Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 14


__ADS_3

"Bagaimana dengan aktingku?" tanya Edgar sembari meminum jus yang ada di gelasnya.


Usai acara makan malam selesai, Edgar dan Dili berbicara santai di taman belakang dekat kolam renang. Edgar tak mau langsung pulang lantaran supaya terlihat seperti sedang apel ke rumah pacar.


"Terlalu berlebihan!" jawab Dili dengan ketus.


"Berlebihan? Bagian mana yang berlebihan?" Edgar keheranan. Ia merasa sudah berhasil membuat Indra percaya bahwa mereka memang benar-benar pacaran.


"Kamu bilang mau cepat-cepat menikah denganku untuk membuktikan kesungguhanmu. Aku tidak pernah meminta hal seperti itu!" kesal Dili.


Edgar tertawa kecil. Ia baru ingat ucapannya itu. "Oh, memangnya kenapa? Bukankah bagus? Ayahmu sangat percaya dengan hubungan kita," ujarnya.


"Kalau ayah sampai setuju bagaimana? Aku tidak mau secepat itu menikah!" jawab Dili dengan ketus.


Edgar menahan tawanya. Ia tahu bahwa wanita itu sangat takut untuk menikah. Tapi, ia semakin membuatnya merasa tertantang untuk mengerjainya. Ia merasa akan puas membalaskan kekesalannya waktu itu jika bisa membuat wanita itu menangis karena dinikahi olehnya.


"Sepertinya kamu punya trauma dengan lelaki yang ingin dikenalkan padamu. Aku jadi penasaran siapa orangnya," ucap Edgar.


Dili mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang yang tenang. Mengingat tentang Adli hanya membuat hatinya sakit. Dua tahun ia menyia-nyiakan waktunya untuk mencintai lelaki sampah seperti itu.


"Kamu tidak perlu tahu!" ketus Dili.


Edgar terus memandangi wanita yang kini ada di sampingnya. Sejak pertemuan pertama, sepertinya ia sudah tertarik dengan wanita yang telah membuatnya kesal itu.


"Sudah larut malam, sebaiknya kamu cepat pulang. Aku juga mau istirahat," tutur Dili. Ia seperti tengah mengusir seseorang secara halus.


Edgar menyunggingkan senyum. Ia menghabiskan minuman yang ada di gelasnya. "Baiklah, aku akan pulang sekarang. Aku sangat menantikan giliranmu membantuku," ucapnya seraya mencium pipi Dili tampa permisi.


Dili terperanjat kaget dengan kelakuan Edgar terhadapnya. Lelaki itu tampak tersenyum-senyum penuh kemenangan setelah berhasil mencium Dili.


Edgar berjalan memasuki rumah dan menemui Indra yang masih ada di ruang tengah.


"Pak, saya mau pamit pulang," ucap Edgar dengan nada sopan.


"Oh, kamu mau pulang sekarang?" Indra bangkit dari duduknya menghampiri Edgar. Mereka bersamalam.


"Ini sudah larut, Dili juga perlu istirahat. Saya pamit dulu," ucap Edgar sekali lagi.


"Terima kasih sudah datang ke sini. Hati-hati di jalan."


Indra mendampingi Edgar menuju ke depan. Di sana ada Ramon yang tengah menunggu di depan mobil.

__ADS_1


Ramon membukakan pintu untuk Edgar kemudian menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Lesmana.


Sepanjang jalan Ramon memperhatikan Edgar terus tersenyum-senyum sejak keluar dari rumah itu.


"Apa ada hal yang menarik di sana?" tanya Ramon.


"Hah, apa?" lamunan Edgar berakhir saat mendengar perkataan Ramon.


"Anda sejak tadi kelihatannya bahagia sekali, Pak. Pasti ada hal yang menarik di rumah Pak Indra," tebak Ramon.


Edgar kembali mengembangkan senyumannya. "Sebenarnya biasa saja, tidak ada yang menarik," kilahnya.


"Benarkah?" Ramon tak percaya. "Ini pertama kalinya Anda tertarik dengan wanita yang ditemui saat kencan buta. Sepertinya Nona Dili kali ini memang berbeda," ujarnya.


Edgar mengarahkan pandangan ke luar jendela memandangi lalu lalang kendaraan di sekitarnya.


"Apa Anda menyukai Nona Dili?" tanya Ramon.


Edgar membulatkan mata. Ia kembali melihat ke arah depan. "Menyukai wanita menyebalkan itu? Yang benar saja ...." Ia terkekeh mendengr pendapat Ramon.


Ia hanya merasa terpancing untuk membuat Dili merasa menderita karena telah berani mempermainikannya. Ia sendiri sebenarnya tidak tertarik dengan pernikahan. Ia hanya ingin fokus bekerja.


