Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 7


__ADS_3

"Kamu mau belajar make up?" Maura tercengang saat Dili datang dan mengungkapkan kemauannya.


Selama ini, ia selalu berpikir bahwa temannya itu hanya fokus belajar dan tak peduli pada penampilan. Dili termasuk mahasiswa yang cerdas, hanya saja sifat pemalunya yang membuat kemampuan itu tak begitu menonjol. Dili memang orang yang kurang suka menjadi pusat perhatian.


Mendengar temannya itu mau belajar make up, rasanya sangat aneh. Apalagi untuk gadis pemalu seperti Dili.


"Kamu mau nggak ngajarin?" tanya Dili.


"Ya, mau-mau saja, sih ... Cuma aneh saja nggak kamu banget mau bahas masalah dandan. Biasanya kan kita bahasnya tugas kampus," ujar Maura.


"Aku ingin melakukan sesuatu yang belum pernah aku lakukan," ucap Dili.


"Jangan-jangan ... Kamu sedang jatuh cinta pada seseorang, ya?" tebak Maura.


Dili hanya tersenyum. Kali ini alasannya bukan karena ia tengah jatuh cinta. Namun, ia ingin membuktikan pada lelaki yang pernah membunuhnya bahwa ia bisa menjadi cantik.


"Sudahlah! Apapun alasanmu, aku senang mendengar niatku mau berubah. Aku jadi bakalan punya teman ngobrol tentang make up!" kata Maura dengan semangat.


Ia segera berjalan ke arah meja rias mengambil serangkaian alat make up yang sesederhana mungkin untuk seorang yang belajar dari make up.


"Oke, aku yakin kamu pasti tidak terlalu awam untuk masalah make up ya, Dil! Kamu juga sudah biasa memakai bedak tipis saat ke kampus. Ini ada beberapa produk make up yang harus kamu punya." Maura mulai menjelaskan satu persatu produk make up yang biasa ia pakai dan fungsinya.


"Kayaknya kacamata tebalmu itu perlu dibuang jauh-jauh, deh!" usul Maura.


"Aku tidak bisa melihat jelas kalau tanpa kacamata, Maura!" Dili menolak usul tersebut.


Maura menarik paksa kacamata yang Dili kenakan. Ia menjauhkan agar Dili tak memakainnya lagi. "Kalau kamu mau perubahan yang signifikan, ya harus berani melepas kacamata itu. Sebenarnya kamu cantik juga loh tanpa kacamata."


Dili beberapa kali mengedipkan mata karena pandangannya memang sedikit buram tanpa bantuan kacamata.


"Kebetulan aku punya softlense sepertinya sesuai dengan minus matamu. Ini akan lebih baik dari pada memakai kaca mata." Maura mengambilkan kotak softlense yang hendak diberikan pada Dili.


"Perasaan matamu normal, kan? Memangnya sekarang kamu minus?" tanya Dili heran.

__ADS_1


"Itu pesanan kakakku yang titip sama temannya dari luar negeri. Minusnya sama denganmu."


Dili memandangi benda yang Maura berikan padanya itu. "Nanti kakakmu marah, kenapa diberikan padaku?" tanyanya.


"Nggak apa-apa, nanti aku pesankan lagi produk yang sama. Aku juga masih lama mudiknya. Jadi, kamu pakai saja. Sini aku bantu!"


Maura membantu memasangkan softlense itu ke mata Dili. Awalnya Dili merasa seperti ada yang mengganjal di matanya, namun lambat laun terasa enak dan nyaman. Ia bisa melihat sekeliling dengan jelas tanpa kacamata. Dili mengembangkan senyum.


"Lebih nyaman pakai ini, kan?" tanya Maura.


"Iya, ini lebih ringan." Dili mengedip-ngedipkan matanya takjub. Baru kali ini ia tahu ada benda bermanfaat seperti itu.


Maura membawakan sebuah cermin dan mengarahkan padanya. "Coba deh lihat dirimu di cermin," pintanya.


Dili menurut. Ia melihat pantulan bayangannya sendiri pada cermin. Ia tertegun seperti melihat seseorang yang bukan dirinya. Padahal, ia hanya melepas kacamata dan mengenakan lensa kontak, namun ia seperti orang yang berbeda.


