Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 8


__ADS_3

Dili turun dari taksi yang mengantarnya. Tepat di hadapannya adalah Hotel Samudra, tempat ia akan bertemu dengan Adli. Sebelum masuk, ia berdiri di depan jendela kaca sembari memperhatikan penampilannya yang sangat berbeda. Ia bukan lagi Dili yang culun dengan kacamata tebal dan selera fashion yang payah.


Sebelum datang ke sana, Dili pergi ke salon untuk menata rambut dan penampilannya agar bisa tampil secantik mungkin. Kata-kata buruk yang pernah Adli ucapkan tentang dirinya masih terngiang-ngiang. Ia tak akan membiarkan dirinya jatuh pada penderitaan yang sama dengan kehidupannya dulu.


"Tidak akan ada yang mengenali penampilanmu, Dili, jangan khawatir!" ucapnya pada diri sendiri.


Ia menghela napas panjang lalu melangkahkan kaki dengan percaya diri memasuki hotel tersebut. Dicarinya arah menuju ke restoran tempat pertemuannya.


Sesampainya di sana, ada banyak orang yang tengah menikmati makan malam di sana.


Dili mengarahkan pandangan ke setiap sudut ruangan hingga ia menemukan sosok Adli di sana. Di matanya, lelaki itu terlihat tampan sama seperti pertama kali ia melihatnya dulu. Tak heran jika dulu ia jatuh cinta kepadanya.


Dili menggelengkan kepala. "Apa kamu sudah gila? Dia yang sudah membunuhmu di kehidupan sebelumnya!" gumamnya lirih. Ingin rasanya ia memarahi dirinya sendiri karena masih menganggap lelaki itu tampan.


"Aku tidak pernah menilai orang dari penampilan luarnya. Kamu wanita yang baik hati, itu sebabnya aku mencintaimu."


Kata-kata bualan itu pernah Adli ucapkan padanya. Dulu, Dili sangat percaya bahwa lelaki tampan itu benar-benar mencintai dirinya.


"Amit-amit! Aku tidak sudi bertemu dengannya!" umpat Dili.


Ia mengurungkan niat untuk menghampiri meja Adli. Ia memilih duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari tempat Adli berada. Ia ingin tahu seberapa sabar lelaki itu menunggunya.


"Oh, kamu sudah datang?"


Tanpa Dili sadari, ternyata ia duduk di meja milik seorang lelaki asing. Ia tak tahu karena lelaki itu menutupi wajahnya dengan majalah yang tengah dibaca. Dili tersenyum kikuk kepada lelaki yang ada di hadapannya.


"Kamu sudah telat 15 menit dari waktu yang disepakati. Aku tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi."


Lelaki itu terlihat dingin dan angkuh. Penampilannya memang keren, memakai setelan jas seperti seorang pengusaha. Tatapannya begitu tajam membuat Dili semakin merasa tersudut.


Dili lupa jika tempat itu merupakan tempat favorit untuk melakukan kencan buta di kalangan pengusaha. Sepertinya lelaki itu juga tengah menunggu pasangan kencan butanya dan mengira bahwa itu adalah dirinya.

__ADS_1


Dili kembali melirik ke arah Adli yang terlihat semakin gelisah dan sesekali memandangi jam tangannya. Lelaki itu pasti kesal menunggunya. Dili merasa senang melihat ekspresi kesal Adli.


"Apa kamu meremehkanku?" lelaki itu mendekatkan wajahnya secara tiba-tiba dan membuat Dili terkejut.


"Ah, maaf, ya! Aku sepertinya tadi menjatuhkan sisa ongkos naik taksi," kilah Dili.


Lelaki itu semakin malas bertemu dengan partner kencannya. "Ini!" ia menyodorkan selembar kartu nama.


Dili mengambil kartu nama itu dan matanya melotot saat mengetahui bahwa lelaki yang ada di depannya kini merupakan CEO perusahaan barang-barang elektronik yang cukup ternama di kota itu.


"Edgar Rayyes?" gumamnya.


"Kamu bisa memanggilku Edgar. Lalu, mana kartu namamu?"


Dili tidak mempersiapkan karena pertemuannya dengan Edgar di luar rencananya. "Aku tidak punya," ucapnya dengan senyum kikuk.


"Bagaimana dengan kartu identitasmu yang lain?" tatapan mata Edgar sudah menunjukkan keengganannya.


