
Dili merasa canggung duduk di hadapan Adli. Saat jam makan siang, mereka tak sengaja bertemu lagi. Adli menawarkan untuk makan siang bersama di kafe samping kantor. Dili merasa sungkan untuk menolak.
Entah mengapa perasaan bencinya yang menggebu-gebu bisa meleleh saat berhadapan langsung dengan lelaki itu. Di kehidupan sebelumnya, lelaki itu adalah suaminya yang tega membunuh dirinya demi harta.
Dili merasa lelaki itu bisa saja menjadi baik. Sebenci apapun perasaannya, ada sisi kebaikan Adli yag masih membekas di hati. Dua tahun rumah tangga mereka berlangsung dengan baik, Adli memperlakukannya bak seorang putri. Meskipun hal itu mungkin saja lelaki itu lakukan dengan terpaksa karena pengaruh ibu tirinya.
"Seharusnya kita bisa lebih awal bertemu," ucap Adli seraya menyeruput kopinya.
"Maksud Bapak apa?" tanya Dili ingin tahu. Ia menikmati sesuap demi sesuap spaghetty yang dipesannya.
Adli menatap Dili sembari tersenyum. "Aku tidak perlu berpura-pura kan di sini?"
Dili menaikkan pandangan menatap Adli. Lelaki itu benar-benar menawan. Ia sampai mengakui dirinya yang bodoh dulu bisa jatuh cinta pada Adli. Lelaki itu memang sangat tampan dan kharismatik. Ia kesal dengan dirinya sendiri yang lagi-lagi jatuh cinta pada lelaki munafik itu.
"Ayahmu sempat berniat memperkenalkanku padamu. Waktu itu aku sudah datang ke restoran itu, tapi kamu tidak datang," kata Adli.
"Ah, itu." Dili kembali teringat pada malam itu. Ia memang sengaja membatalkan niatnya dan malah pergi dengan Edgar.
"Boleh aku tahu, apa alasanmu tidak datang waktu itu?" tanya Adli.
Nada bicara Adli masih sama, terdengar lembut dan santun. Siapa saja yang berbicara dengannya pasti akan tertarik padanya. Tutur kata Adli seperti memiliki magnet yang mampu menggaet lawan bicaranya.
"Sebenarnya saya datang, tapi saya salah bertemu orang. Maafkan saya," ucap Dili.
__ADS_1
Adli kembali mengulaskan senyum. "Aku tidak tahu siapa yang waktu itu kamu temui, tapi perkenalkan, namaku Adli, manajer keuangan di perusahaan ini," katanya seraya mengulurkan tangan.
Irene membalas jabatan tangan itu.
"Karena ini pertemuan pertama kita secara langsung, bagaimana kalau kita mulai saling mengenal hari ini?" tanya Adli.
"Maksudnya?" Dili merasa tidak paham dengan ucapan Adli.
"Perjodohan yang Pak Indra rencanakan di antara kita, mari kita mulai saling mengenal," ujar Adli.
"Em, bukan maksud tidak sopan, Pak. Sebenarnya saya belum terlalu tertarik dengan pernikahan. Saya masih ingin fokus dengan kuliah dan mencari pengalaman kerja," kilah Dili.
Adli merasa sedikit kecewa mendengar penolakan Dili. Namun, ia bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Ia ingin tahu apa yang terjadi dan ingin membantu Dili.
"Maaf jika terkesan terlalu cepat memperkenalkan diri dan berbicara tentang perjodohan. Aku hanya ingin tahu, apakah ada yang membuatmu tidak ingin melanjutkan hubungan ini?" tanya Adli dengan lembut.
Adli tersenyum kecut saat Dili mengatakan tengah menyukai lelaki lain. Ia merasa kecewa dan sedikit tersinggung karena sebelumnya ia merasa ada chemistry antara mereka. Namun, ia tidak ingin menunjukkan rasa kecewa tersebut pada Dili.
"Ah, begitu ya. Aku harap kalian berdua bisa bahagia," ucap Adli dengan senyum terpaksa.
"Iya, terima kasih. Saya harap begitu juga," jawab Dili sambil tersenyum.
"Boleh aku tahu siapa dia? Aku penasaran," tanya Adli.
__ADS_1
"Seorang teman dari kampus. Namanya Edgar," jawab Dili.
Adli mengangguk-anggukkan kepala. "Oh, itu bagus. Aku harap kalian berdua bisa saling mendukung dan bahagia bersama."
Dili hanya bisa menyimpan perasaan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri. Betapa ada rasa kebencian dan kerinduan pada sosok di hadapannya. Adli memiliki dua sisi di dalam ingatannya. Adli yang baii dan Adli yang jahat. Melihat lelaki itu muram membuatnya merasa bersalah.
"Maafkan saya jika terlalu terbuka tentang perasaan ini. Saya hanya ingin jujur," kata Dili.
Adli tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, kamu tidak salah. Aku justru senang kamu jujur padaku. Kita tetap bisa berteman, kan?"
Dili tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja. Aku berharap kita tetap bisa bekerja sama dengan baik di perusahaan ini."
"Pasti bisa. Dan jika kamu membutuhkan bantuan atau punya masalah, jangan ragu untuk meminta bantuanku, ya," kata Adli.
Dili merasa tersentuh dengan tawaran bantuan dari Adli. "Terima kasih, Pak Adli. Saya akan tidak akan sungkan jika ada masalah."
Adli tersenyum dan mengangguk mengerti. "Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku hanya ingin membantumu, jangan ragu untuk menghubungi aku jika ada yang bisa aku bantu," kata Adli seraya menepuk tangan Dili dengan lembut.
Dili merasa sedikit lega mendengar kata-kata Adli. Ia merasa bersyukur memiliki teman seperti Adli di tempat kerjanya. "Terima kasih, Pak. Saya akan menghubungi Bapak jika ada yang bisa Bapak bantu," ucap Dili.
"Tolong panggil aku Adli saja. Rasanya canggung kamu panggil dengan sebutan 'Pak'. Kita teman sekarang, kan?" balas Adli.
Dili tersenyum kikuk. "Karena Bapak atasan saya, sudah sewajarnya saya panggil begitu, Pak. Lagipula umur saya jauh lebih muda dari Bapak," kata Dili.
__ADS_1
Adli menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ah, iya, kamu benar juga," ucapnya.
Mereka berdua melanjutkan makan siang mereka dengan suasana yang canggung. Namun, mereka berdua memutuskan untuk tetap menjaga hubungan yang baik dan saling membantu di perusahaan.