Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 6


__ADS_3

"Oh, Ya Tuhan ...." Adli mengacak-acak rambutnya sendiri. "Aku tahu kita punya rencana, tapi, apa perlu sejauh itu?" tanyanya tidak percaya. "Kamu memintaku menikahi putri Pak Indra yang jelek itu? Kamu pikir aku sudah gila!" bentak Adli. Ia tidak habis pikir dengan rencana tak masuk akal yang Wika usulkan padanya.


"Kalau aku bisa mengatasi ini sendiri, aku juga tak akan meminta bantuanmu, Adli. Rencanaku kemarin sudah gagal total! Sebenarnya kamu masih menginginkan kekayaan atau tidak? Aku jadi semakin muak!"


Wika terlihat marah saat Adli menolak kemauannya. Ia paling tidak suka jika ada yang berani bertentangan dengan pemikirannya.


"Aku tentu saja ingin kaya, Wika ... Tapi, yang benar saja ... Kamu menyuruhku untuk menikahi wanita kampungan dan jelek seperti dia? Terus, setiap bangun tidur aku harus melihat wajah jeleknya yang memuakkan?"


Adli tak bisa membayangkan jika ia menikah dengan Dili. Wanita itu sama sekali tak memiliki selera fashion yang bagus. Bahkan, ia juga kelihatan bodoh dan tolol.


Wika mengulaskan senyum. Ia mengalungkan kedua tangannya pada leher Adli dan menatap hangat kedua bola mata lelaki itu. "Sayang, kamu tidak perlu mempermasalahkan itu. Kan masih ada aku yang akan memberikan servis terbaik setiap malam," ucapnya.


Adli terkekeh. "Kamu mau aku menikahinya tapi setiap malam tidur denganmu?"


"Tentu saja kalau kamu mau. Sebenarnya akan lebih bagus kalau kita tinggal serumah, aku jadi istri lelaki tua itu dan kamu jadi suami putri culunnya itu," ujar Wika.


Ia menghela napas. Rencana yang sudah ia rancang jauh-jauh hari akhirnya gagal. Ia berencana membuat skenario agar Indra menikahinya agar ia lebih mudah menguasai harta lelaki tua itu.


"Sebenarnya aku sudah berencana untuk memberikan obat tidur pada mereka agar kita bisa bermesraan di rumah mereka."


Adli menyeringai. "Kamu memang benar-benar wanita yang licik, Wika."


"Hahaha ... Kalau aku tidak licik, mana mungkin kita bisa menjadi pasangan se-frekuensi, Sayang."


Wika menarik tengkuk Adli mendekat ke arahnya. Mereka saling bercumbu bibir dengan mesra selama beberapa saat.


"Kamu jangan khawatir, aku ada alternatif lain untuk mengakali pernikahanmu dengan Putri Pak Adli," kata Wika.


"Apa itu?"


"Kamu bisa meminta tinggal di apartemen bersamanya dan aku akan tinggal di samping apartemen kalian. Jadi, kamu bisa kapan saja main ke tempatku saat bosan, Sayang."


Adli tersenyum mendengar rencana cerdas yang Wika ungkapkan.


"Putri Pak Indra itu kelihatannya bodoh. Asalkan kamu bisa meluluhkan hatinya, aku yakin dia akan menuruti semua kemauan kita."

__ADS_1


"Lalu, apa yang harus aku lakukan terlebih dahulu?" tanya Adli.


"Aku dan Pak Indra sudah merencanakan kencan buta untuk kalian akhir pekan ini. Berdandanlah serapi dan setampan mungkin untuk menarik perhatiannya," saran Wika.


"Hahaha ... Kamu terkesan sedang menjualku pada wanita lain. Apa kamu tidak akan cemburu?" pancing Adli.


"Aku cemburu?" tanya Wika. "Tidak ada dalam kamusku cemburu pada wanita lain. Apalagi dengan wanita jelek dan bodoh itu." Ia tertawa mengejek Wika.


***


"Akhir pekan ini, kamu datang ke Hotel Samudra jam tiga sore, ya!" pinta Indra.


Dili yang sejak tadi fokus membaca buku langsung menutup bukunya. Nama hotel itu terdengar tak asing baginya. Ingatan masa lalu tiba-tiba melintas di pikirannya.


