Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 21


__ADS_3

Wika menghisap rokoknya sembari berdiri di depan jendela kaca memandangi suasana sore dari ruang kerja Adli.


"Bagaimana? Kamu sudah bertemu langsung dengan gadis itu, kan?" tanya Wika kepada Adli yang berdiri di sampingnya sembari menikmati segelas kopi.


Adli hanya tersenyum getir mendengar pertanyaan Wika. "Ya, aku sudah bertemu dengan gadis jelek itu. Kata Pak Indra dia tidak berminat masuk ke perusahaan. Nyatanya sekarang ia sudah bergabung bersama kita di sini," gerutunya.


"Entahlah, aku sendiri juga heran. Pak Indra selalu mengeluhkan putrinya yang jelek itu. Aku rasa Pak Indra khawatir jika Dili tidak ada yang mau menikahi. Kamu tahu sendiri kan tampangnya seperti apa?"


"Kalau bukan karena kemauanmu, aku tidak akan mau menyapanya," ujar Adli.


Ia merasa usahanya sia-sia untuk berpura-pura baik di hadapan Dili. Awalnya ia merancang strategi supaya terlihat sebagai pahlawan di hadapan gadis itu. Apalagi tampangnya yang rupawan pastilah mampu menggetarkan hati wanita mana saja.


Namun, rencana itu ternyata jauh meleset dari dugaannya. Dili sama sekali tidak terlihat tertarik padanya.


"Sabarlah sedikit, kamu hanya perlu lebih keras berusaha agar sumber uang kita tetap lancar," ucap Wika.


Dia yang paling semangat mendukung rencana Adli untuk meluluhkan hati Dili. Meskipun keduanya punya hubungan rahasia, Wika tak cemburu menyuruh Adli mendapatkan Dili. Semua ia lakukan demi mengusai harta keluarga Indra Lesmana, ayah Dili. Sebelumnya ia memang telah gagal untuk mendapatkan hati Indra. Kini giliran kekasihnya yang akan berjuang mendapatkan Dili.


Adli menarik nafas panjang. Ia tidak pernah membayangkan betapa rumitnya rencana untuk menikahi Dili. Walaupun ia tidak mencintai Dili, ia tetap merasa sedikit kesal ketika gadis itu mengatakan bahwa ia sedang tertarik dengan lelaki lain.


"Dia bilang sedang menyukai seseorang," kata Adli.

__ADS_1


"Wah, ternyata Dili cukup terbuka tentang kehidupan pribadinya, ya?" kata Wika sambil tersenyum kecil. Ia tidak menyangka gadis yang terlihat polos dan pemalu itu mampu mengatakan perasaannya kepad Adli. Secara tidak langsung Dili seperti memberikan penolakan yang halus.


Adli mengangguk pelan. Ia merasa sedikit aneh bahwa Dili mengatakan hal itu kepadanya. Tapi, ia tak tahu harus berkata apa lagi.


"Jangan khawatir. Kita masih punya waktu. Kamu bisa berusaha lebih keras lagi," ujar Wika.


Adli menatap Wika dengan pandangan tak percaya. "Apa kamu yakin rencana kita akan berhasil? Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa."


"Kita harus tetap sabar dan percaya bahwa kita bisa melakukannya," kata Wika dengan suara bersemangat.


Adli mengangguk lagi. Ia tahu Wika benar, ia harus percaya pada dirinya sendiri dan tetap berusaha untuk merayu hati Dili. Mungkin saja nanti Dili akan mengubah pikirannya dan jatuh cinta padanya.


"Aku setuju," sahut Wika. "Kita harus mencari cara baru untuk mendekati Dili. Mungkin dengan menjadi teman baiknya terlebih dahulu?"


Adli mengernyitkan keningnya. "Aku tidak tahu apakah itu akan berhasil. Tapi, setidaknya aku akan mencoba."


"Kamu pasti bisa," kata Wika sambil tersenyum. "Kamu tampan, pintar, dan sukses. Kamu bisa menarik hati Dili."


Adli tersenyum tipis. Ia takut Wika terlalu memuji dirinya. Ia merasa bahwa ia belum cukup hebat untuk bisa mendapatkan hati Dili. Wika telah gagal mendapatkan hati ayah Dili, maka sekarang gilirannya untuk meluluhkan hati putri kesayangan Pak Indra itu.


"Kita bisa berpikir lebih banyak lagi nanti. Sekarang, kita harus fokus pada tugas kita di kantor," ujar Adli.

__ADS_1


"Benar," kata Wika sambil meraih rokok yang masih tersisa di asbak. "Aku akan merokok sebentar sebelum mulai bekerja lagi."


Adli mengangguk. Ia memandangi Wika yang tengah merokok dengan wajah penuh perhitungan. Ia tahu bahwa Wika sangat cerdas dan pintar. Ia juga tahu bahwa Wika mencintainya dengan tulus.


Ia berpikir kembali tentang rencana mereka untuk mendapatkan harta keluarga Indra Lesmana. Ia tahu bahwa mereka harus bekerja keras dan jangan sampai salah langkah. Karena jika gagal, itu bisa merusak karir mereka.


"Mungkin kita harus mencari tahu lebih banyak tentang Edgar," kata Adli setelah beberapa saat berpikir.


"Siapa Edgar?" tanya Wika.


"Pacar Dili. Aku ingin tahu siapa dia dan apa yang dia lakukan," jawab Adli.


Wika mengangguk. "Kamu benar. Kita harus berusaha lebih keras lagi. Kita sudah sampai di titik ini, tidak mungkin menyerah begitu saja."


Adli merenung sejenak. Ia mengagumi tekad Wika, meskipun terkadang itu terkesan terlalu ambisius. Namun, ia tak bisa menyalahkan Wika. Kedua orang tua Wika dulunya pengusaha sukses yang selalu memberikan apa yang diinginkan oleh Wika. Namun, akibat mengalami kebangkrutan kedua orang tua Wika nekad bunuh diri. Kini, Wika pun seperti berambisi meraih kesuksesan yang sama, bahkan lebih.


"Bagaimana jika aku mencoba mengenal Edgar lebih dekat? Siapa tahu aku bisa menemukan kelemahan atau kekurangannya," ucap Adli dengan tatapan penuh harap.


Wika mengernyitkan keningnya. "Mungkin itu bisa menjadi strategi yang baik. Tapi kamu harus hati-hati, jangan sampai kamu terjebak dan justru tertarik pada Dili."


Adli memutar malas bola matanya, menyetujui peringatan Wika. Ia tahu betul bahwa Wika sangat mencintainya dan selalu mendukungnya dalam apapun. Namun, ia juga tidak bisa menyangkal bahwa Dili tetap ada di benaknya. Mungkin karena rasa penasaran, atau mungkin karena rasa tidak bisa menerima bahwa ada lelaki yang menyukai wanita yang dianggap jelek oleh banyak orang.

__ADS_1


__ADS_2