Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 13


__ADS_3

Dili duduk di depan meja riasnya menyapukan alat-alat make up untuk membuat tampilannya terlihat lebih cantik. Ia sangat bersyukur bisa belajar merias diri dari Maura.


Malam ini akhirnya tiba. Ia akan mengenalkan Edgar kepada ayahnya agar tidak lagi dijodohkan dengan Adli. Di kehidupannya sekarang, ia tidak mau berjodoh dengan lelaki itu. Bahkan kalau bisa, ia tidak perlu menikah. Setelah kematiannya, ia tak bisa gampang mempercayai orang. Sikap baiknya ternyata bisa dibalas dengan kekejian oleh orang terdekatnya.


Usai berdandan, ia berdiri di depan cermin besar memperhatikan penampilannya yang sudah terlihat cantik. Sebelumnya ia tidak pernah memperhatikan penampilan. Pandangan orang terhadap dunia ternyata sangat berbeda dengan dirinya.


Ia segera keluar kamar menyadari waktu pertemuan akan segera tiba. Ia menuruni satu per satu anak tangga menuju ke lantai bawah. Ada ayahnya yang telah menunggunya di sana.


"Wah, putriku terlihat sangat cantik malam ini," puji Indra saat melihat anak semata wayangnya turun dari tangga menghampiri dirinya.


Penampilan Dili saat berdandan membuatnya pangling. Bagi Indra, putrinya selalu menjadi yang tercantik. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa putrinya menjadi terlihat sangat cantik dengan dandanannya. Bahkan tanpa kacamata putrinya terlihat jauh lebih cantik.


"Tentu saja, Ayah. Malam ini kan pacarku mau datang," kata Dili.


Indra tertawa kecil. Terkadang ia masih tidak percaya jika kini putrinya telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Putri kecil yang selalu terlihat malu-malu kini seakan telah menemukan kepercayaan dirinya.


Indra lebih memilih rumahnya sendiri sebagai tempat perjamuan agar pembicaraan mereka nantinya akan menjadi lebih privat. Dia juga benar-benar ingin memastikan jika Edgar menyukai putrinya.


"Kamu tidak mengenakan kacamatamu, apa penglihatanmu tidak terganggu?" tanya Indra. Seingatnya, terakhir kali periksa Dili telah minus lima di kedua matanya.


"Tentu saja buram, Ayah. Ini aku pakai bantuan softlens." Dili menunjuk pada matanya yang kini berwarna abu-abu muda.


"Oh, ayah baru tahu. Seperti ini memang jauh membuatmu terlihat lebih cantik." sekali lagi Indra memuji putrinya sendiri.


"Ya, memang cantik. Tapi menyakitkan. Repot melepas pasangnya. Mataku selalu berair, Ayah," keluh Dili.


Anak dan ayah itu menuju ke ruang tengah, duduk bersantai sembari menunggu kehadiran Edgar.


"Memangnya tidak ada yang permanen supaya praktis tak perlu lepas pasang?" tanya Indra.

__ADS_1


"Belum ada, Yah. Tapi, sebenarnya bisa melakukan operasi lasik. Katanya bisa menghilangkan minus mata."


"Kalau begitu, lakukan saja. Kamu jadi tidak perlu khawatir kacamatamu hilang," ledek Indra. Entah sudah berapa kali Dili mengganti kacamatanya karena lupa.


Seorang pelayan datang menghampiri Indra dari arah depan. "Tuan, tamunya sudah datang."


"Persilahkan dia masuk!" titah Indra.


Indra dan Dili lantas beralih dari ruang tengah menuju ke arah ruang tamu mengikuti pelayan tadi.


Edgar terkesima dengan kecantikan yang terpancar dari Dili. Menurutnya wanita itu lebih cantik dari pada malam pertemuan pertama mereka. Apalagi dengan pakaian yang terlihat lebih elegan.


"Oh, Edgar, aku tidak menyangka kamu akan datang bertamu ke rumahku karena putriku," gumam Indra seraya menjabat tangan pengusaha muda yang selama ini menjadi rekan bisnisnya.


"Saya juga tidak menyangka jika Nona Dili adalah putri Anda," ujar Edgar.


"Duduklah!" pinta Indra.


Edgar mencuri pandang ke arah Dili. Wanita itu terlihat tersenyum kepadanya.


"Jadi, apa benar kalian sudah saling mengenal satu sama lain?" tanya Indra.