"Persediaan buah-buahan di rumah masih ada, Bi?" tanya Airin kepada kepala pelayan yang ia ajak untuk berbelanja hari ini.


"Persediaan buah-buahan masih aman sampai minggu depan, Nyonya. Tapi, untuk buah anggur sudah habis," jawab Bibi Nori.


"Edgar suka sekali anggur. Kalau begitu, masukkan saja 10 bungkus anggur. Edgar sekarang lebih sering pulang ke rumah," perintah Airin.


Ia tahu persis kesukaan putranya. Akhir-akhir ini anak lelakinya itu selalu pulang awal dari kantor. Saat bekerja di rumah, Edgar biasanya makan anggur.


Usai membeli buah yang diinginkan, mereka berpindah ke bagian daging-dagingan. Airin memilih sendiri persediaan daging yang akan memenuhi lemari pendingin di rumahnya.


"Tante Airin."


Terdengar suara sapaan lembut dari seorang wanita. Airin berbalik dan terkejut melihat Gempi ada di sana.


"Hey, kamu ada di sini?" Airin terlihat sangat senang bertemu dengan Gempi.


Keduanya saling menyapa dengan berpelukan.


"Bibi, tolong lanjutkan belanjanya. Aku ingin bicara sebentar dengan Gempi," ucap Airin kepada pelayannya.

__ADS_1


"Baik, Nyonya." Bi Nori melanjutkan belanja ditemani oleh dua orang pelayan lainnya.


Sementara, Airin mengajak Gempi duduk bersamanya di bangku kafe yang ada di sana.


"Sudah cukup lama ya, kita tidak bertemu. Kami terlihat semakin cantik," puji Airin.


Gempi tampak malu-malu mendengar pujian itu. "Terima kasih, Tante," ucapnya.


"Pantas saja Edgar tertarik kepadamu. Tante tidak sabar dia membawa kamu datang ke rumah," kata Airin dengan raut wajah bahagianya. Menurut Airin, Edgar dan Gempi adalah pasangan yang sangat serasi.


Gempi terdiam. Ia merasa kebingungan dengan perkataan Airin barusan. "Maksud Tante apa?" tanyanya heran.


Senyuman di wajah Airin langsung hilang. "Bukannya minggu lalu kamu dan Edgar sudah kencan buta?"


"Ah, itu ...." Gempi sampai bingung menjelaskannya. "Sebenarnya kami tidak bertemu waktu malam itu, Tante. Edgar juga sudah meminta maaf tentang hal itu," lanjutnya.


"Apa?" Airin sangat terkejut. Sepertinya baru kemarin putranya bilang menyukai wanita yang ia kirimkan untuk kencan buta. Wanita pilihannya yang terakhir adalah Gempi. Ia sangat yakin jika Gempi merupakan tipe wanita putranya.


"Kamu yakin tidak bertemu dengannya malam itu?" tanya Airin memastikan.


Gempi menggelengkan kepala. "Kami hanya bertemu untuk membahas kerjasama pengadaan panel surya di kampus."


Airin terdiam sejenak. Ia berusaha meresapi ucapan putranya waktu itu dan ucapan Gempi saat ini. Kalau memang mereka tidak bertemu, bisa jadi putranya hanya membual hanya untuk menyenangkan dirinya.


Airin kembali tersenyum. "Bagaimana kabar orang tuamu? Mereka sibuk apa sekarang?" tanyanya untuk mengalihkan topik pembicaraan. Ia memutuskan untuk menyimpan kekesalannya sampai nanti putranya pulang.


"Mereka baik, Tante. Seperti biasa, Papa dan Mama sibuk mengurusi kampus dan perusahaan," jawab Gempi.


"Kamu juga sudah bisa membantu perusahaan sekarang, ya?" tanya Airin.


"Iya, Tante. Masih belajar juga belum sebaik Edgar," jawab Gempi dengan malu-malu.


Airin memandangi Gempi dengan seksama. Ia sudah sangat cocok dengan wanita yang terlihat lembut itu. Selain cantik, Gempi juga anak yang cerdas, termasuk salah satu lulusan terbaik di kampus luar negeri.


"Adikmu juga sudah lulus, ya?"


"Ah, Tisya ... Dia agak malas, Tante. Dia masih kuliah semester akhir. Entah nanti bisa cepat lulus atau tidak." Gempi terlihat pesimis saat membahas adiknya.


"Kamu saja pintar, pasti adikmu juga bisa menyelesaikan kuliah dengan baik," ujar Airin.


Gempi hanya bisa tersenyum kikuk merespon ucapan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2