
Dili terlihat kebingungan saat tiba di area lobi perusahaan Inti Jaya milik Edgar. Ia menjadi pusat perhatian di sana dengan penampilannya. Memang, Dili sengaja mengenakan pakaian yang sama dengan saat kencan buta saat itu. Niatnya agar Edgar langsung bisa mengenalinya. Namun, ia jadi malu sendiri karena banyak pasang mata yang memperhatikannya.
Dari arah yang berlawanan, tampak Edgar tengah berjalan bersama beberapa karyawannya. Ia menghentikan langkah saat melihat seseorang yang sepertinya ia kenal.
Matanya melebar saat melihat wanita itu ada di kantornya. Bahkan dengan pakaian dan tampilan yang sama saat mereka kencan malam itu.
"Apa dia sudah gila?" gumamnya.
"Kenapa, Pak?" tanya Ramon heran.
"Tidak apa-apa. Kalian kembali saja ke ruang kerja masing-masing. Aku ada urusan!" pamitnya.
Edgar berjalan cepat menghampiri wanita itu. Bahkan sapaan dari para karyawan yang berpapasan dengannya tak dipedulikan. Edgar melepas jasnya dan memasangkan pada tubuh Dili dengan cepat.
"Oh, astaga!" Dili sampai terkejut tiba-tiba ada yang memakaian jas ke tubuhnya. Ternyata lelaki itu adalah Edgar.
"Siang-siang kamu mau pergi dugem kemana?" sindir Edgar. Ia merasa penampilan wanita itu sangat tidak sesuai dengan tempatnya.
Dili tersenyum kaku. "Aku ingin bertemu denganmu. Aku takut kamu lupa denganku," kilahnya.
"Mana mungkin aku lupa dengan orang yang sudah mempermainkanku? Aku bahkan telah berniat untuk balas dendam padamu."
Dili menggigit bibirnya. Ia sudah mengira jika lelaki itu pasti masih marah padanya. Tapi, mau tidak mau ia harus berusaha membujuk lelaki itu agar mau bekerja sama dengannya.
Edgar memandang ke sekitar. Ia menjadi pusat perhatian seluruh karyawan di kantornya. Ia rasa akan ada rumor baru yang berkembang bahwa ada seorang wanita gila yang masuk ke kantornya.
"Ikut aku!"
Edgar menarik tangan Dili. Ia membawa wanita itu berjalan menuju lift khusus yang terhubung langsung ke ruangannya.
"Duduklah!" pintanya saat mereka tiba di ruangannya.
Dili mengedarkan pandangan ke sekitar melihat betapa luas ruangan yang dimiliki oleh Edgar di kantornya.
"Apa maksudmu datang ke sini dengan pakaian seperti itu? Apa kamu akan menipuku lagi?" tanya Edgar. Lelaki itu melipat tangannya di dada seraya memberikan tatapan kesal ke arah Dili.
"Kapan aku menipumu?" kilah Dili. Ia tidak merasa menipu.
"Meninggalkan aku begitu saja setelah menjebakku makan makanan busuk itu kamu bilang tidak menipu?"
Edgar masih kesal dengan perkara sate usus. Perutnya akan mual jika mengingatnya lagi.
__ADS_1
Dili menutup mulutnya agar Edgar tak melihat tawanya. Ia ingin tertawa mengingat ekspresi wajah Edgar saat itu.
"Aku tegaskan lagi, itu bukan makanan busuk. Aku juga berani memakannya. Aku kan hanya bilang kalau makanan itu terbuat dari ...."
"Stop!" Edgar tak mau mendengar lagi kalimat tentang usus ayam. Ia trauma dengan makanan itu. "Jadi, apa tujuanmu datang kemari?" tanyanya.
"Aku butuh bantuanmu makanya aku datang ke sini," kata Dili.
"Bantuan apa?" tanya Edgar penasaran.
"Mau nggak kamu menemui ayahku dan berpura-pura jadi pacarku?" tanya Dili sembari tersenyum kikuk.