"Benar, Pak. Sekitar dua minggu yang lalu kami bertemu dan sepertinya kami saling merasa nyaman," jawab Edgar. Ia berusaha mengikuti skenario yang telah disepakati dengan Dili.


Indra terdiam sejenak. Masih tak bisa dipercaya pengusaha muda seperti Edgar akan tertarik pada putrinya. Sebelumnya ia selalu mencemaskan jodoh Dili. Diakuinya bahwa sang putri memiliki paras yang biasa-biasa saja serta sifat yang polos.


"Sejujurnya malam itu putriku hendak bertemu dengan pemuda lain. Entah bagaimana ceritanya putriku bisa bertemu denganku," ucap Indra. Ia tak ingin menutupi kenyataan yang sebenarnya.


"Ah, begitu?" Edgar pura-pura tidak tahu. "Mungkin ini takdir kami. Putri Anda sudah terlanjur membuat saya jatuh cinta."

__ADS_1


Edgar melirik ke arah Dili. Mengingat pertemuan pertama mereka masih membuatnya kesal.


Dili ingin tertawa mendengarnya. Edgar sangat bagus dalam melakukan aktingnya.


"Putriku masih kuliah," kata Indra.


"Saya sudah tahu, Pak. Saya tahu arah pembicaraan Anda. Usia kami memang terpaut lumayan jauh. Tapi, dari pembicaraan yang pernah kami lakukan, Dili terlihat sangat dewasa. Kami cocok satu sama lain." Edgar sudah mempersiapkan pembahasan itu sebelum datang. Ia tahu bagi sebagian orang, usia menjadi topik yang penting.


Indra terdiam. Edgar pemuda yang cerdas, bahkan mampu membaca pertanyaan yang belum keluar dari mulutnya.


"Tentunya kamu sudah tahu kalau aku sangat tidak suka berbasa-basi, Edgar. Akan aku tanyakan sekali lagi, apa kamu bersungguh-sungguh mencintai putriku?" tanya Indra. Ia tak ingin putrinya mendapatkan pasangan yang salah. Apalagi Edgar seorang pengusaha muda pasti banyak wanita yang menginginkannya. Ia takut Edgar hanya main-main dengan putrinya.


"Kalau saya tidak serius, lantas untuk apa saya datang malam ini, Pak? Apa perlu saya menikahi Dili malam ini juga?" tantang Edgar.


Dili langsung melebarkan mata mendengar ucapan Edgar. Itu tak ada dalam kesepakatan mereka.


Indra turut terkejut mengan kelugasan bicara Edgar. "Hahaha ... Tidak perlu sampai sejauh itu. Kalian lebih baik saling mengenal dulu. Kenalkan pula Dili kepada keluargamu. Jika memang semuanya cocok, baru kita bicarakan hal yang lebih serius lagi," katanya.


"Keluarga saya tidak akan keberatan untuk menerima wanita secantik Dili," ucap Edgar. Ia kembali melirik ke arah Dili. Tatapan mata mereka bertemu.


Dili tidak begitu yakin dengan apa yang Edgar ucapkan. Ia belum bertemu dengan keluarga lelaki itu. Tapi, asalkan bisa mengulur waktu, ia tidak masalah sampai Adli akhirnya menyerah untuk mendapatkan dirinya.


"Baiklah kalau begitu, kita pindah ke ruang makan sekarang. Entah nanti kamu akan cocok atau tidak dengan masakan di keluarga kami," ucap Indra. Ia mempersilakan Edgar menuju ruang makan di rumahnya.


Dili dan Edgar berjalan menuju ruang makan di belakang Indra. Mereka terus saling beradu pandangan mata seolah kedua mata meka bisa berbicara.


Para pelayan sengaja menyiapkan makan malam yang spesial untuk menyambut kedatangan pacar Nona mereka.


Para pelayan terlihat bahagia melihat ketampanan pacar Dili yang datang. Mereka juga gemas melihat penampilan Nona-nya yang tidak biasa. Betapa mereka bersyukur jika bisa menyaksikan Nona-nya mendapatkan kebahagiaan.

__ADS_1


Selama makan malam, ada banyak hal yang Edgar dan ayah Dili perbincangkan. Mulai dari cerita-cerita ringan, sampai masalah pekerjaan. Saking bagusnya chemistry antara Edgar dan sang ayah, Dili di sana sudah seperti tokoh figuran.


__ADS_2