Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 16


__ADS_3

"Terima kasih sudah mengantarku, Ramon. Kamu tidak menginap saja di sini?" tanya Edgar ketika mobil yang Ramon kendarai telah sampai di halaman rumahnya.


"Tidak, Pak. Saya mau pulang ke apartemen saja. Anda cepatlah masuk dan beristirahat supaya besok siap bekerja kembali," kata Ramon.


Edgar merentangkan tangannya yang kaku setelah menjalankan lembur di kantor. "Baiklah kalau begitu, aku masuk dulu."


Edgar membuka pintu mobil dan keluar. Seorang penjaga gerbang membukakan pintu depan untuknya.


"Terima kasih, Pak," ucap Edgar.


Malam telah larut dan kondisi rumah terasa begitu lengang. Para pelayan pasti sudah kembali ke tempat mereka di belakang.


Klak!


Tiba-tiba lampu di ruang tengah menyala. Edgar menghentikan langkah seraya memegangi dadanya karena kaget. "Oh, astaga!" gumamnya.


Dilihatnya sang ibu tengah berdiri di sana sembari melipat kedua tangannya di depan dada. Airin terlihat kesal.


"Mama belum tidur?" tanya Edgar.


"Mama sengaja menunggumu pulang. Duduk sebentar sini! Mama mau bicara!" kata Airin dengan nada ketusnya. Ia meminta sang putra untuk duduk bersamanya di ruang tengah.


Edgar menghela napas. Ia melepaskan dasi yang masih melilit di lehernya dengan sekali tarikan. Padahal ia baru saja ingin istirahat setelah kelelahan bekerja. Tapi, ibunya seperti punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan.


"Ada apa, Ma?" tanya Edgar seraya menyandarkan punggungnya pada dudukan sofa.


"Ini tentang kencan buta waktu itu," kata Airin.


"Akhir pekan ini aku akan membawanya bertemu Mama. Kenapa dibahas lagi?" Edgar sedikit kecewa karena yang dibahas lagi-lagi masalah itu.


"Mama sudah bertemu Gempi. Dia bilang kamu tidak datang di kencan buta itu."


Edgar langsung menegakkan duduknya mendengar ucapan Airin. Ia tidak menyangka jika ibunya akan bertemu dengan wanita itu.


"Mama mau mengatur kencan buta lagi untukmu akhir pekan ini. Pokoknya, Mama tidak akan berhenti sebelum kamu mendapatkan istri!" kata Airin dengan tegas.

__ADS_1


Edgar terdiam sesaat. Kencan buta sangat membuatnya muak. Ia harus kehilangan waktu berharganya setiap akhir pekan yang bisa digunakan untuk istirahat.


"Ma," panggil Edgar.


"Kalau memang Gempi bukan tipemu, Mama akan carikan yang lain lagi!"


Edgar mengacak-acak rambutnya frustasi. "Oke, Ma! Aku mau jujur!" katanya. Ia menghela napas lagi. "Ma, sebenarnya waktu kencan buta itu aku memang tidak bertemu Gempi."


Airin tersenyum sinis kepada putranya. "Kamu mengaku sekarang, kan?"


"Iya, Ma ... Tapi, di sana aku bertemu dengan wanita lain yang membuatku tertarik, namanya Dili."


Airin penasaran. "Dili? Siapa itu?"


"Dia putri dari salah satu rekan bisnisku, namanya Pak Indra. Akhir pekan aku janji akan mengenalkannya pada Mama," kata Edgar dengan mantap.


Airin menggeleng-gelengkan kepala. Susah payah ia mencarikan jodoh untuk putranya, tapi Edgar malah menemukan wanitanya sendiri.


"Tapi, setidaknya kamu temui dulu Gempi. Mama jadi tidak enak hati karena kamu tidak menemuinya waktu itu," kata Airin.


"Tetap saja itu berbeda. Kalau sampai orang tua Gempi tahu, mereka pasti akan menyindir Mama."


"Makanya Mama berhenti mencarikan wanita untukku," ujar Edgar.


"Pokoknya cepat menikah, Edgar! Kamu itu sudah tua!" paksa Airin.


"Iya, Ma, iya ... Aku bilang kan minggu depan mau aku kenalkan dengan calon menantu Mama. Tenang saja, Edgar akan secepatnya menikah," kata Edgar menenangkan ibunya.


"Awas kalau bohong, ya! Mama akan marah!" ancam Airin.


Edgar hanya bisa tersenyum. Ia mendekat ke arah ibunya dan menciumnya. "Tenang saja, Ma. Akan aku berikan calon menantu terbaik untukmu," ucapnya. "Edgar ke kamar dulu ya, Ma! Mau tidur, capek!" pamitnya.


Airin terdiam di tempatnya setelah mendapatkan perlakuan manis dari putranya. Ia merasa tidak tenang sebelum melihat Edgar menikah. Ia khawatir gosip yang beredar di perusahaan adalah sesuatu yang nyata. Ia tidak bisa membayangkan jika putranya tidak tertarik kepada wanita.


Airin lantas meraih gagang telepon yang terletak di meja. Ia menekan nomor putra keduanya yang tengah berada di luar negeri.

__ADS_1


"Halo, Erland?" sapa Airin.


"Halo, Ma ... Ada apa?" terdengar sahutan dari seberang telepon.


Erland Rayyes merupakan adik kandung Edgar yang tengah berkuliah di luar negeri. Usianya 23 tahun.


"Kuliahmu sudah selesai, kan?" tanya Airin.


"Sudah, Ma. Tapi masih menunggu proses wisuda. Memangnya kenapa?"


"Pulanglah, Mama butuh batuanmu!" pinta Airin.


"Aku, Ma? Kan ada Kak Edgar."


"Mama maunya kamu, pokoknya kamu harus pulang!" desak Airin.


"Tanggung, Ma ... Biar aku selesaikan dulu urusanku di sini supaya tidak ada beban kalau aku tinggal pulang."


"Sudahlah, pulang saja! Ini sangat penting dan Mama butuh kamu. Siapa lagi yang bisa Mama andalkan selain kamu?"


"Iya, Ma ... Iya! Akhir pekan nanti akan aku usahakan pulang."


Airin mengembangkan senyumannya. "Terima kasih, Sayang. Kamu memang selalu bisa Mama andalkan," pujinya.


"Apa ada lagi yang mau Mama sampaikan? Aku mau pergi ke kampus sekarang."


"Ah, iya. Kalau nanti kamu pulang, belikan Mama tas yang bagus, ya!"


"Tas Mama kan sudah banyak, jarang dipakai juga."


"Tapi Mama belum punya tas dari kamu, Sayang. Belikan satu untuk Mama, ya! Please ...."


"Oke, nanti Erland usahakan. Sudah dulu ya, Ma! Bye!"


"Bye!"

__ADS_1


Airin kembali tersenyum lebar. Saat ia berbeda pendapat dengan Edgar, maka Erland yang akan menjadi solusinya. Ia sudah merencanakan sesuatu untuk kedua putranya.


__ADS_2