Dua tahun yang lalu, di Hotel Samudra, ia mengikuti saran ayahnya untuk menemui seseorang yang akan dijodohkan dengannya. Namanya Adli, karyawan kesayangan sang ayah.


Lelaki itu sangat tampan dan membuat Dili jatuh hati pada pandangan pertama. Apalagi Adli bersikap ramah dan sopan seakan mau menerima dirinya apa adanya. Saat itu, ia merasa menemukan orang yang tepat di dalam hidupnya.


"Dili? Dili ...."


"Kenapa aku harus ke sana, Yah?" tanyanya.


"Ada seseorang yang ingin ayah kenalkan padamu. Kamu datang saja, nanti juga tahu."


Seperti yang Dili tebak, ayahnya berencana menjodohkan dia dengan Adli. Ia harus mencari cara agar masa depannya berubah dan tidak berjodoh dengan lelaki itu.


"Aku malas, Yah!" tolak Dili.


"Jangan seperti itu, temuilah dia dulu. Namanya Adli, dia karyawan ayah yang baik. Ayah sangat menyukainya," bujuk Indra.


"Aku bisa mencari calon pasangan sendiri, Yah! Kenapa juga harus dijodoh-jodohkan segala," keluhnya.


"Itu yang justru ayah takutkan. Bagaimana kalau kamu salah pilih orang? Ayah takut membayangkannya. Kamu coba dulu saja berkenalan dengan Adli, dia lelaki yang baik."


Ingin rasanya Dili mengungkapkan bahwa Adli tak sebaik yang ayahnya kira. Justru, menikah dan jatuh cinta kepada wanita itu merupakan penyesalan terbesar yang Dili rasakan di kehidupan sebelumnya.

__ADS_1


***


Dili duduk di depan meja riasnya memandangi wajahnya yang tampak polos. Dengan tampilan apa adanya dan kacamata tebal yang selalu ia kenakan, memang tak ada daya tarik dalam dirinya. Ia merasa dirinya memang jelek.


"Kalau bukan karena permintaanmu untuk menikahinya, memangnya siapa yang mau dengan wanita jelek ini? Aku saja setiap hari rasanya mau muntah!"


Kata-kata yang keluar dari mulut Adli terus terngiang-ngiang di telinganya.


Sangat jelas dalam ingatannya bagaimana mereka memasukkan jasadnya ke dalam koper yang sempit lalu membuangnya ke rawa-rawa di tengah hutan.


Sepanjang perjalanan, Adli dan Wika terus membahas keburukan tentang dirinya. Lelaki itu mengatakan muak memiliki istri jelek dan bodoh. Kalau bukan demi harta, ia tak akan mau mengenal Dili.


Kata-kata menyakitkan itu semakin mendorongnya untuk berubah. Ia tak ingin menjadi Dili yang jelek dan bisa dihina seenaknya oleh orang seperti Adli. Tiba-tiba ia mengingat satu nama dan segera menghubunginya.


"Halo, Maura, kamu dimana?" tanya Dili ketika teman baiknya itu menerima telepon darinya.


"Eh, Dili. Tumben telepon. Ada apa?"


"Aku butuh bantuanmu," ucapnya.


"Bantuan apa?"


"Nanti aku jelaskan. Sekarang katakan, kamu ada dimana?" desaknya.


"Aku di apartemen."


"Kalau begitu, aku ke sana sekarang, ya? Kamu ada waktu bertemu denganku, kan?" tanya Dili memastikan.


"Ya, aku memang tidak ada rencana kemana-mana. Tapi, aneh saja tiba-tiba kamu ingin bertemu denganku."


"Nanti akan aku katakan semuanya. Tunggu aku!" pintanya.


Dili lantas menutup teleponnya. Ia berkemas-memas membawa barang seperlunya untuk dibawa. Setelah itu, ia meminta sopir pribadinya untuk mengantar ia ke apartemen Maura.


Maura merupakan teman baik Dili di kampus. Menurutnya, Maura satu-satunya teman yang tulua kepadanya. Ia jarang mendapatkan perlakuan baik di kampus oleh teman seangkatannya. Ia merasa penampilannya yang seperti wanita yang mudah ditindas dan lemah yang membuat banyak orang ingin membully-nya.

__ADS_1


__ADS_2