
Saat Adli kembali ke kantor, ia melaporkan hasil pertemuannya dengan Edgar kepada Wika.
“Jadi, bagaimana dengan Edgar?” tanya Wika sambil tersenyum.
“Dia adalah orang yang sangat cerdas dan berpengetahuan luas. Aku merasa telah memperoleh banyak informasi berharga dari dia,” jawab Adli.
“Bagus sekali, Sayang. Tapi, apakah kamu berhasil mengetahui apapun tentang hubungan Edgar dan Dili?” tanya Wika.
“Tidak, sayangnya tidak ada yang bisa aku pelajari tentang itu. Bukankah terdengar aneh kalau aku langsung bertanya hal pribadi padanya? Setidaknya kita sudah tahu kalau lelaki bernama Edgar itu bukanlah orang sembarangan,” jawab Adli dengan wajah sedikit kesal.
“Jangan khawatir, kita masih bisa mencari tahu tentang hubungan mereka,” ucap Wika dengan penuh semangat.
Mereka kembali mengatur rencana untuk mencari tahu tentang hubungan antara Edgar dan Dili. Mereka terus berdiskusi hingga larut malam, dan akhirnya mereka berhasil menciptakan sebuah rencana baru.
“Baiklah, aku akan kembali lagi ke kantornya dalam beberapa hari. Aku akan mencoba mencari tahu lebih lanjut tentang hubungan mereka,” ucap Adli.
__ADS_1
Wika hanya mangguk-mangguk. Ia mengambil sebatang rokok lalu menyalakan dan menghidapnya. "Ada yang ingin aku sampaikan padamu," ucapnya sembari menghembuskan asap rokok yang baru saja dihisapnya.
"Apa?" tanya Adli. Dia turut meminta sebatang rokok dan menyalakannya seperti Wika.
"Aku punya target lain."
Adli memandang Wika dengan tatapan kaget dan tidak percaya. "Apa yang kamu bilang?" tanyanya dengan suara gemetar.
Wika tersenyum kepadanya. Ia menaruh rokoknya di atas asbak seraya mendekat ke arah Adli dan memeluknya. "Ya, aku punya target lain. Aku ingin meluluhkan hati seorang pengusaha kaya raya, pemilik perusahaan konstruksi, Pak Heriawan," ucapnya.
Wika melepaskan pelukannya. Ia menatap Adli dengan senyuman mautnya. "Apa aku harus peduli? Aku hanya ingin mencari cara agar kita bisa bahagia di masa depan. Kita bisa memiliki banyak harta dan hidup dengan nyaman."
Adli hanya bisa terdiam memendam amarahnya. Ia merasa cemburu. Ia tidak suka ide Wika mendekati lelaki lain. "Kenapa idemu selalu seperti itu? Apa tidak cukup aku yang bertindak? Kamu yang menyuruhku untuk mendekati Dili," ucapnya dengan raut wajah yang menunjukkan ketidaksukaan.
Wika menatapnya dengan tajam. "Sayang, kita tidak bisa selamanya bergantung pada Indra. Kita harus mencari cara lain untuk bisa meraih kebahagiaan kita sendiri. Ini hanya rencana cadangan jika usahamu nanti gagal."
__ADS_1
Adli masih tidak sepenuhnya yakin dengan rencana Wika. Ia merasa cemas jika Wika melakukan kesalahan dan merusak hubungan mereka. "Cari cara lain saja. Aku tidak ingin kamu melakukan sesuatu yang salah dan merusak hubungan kita," katanya seraya membuang muka.
Wika menggelengkan kepalanya. "Maaf, Sayang, tapi aku harus melakukan ini. Aku akan berusaha semaksimal mungkin dan aku yakin ini akan berhasil. Kita akan hidup bahagia sesuai impian kita."
Adli terdiam sejenak. Ia tahu bahwa tidak mungkin mengubah pendapat Wika, terlebih lagi ketika perempuan itu sudah berbicara tentang masa depan mereka.
“Selain tidak etis, masuk ke kehidupan orang lain sangat beresiko. Apalagi jika istri dan anaknya tidak terima. Kita belum mengenal secara pasti bagaimana watak mereka,” ucap Adli dengan suara serak.
Wika menatapnya dengan tatapan dingin. “Ini tentang uang, Adli. Kita membutuhkan uang. Banyak uang. Kamu tahu itu!"
Adli merasa sakit hati. Ia sudah melakukan banyak hal tapi sepertinya belum juga bisa memuaskan Wika. Baginya, uang bukanlah segalanya. Ia hanya berusaha mendapatkan uang demi membahagiakan wanita yang dicintainya.
“Aku tidak ingin tahu lagi tentang rencana ini!,” ucap Adli dengan tegas.
Wika hanya mengangkat bahu. “Bagaimana pun juga, keputusan akhir ada pada kita masing-masing. Kalau kamu tidak mau ikut, ya terserah. Tapi aku akan tetap melakukannya.”
__ADS_1
Adli tidak tahu harus bagaimana lagi untuk berbicara dengan Wika yang sangat keras kepala. Apapun yang sudah diputuskannya, tidak bisa diganggu gugat.