"Sudah aku bilang, kamu sebenarnya cantik tanpa kacamata tebal itu," ucap Maura.


"Kamu bisa melakukan operasi lasik, Dili. Nantinya kamu tidak perlu memakai kacamata lagi. Tapi, pakai softlense sesekali untuk mendapatkan tampilan yang berbeda juga bagus."


Mendengar kata operasi sudah lebih dulu membuat Dili takut. Sejak dulu kata-kata itu sangat menyeramkan, makanya ia tidak mau melakukannya.


"Kita mulai saja ya, belajarnya. Aku akan merias sebelah wajahmu dan kamu rias sebelah wajahmu juga."


Maura mulai mengaplikasikan produk make up ke wajah. Dili mengikuti di sebelah wajahnya dengan perlahan seperti yang Maura contohkan. Anehnya, ia merasa sangat mudah mengikuti langkah demi langkah yang Maura ajarkan. Bahkan sewaktu menggambar alis, ia bisa melakukannya dengan mudah tanpa ada kesulitan. Seakan ada tangan yang ikut membimbingnya.


"Kamu cepat sekali belajar, Dili. Hasilnya sudah bagus dan rapi," puji Maura.


"Sebenarnya aku disuruh mencan buta oleh ayahku."


Maura mengerutkan dahi. "Serius? Ayahmu sampai melakukan hal itu?" tanyanya.


Dili mengangguk.

__ADS_1


"Aku harap lelaki yang dikenalkan padamu lelaki yang baik, ya! Jaman sekarang banyak lelaki hidung belang atau buaya yang tidak punya ketulusan cinta. Jangan sampai deh kita jatuh cinta pada lelaki semacam itu."


Dili tersenyum sembari mengumpat dirinya sendiri dalam hati yang pernah jatuh cinta pada lelaki tampan namun pembunuh.


"Karena kamu nantinya mau kencan, berarti kamu juga butuh pakaian yang bagus!" ujar Maura.


"Memangnya pakaianku jelek?" tanya Dili sembari menunjuk ke arah pakaiannya. Meskipun pakaiannya terlihat kampungan dan norak, namun harga pakaian yang Dili kenakan juga lumayan mahal.


"Kalau tampilannya begini ya pasti jelek!" ejek Maura. "Ayo kita ke mall!"


Maura menarik tangan Dili mengajak wanita itu untuk belanja. Uang bukanlah hal yang sulit untuk Dili karena dia anak orang kaya.


Tak perlu butuh waktu lama, mall ada di lantai bawah apartemen yang Maura tempati. Ia membawa Dili ke beberapa toko barang bermerk untuk memilihkan pakaian yang bagus dan cocok untuk temannya itu.


"Untuk memberikan penampilan yang sempurna, make up juga harus ditunjang dengan pakaian yang tepat," ujar Maura.


Dili hanya pasrah saja. Ia seperti manekin yang diam saat dipasangi beberapa model pakaian. Tidak bisa dipungkiri jika pilihan Maura memang bagus.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Maura.


Dili berdiri di depan cermin mengenakan pakaian yang Maura pilihkan untuknya. Dengan make up sederhana, pakaian yang menunjang serta tas dan sepatu yang Maura pilihkan, ia tampil terlihat cantik dan anggun. Mungkin ini pertama kali dalam hidupnya ia merasa menjadi secantik itu.


"Maura, terima kasih, ya," ucap Dili. Ia memeluk teman baiknya sembari menitihkan air mata haru.


"Aduh, kamu lebay banget, deh! Ini bukan apa-apa, ya ... Aku senang sekali bisa melihatmu berubah jadi lebih cantik seperti ini," kata Maura.


Maura mengusap air mata yang menetes di pipi Dili. "Nanti kalau kamu sudah bertemu dengan orang yang ayahmu jodohkan, jangan lupa ceritakan padaku, ya!" pintanya.


"Pasti," kata Dili.


"Setelah ini, buang semua baju-baju lamamu! Gayamu memang sangat kuno. Pokoknya, kamu harus jadi orang yang baru!"


Maura terlihat senang dengan perubahan Dili. Ia bangga pada temannya yang kini bisa menemukan kepercayaan diri.

__ADS_1


__ADS_2