"Aku kira kamu sudah bekerja di salah satu perusahaan atau bahkan memiliki usaha sendiri. Penampilanmu sangat tidak mencerminkan seorang mahasiswa."


Dili melihat penampilannya sendiri setelah mendengar kritikan itu. Ia memang mengenakan pakaian yang terbuka dan cukup se ksi untuk menampilkan kesan dewasa.


Tak lama, ada seorang wanita cantik masuk ke restoran tersebut. Wanita itu terlihat sedikit bingung. Dili menebak bahwa wanita itu sepertinya pasangan kencan buta lelaki di hadapannya yang asli.


Ia harus segera pergi dari sana sebelum Edgar menyadarinya.


"Jangan salah kalau mahasiswa sekarang bisa lebih membara dari pada wanita dewasa, Pak CEO. Anda pikir saya polos dan tidak berpengalaman?" goda Dili sembari mengerlingkan matanya genit.


Edgar tidak menyangka akan bertemu dengan wanita muda yang seliar itu. Ia merasa ibunya telah salah memilih partner kencan butanya. Wanita itu cukup gila jika dibandingkan dengan wanita-wanita sebelumnya.


"Bagaimana kalau kita pergi ke hotel atau tempat lain? Di sini kita tidak memiliki privasi untuk melakukan hal-hal nakal," rayu Dili.

__ADS_1


Edgar melihat sekeliling. Ia khawatir kelakuan gila wanita itu jadi pusat perhatian yang lain. "Ayo kita pergi!" ajaknya. Ia menarik tangan Dili agar pergi dari sana.


Dili tersenyum senang, rencananya keluar dari sana akhirnya berhasil. Sekilas ia lihat rekan kencan buta Edgar duduk di bangku milik Arsen. Mereka benar-benar telah bertukar teman kencan.


"Eh, ini kita mau apa?"


Dili terkejut saat Edgar mengajaknya ke tempat resepsionis hotel. Lelaki itu baru saja memesan sebuah kamar di sana.


"Bukankah kamu sendiri yang memintaku memesankan kamar hotel? Aku sudah menyewa yang terbaik untuk kita malam ini," kata Edgar dengan santainya. Ia memperlihatkan kartu akses kamar VIP yang resepsionis berikan.


Dili tertegun. Ia tak bermaksud meminta hal semacam itu. "Em, tapi ... Aku rasa ini masih terlalu sore untuk menghabiskan waktu di kamar hotel. Bagaimana kalau kita jalan-jalan di luar sebentar?" ajaknya. Ia berencana membuat laki itu kapok sebelum mengajaknya ke kamar hotel. Baru membayangkannya saja ia sudah merinding.


"Baiklah, kita mau kemana?" tanya Edgar mengalah.


Dili mengajak Edgar ke pasar malam yang diselenggarakan di area alun-alun kota. Lelaki itu tampak tercengang dengan tempat keramaian itu.


"Aku suka sekali dengan pasar malam. Di sini ada banyak makanan yang enak-enak," ujar Dili.


"Seleramu sangat payah, ujar Edgar.


Dili tak peduli. Tujuannya memang ingin membuat lelaki itu tak nyaman dengannya. Ia berjalan menelusuri keramaian pasar malam dengan santainya. Edgar mau tidak mau mengikutinya.


"Kamu mau ini?" tanya Dili. Ia menawarkan sate yang dijajakan di sana.


Edgar menerimanya sembari menatap aneh makanan yang baru pertama kali ia lihat. Dili sangat menikmati makanan itu, membuatnya juga tertarik untuk mencicipi. Ia mencoba sedikit dan mengunyahnya. Ternyata rasanya enak hingga ia berhasil menghabiskan satu tusukkan.


"Apakah enak?" tanya Dili.


"Iya, enak." Edgar kembali mengambil satu tusukan lagi karena rasanya tidak seburuk yang ia bayangkan.


"Aku tidak menyangka kalau kamu bisa menyukai usus ayam. Sebelum diolah, biasanya kotoran ayam dalam usus dibersihkan dulu. Baunya uuhh ... Minta ampun!"

__ADS_1


Edgar langsung mematung mendentar penjelasan Dili. "Hoek!" ia berlari menjauh dan memuntahkan sate usus yang belum selesai dikunyahnya. Ia merasa menjijikan telah memakan makanan seperti itu.


__ADS_2