Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 9


__ADS_3

"Hahaha ...." Dili tertawa puas sampai keluar air mata melihat Edgar muntah-muntah karena ceritanya. "Sebelum diolah sudah dicuci bersih kok dari kotoran ayam," ucapnya.


Edgar menatap kesal kepada wanita itu.


"Maaf ya, aku hanya bercanda," ucap Dili. "Kita foto-foto dulu, yuk!" ajaknya.


Dili menyalakan kamera ponsel dan mengajak Edgar berswafoto beberapa kali. Ia juga mengambil gambar suasana malam di sana.


"Pakai ini! Banyak mata melotot memandangi dirimu," kata Edgar seraya memasangkan jas miliknya kepada Dili.


Dili sampai lupa kalau mereka tengah berada di kawasan yang banyak pengunjung. Pakaian yang dikenakannya sudah pasti akan menjadi pusat perhatian.


"Kalau sudah puas jalan-jalannya, ayo kita kembali ke hotel!" ajak Edgar.


"Hah, hotel?" tanya Dili bingung.


Edgar mengeluarkan kartu akses kamar hotel yang sebelumnya telah ia dapatkan. Dili menelan ludah melihatnya. Ia sampai lupa akan hal itu.


"Sepertinya aku tidak bisa, ya ... Aku mau pulang," Dili berusaha untuk berkelit.


"Orang tua kita sudah sepakat untuk membuat kita bertemu dan saling mengenal. Kenapa kamu jadi terburu-buru begini?" ujar Edgar sembari menahan tangan Dili.


Niatnya Dili ingin membuat lelaki itu menyerah sendiri, namun malah membuatnya kesulitan. "Maaf, ya! Sebenarnya aku tidak tertarik denganmu sejak awal," ucap Dili


"Apa?" Edgar terkejut. Harga dirinya seakan terluka dengan penolakan itu. Selama ini, tak ada seorangpun wanita yang berani menolaknya.


"Aku rasa pertemuan kita cukup sampai di sini saja dan tidak perlu bertemu lagi."


"Apa kamu berniat mempermainkanku?" Edgar merasa tidak terima.


"Maksudku bukan begitu, tapi aku benar-benar tak menyukaimu!" tegas Dili.


Ia menepis kasar tangan Edgar hingga terlepas darinya. Lalu, ia melarikan diri, pergi mencari taksi sendiri untuk pulang.


***


"Hah, apa aku sudah gila?" gumam Dili sambil memandangi jas milik Edgar yang ia bawa.

__ADS_1


Semalam, ia telah mengacaukan kencan orang lain. Ia yang menantang lelaki itu masuk kamar hotel, tapi dia yang kabur ketakutan sendiri. Lelaki itu pasti akan sangat marah jika mengetahui dirinya bukanlah pasangan kencan yang asli.


"Aku bisa digantung kalau nekad mengembalikan benda ini. Dia sepertinya galak!" Dili masih mengingat ekspresi wajah Edgar saat ia tinggal kabur. Ia yakin Edgar tak akan memaafkannya.


"Sudahlah! Aku mau sarapan!" ujarnya.


Dili segera keluar dari dalam kamar dan berjalan menuruni tangga. Tampak ayahnya tengah sarapan di ruang tengah sendirian.


"Selamat pagi, Ayah," sapa Dili seraya memberi ciuman di pipi kanan ayahnya. Ia lantas duduk di samping ayahnya dan mengisi piring makannya dengan menu yang telah tersedia.


"Hm, sepertinya ini sangat enak!" Dili terlihat bersemangat saat melihat irisan daging lembut pada salah satu deretan menu.


Indra memandangi putrinya dengan raut yang terlihat sedikit kesal. Anak semata wayangnya itu ternyata sulit dikendalikan.


"Kenapa semalam kamu tidak datang?" celetuk Indra. Ia sudah tak tahan mengomentari kelakuan putrinya sendiri.


Dili menghentikan makannya. "Datang ke mana maksud Ayah?" ia pura-pura tidak tahu.


"Orang yang ingin ayah kenalkan padamu, dia bilang sudah menunggu lama tapi kamu tidak datang," kata Indra dengan raut kecewa.


"Semalam aku datang kok, Yah," elak Dili.


"Tunggu sebentar!" ucap Dili.


Ia bergegas lari meninggalkan ruang makan menuju lantai atas. Beberapa saat kemudian, ia kembali membawa ponsel miliknya.


