tiba, pintu ruang tunggu terbuka, dan Edgar muncul.


"Selamat siang, saya Adli," kata Adli, sambil mengulurkan tangan.


"Selamat siang, Adli. Saya Edgar," jawab Edgar sambil menyambut jabatan tangan Adli.


Adli mencoba untuk tidak memperlihatkan kegugupannya. Ia menatap Edgar dengan penuh percaya diri. Edgar tampak santai dan tenang. Ia terlihat lebih tua dari Adli, tetapi masih memiliki wajah yang tampan dan karisma yang kuat.


"Mohon maaf jika saya datang tanpa diundang," kata Adli, mencoba memulai pembicaraan.


"Tidak apa-apa. Saya senang bisa berbicara dengan seseorang yang tertarik dengan bisnis kami," jawab Edgar.

__ADS_1


Adli kemudian membicarakan tentang bisnisnya dan mencoba menggali lebih dalam tentang perusahaan Edgar. Ia terus mencari topik-topik yang menarik perhatian Edgar. Ia juga menawarkan beberapa saran tentang pengembangan bisnis, yang membuat Edgar terkesan dengan wawasannya.


"Kamu punya visi yang jelas tentang bisnis, Adli," kata Edgar.


"Terima kasih, saya selalu berusaha untuk terus belajar dan berkembang," jawab Adli dengan senyuman.


"Bagus sekali. Kita bisa belajar dari satu sama lain," kata Edgar.


Adli terpaku setiap mendengar tutur kata yang keluar dari mulut Edgar. Setelah beberapa hari, akhirnya ia mengetahui bahwa Edgar bekerja di sebuah perusahaan teknologi di kota yang sama sebagai CEO.


"Kamu pernah bekerja di luar negeri?" tanya Adli, mencoba mencari tahu lebih banyak tentang latar belakang Edgar.


"Iya, saya pernah bekerja di Amerika Serikat dan Singapura sebelum memulai perusahaan ini," jawab Edgar.

__ADS_1


"Wah, itu sangat keren. Kamu pasti memiliki banyak pengalaman menarik," kata Adli.


"Benar. Saya belajar banyak tentang bagaimana menjalankan bisnis di negara-negara yang berbeda," jawab Edgar.


Mereka terus membicarakan topik-topik yang menarik selama hampir satu jam. Adli merasa ia telah memperoleh banyak wawasan dari Edgar, dan ia juga merasa lebih dekat dengan pria itu. Namun, saat Adli melihat jam di tangan kirinya, ia merasa sudah cukup lama berada di kantor Edgar. Ia pun memutuskan untuk mempersingkat obrolan mereka.


“Baiklah, Edgar. Sepertinya saya harus kembali ke kantor sekarang. Terima kasih atas waktunya hari ini,” ucap Adli sambil tersenyum.


“Tidak ada masalah. Saya senang bisa berbincang-bincang denganmu, Adli,” balas Edgar sambil mengulurkan tangannya.


Adli merasa senang melihat tindakan sopan Edgar. Ia merasa tindakan itu mengindikasikan bahwa Edgar adalah orang yang sangat profesional. Ia pun menggenggam tangan Edgar dan merasakan kekuatan yang ada di baliknya. Ia merasa sedikit minder, karena Edgar terlihat lebih kuat darinya.


“Baiklah, sampai jumpa lagi,” ucap Adli sambil berjalan menuju pintu.

__ADS_1


“Sampai jumpa,” balas Edgar.


Saat Adli keluar dari kantor Edgar, ia merasakan adrenalinnya meningkat. Ia merasa telah mendapatkan banyak informasi berharga tentang Edgar dan perusahaannya. Ia merasa senang karena ia telah berhasil memperoleh banyak informasi dari Edgar.


__ADS_2