
Setelah beberapa menit menunggu, Pak Mizan keluar dari ruangan dan menghampirinya. "Dili, sudah siap untuk memulai pekerjaanmu?" tanyanya.
Dili mengangguk antusias, "Ya, Pak. Saya siap."
Pak Mizan tersenyum, "Bagus. Saya harap kamu bisa belajar banyak di sini."
Dili mengangguk, "Saya akan berusaha sebaik mungkin, Pak."
Pak Mizan melihat jam di tangannya, "Baiklah, sekarang waktunya untuk memulai. Ayo ikuti saya."
Dili mengikuti Pak Mizan keluar dari ruangan menuju ke divisi Produksi. Dalam perjalanan, Dili merasa tegang dan sedikit gugup. Ia berharap dapat memberikan yang terbaik pada hari pertamanya. Mereka berjalan melewati koridor dan menuju ke divisi yang akan menjadi tempat Dili bekerja.
"Terry, Miko, Wuni, ini Dili, anak magang baru kita," kata Pak Mizan memperkenalkan Dili. "Dili, mereka adalah Terry, Miko, dan Wuni, rekan kerjamu di sini."
Pak Mizan mengenalkan Dili kepada para rekan kerjanya, Terry, Miko, dan Wuni. Mereka menyambut Dili dengan ramah dan bersahabat.
Dili merasa lega ketika diterima dengan baik oleh rekan-rekannya di Divisi Produksi. Mereka berempat kemudian duduk di ruang tamu sambil menunggu briefing pagi dari manajer mereka.
__ADS_1
"Salam kenal, aku Dili," ucap Dili sambil tersenyum ramah.
"Salam kenal juga, Dili. Aku Terry," kata Terry sambil mengulurkan tangannya.
"Miko," kata Miko juga mengulurkan tangannya.
"Wuni," kata Wuni sambil tersenyum manis.
Dili menerima sapaan mereka satu per satu dan berterima kasih atas sambutan mereka yang ramah. Mereka berbincang-bincang sebentar sebelum briefing dimulai.
"Sudah tahu sedikit tentang tugasmu di sini, Dili?" tanya Terry.
"Oke, nanti kami bisa kasih tahu kamu lebih banyak tentang tugas-tugas di sini," kata Miko.
"Sudah berapa lama kamu belajar tentang produksi, Dili?" tanya Wuni.
"Sebenarnya jurusanku Aktuaria tidak membahas secara khusus tentang produksi. Tapi, aku sudah mempelajarinya sendiri dari baca-baca dan diskusi dengan teman dari jurusan manajemen," jawab Dili.
__ADS_1
"Wah, keren. Ternyata anak magang kita ahli hitung-hitungan. Seharusnya ikut gabung dengan Pak Adli di divisi keuangan," ujar Wuni.
"Pasti itu berat untuk anak magang bergabung di sana. Soalnya kata orang kerjanya nggak bisa santai. Jangan kamu kira Pak Adli lemah lembut seperti yang terlihat. Kalau sudah mode kerja, napas karyawan saja diawasi," sahut Miko.
"Sudah, sudah, jangan menakuti anak baru," kata Terry. "Dili, selamat bergabung di perusahaan, ya! Semoga kamu dapat banyak wawasan di sini," katanya bijak.
Dili merasa senang bisa berbincang-bincang dengan rekan-rekan barunya. Mereka terlihat sangat ramah dan hangat. Tak lama kemudian, briefing pun dimulai dan mereka semua sibuk mempersiapkan diri untuk memulai tugas mereka di hari pertama.
Setelah briefing selesai, Terry, Miko, dan Wuni membawa Dili mengelilingi kantor dan menjelaskan setiap bagian dan fungsinya. Mereka juga memberikan tips dan trik untuk bekerja dengan efektif di kantor.
"Kami semua selalu bekerja dengan team work di sini, Dili," kata Terry. "Jangan ragu untuk minta bantuan atau bertanya apapun pada kami, ya."
"Terima kasih, Terry. Aku akan berusaha semaksimal mungkin," jawab Dili.
Miko menambahkan, "Oh ya, kalau ada kesulitan dalam mengerjakan tugas, jangan ragu untuk meminta bantuan Pak Mizan atau supervisor lainnya."
"Sudah saatnya kita mulai bekerja, ya. Selamat bekerja, teman-teman!" ucap Wuni sambil tersenyum.
__ADS_1
Dili merasa semangat dan siap untuk memulai tugasnya sebagai anak magang. Ia berterima kasih pada Terry, Miko, dan Wuni yang sudah menyambutnya dengan baik. Ia merasa bersyukur bisa bekerja di lingkungan yang ramah dan bersahabat.
Dili merasa senang dengan sambutan hangat dari rekan kerjanya. Meskipun demikian, ia masih merasa canggung karena merahasiakan jati dirinya sebagai anak bos. Ia khawatir akan menjadi tidak enak di kantor jika rahasia tersebut terbongkar.