"Semalam kami juga jalan-jalan ke pasar malam. Ini buktinya!"


Dili menunjukkan foto dirinya semalam. Indra tampak memicingkan mata.


"Ini kan Edgar Rayyes?" gumam Indra.


"Ayah kenal?" tanya Dili keceplosan. Ia menutup mulutnya sendiri.


Indra menoleh ke arah Dili dan memandangi putrinya dengan penuh curiga. "Bagaimana ayah tidak kenal? Dia salah satu rekan bisnis ayah. Perusahaan ayah yang jadi salah satu pemasok bahan baku PT Inti Jaya miliknya. Bagaimana kamu bisa mengenalmya.


Dili menggigit bibirnya sendiri. Ia tidak tahu jika ayahnya akan mengenali lelaki random yang ditemuinya semalam. "Aku kira dia yang ingin Ayah kenalkan padaku," kilahnya.

__ADS_1


Indra sama sekali tak terpikirkan hal itu. Mendekati calon pewaris perusahaan Inti Jaya rasanya tak masuk akal, apalagi melihat paras putrinya sendiri. Memang, ia tak pernah mengatakan putrinya jelek, namun untuk mengenalkannya pada pengusaha lain, sepertinya Dili tidak akan masuk kriteria.


Dia sengaja mengenalkan Dili pada Adli karena lelaki itu merupakan anak buahnya. Meskipun Dili tak terlalu cantik, setidaknya Adli akan sungkan karena Dili adalah putrinya. Ternyata Dili justru menemui lelaki lain yang di luar ekspektasinya.


"Bukan dia yang ingin aku kenalkan padamu, Sayang. Seharusnya kamu menemui lelaki bernama Adli, anak buah ayah."


"Ya, mana aku tau, Yah! Aku kan tidak diberi fotonya. Aku kira semalam dia yang ingin kencan buta denganku." Dili terus berkelit.


"Kalau begitu, akhir pekan ini kamu luangkan waktumu lagi. Akan ayah beri tahu Adli untuk menemuimu," kata Indra.


"Apa? Bertemu dengannya lagi? Aku tidak mau!" tolak Dili. Ia sudah susah payah pergi agar tak jadi bertemu Adli malah ayahnya menyuruh bertemu lagi.


"Kamu kan salah orang, temuilah Adli lagi. Ayah ingin kalian bertemu," bujuk Indra.


"Kok Ayah begitu? Aku sudah terlanjur suka dengan lelaki yang semalam aku temui," kilah Dili.


Indra tercengang mendengar perkataan putrinya. "Kamu menyukai Edgar?" tanyanya memastikan.


"Iya, memangnya kenapa?" Dili merasa heran.


Indra terlihat menghela napas. "Ayah rasa kamu kurang cocok dengannya, Sayang. Belum tentu Edgar atau keluarganya bisa menerimamu. Lebih baik kamu berkenalan dengan Adli saja."


"Em, aku rasa semalam Edgar tertarik padaku. Apa salahnya kalau aku mencoba dekat dengannya?"


Dili hanya mencari alasan untuk menghindari pertemuannya dengan Adli. Ia tahu jika Edgar pasti sangat kesal padanya karena yang terjadi semalam.


"Sudah, kamu lakukan yang pasti-pasti saja. Persiapkan dirimu untuk bertemu lagi dengan Adli akhir pekan depan!" perintah Indra.


"Pokoknya aku tidak mau. Saat ini aku hanya mau dekat dengan Edgar, Yah!"


"Kenapa kamu jadi pembangkang seperti ini?" tanya Indra heran.


"Bukan begitu ...." Dili merasa terpojok dan tak bisa mencari alasan lain. "Em, bagaimana kalau aku bawa Edgar menemui Ayah? Kalau dia menyukaiku, Ayah akan menyerah untuk menjodohkanku dengan lelaki lain, kan?" tanyanya memastikan.


Indra terdiam sejenak. Ia kembali memandangi putrinya. Rasanya tidak mungkin Edgar akan menyukai putrinya sendiri.


"Baiklah, kalau memang dia serius menyukaimu, minta dia menemui ayah. Kalau dia tidak mau datang, kamu harus mau bertemu dengan Adli!" trgas Indra.

__ADS_1


Dili tersenyum kaku. Kini, ia bingung mencari cara untuk bisa menemui lelaki itu lagi. "Iya, Ayah. Aku pasti akan melakukannya," katanya dengan mantap.


__ADS_2