Edgar tertegun. Suatu kebetulan wanita itu datang menghampirinya. Ia juga berencana untuk menemui wanita itu di kampus demi membawanya bertemu dengan ibunya.
"Memangnya kenapa aku harus melakukannya? Apa untungnya untukku?" Edgar sok jual mahal.
"Untungnya nggak ada. Aku kan hanya minta tolong!" jawab Dili dengan polosnya.
Edgar ingin tertawa dengan kejujuran wanita itu. "Kalau begitu, tidak ada alasanku untuk menerima tawaranmu itu, kan?"
"Siapa tahu kamu orang baik hati yang mau menolong orang kesulitan."
Edgar mendekat ke arah Dili. Ia menyandarkan tangannya pada sofa sembari menopang kepalanya memandangi wanita itu.
"Aku hanya butuh bantuanmu satu kali saja. Kamu tidak keberatan kita pacaran satu hari?" tanya Dili.
"Kamu pasti sedang pusing dengan perjodohan, kan? Aku beri tahu, ayahmu tak akan cukup mengenalkan pacarmu sekali. Setidaknya butuh satu bulan untuk membuatnya percaya. Aku bicara begini melihat dari pengalaman," kata Edgar.
"Kamu pernah mengalaminya sendiri?"
"Memangnya kamu pikir aku ada di sana bertemu denganmu untuk apa? Kamu wanita kesekian yang ibuku suruh untuk aku temui."
Dili mangguk-mangguk. Ia merasa ucapan Edgar ada benarnya juga. "Baiklah, aku setuju! Tapi kamu tidak boleh macam-macam padaku!" tegasnya.
Edgar menyeringai. "Aku rasa bukan aku yang akan macam-macam padamu, tapi sebaliknya," katanya dengan percaya diri.
"Apa?"
"Jangan sok polos. Memangnya malam itu siapa yang duluan mengajak masuk hotel, hm?" Edgar kembali mengingatkan Dili pada malam itu.
Dili menggigit bibirnya. Ia tak bisa mengelak.
__ADS_1
"Sekarang kamu mau kemana? Aku bisa mengantarmu pulang sebelum rapat sore ini." Edgar berkata sembari melihat jam tangannya. Masih ada cukup waktu untuk berdua dengan wanita itu.
"Ah, itu tidak perlu, aku bisa pulang sendiri," tolak Dili.
Edgar kembali menatap Dili, memperhatikan penampilan wanita itu dengan pakaian yang minim bahkan memperlihatkan sebagian pahanya. "Kamu tidak berniat pergi ke klab malam dengan pakaian seperti ini, kan? Aku tidak suka punya pacar yang suka kelayapan malam-malam," katanya.
"Aku berpakaian seperti ini juga hanya untuk kepentingan menemuimu. Sudahlah! Aku mau pulang!" ucap Dili.
Edgar menarik tangan Dili yang hendak pergi meninggalkannya. Tubuh jatuh tepat di pangkuan Edgar. Pandangan mata mereka bertemu dan saling menatap.
"Lepaskan aku!" kata Dili.
"Kenapa tegang begitu? Kita kan pacaran sekarang," goda Edgar.
"Aku kan sudah bilang, jangan macam-macam padaku!" Dili kembali mengingatkan.
"Siapa yang macam-macam? Aku hanya berusaha dekat dengan pacarku. Kalau tidak seperti ini, siapa yang akan percaya kalau kita pacaran, hm?"
Dili mendorong Edgar hingga dirinya bisa terlepas darinya. Ia bergegas menuju lift meninggalkan ruangan itu.
Edgar kembali menyeringai. "Mangsaku ternyata mendekati jebakannya sendiri," gumamnya.
Edgar tahu Dili sangat tidak menyukai pacaran dengannya. Semakin wanita itu benci, semakin ia ingin menahannya agar tetap berpacaran dengannya. Ia pastikan untuk membuat wanita itu kesal berkali-kali lipat dari pada yang sebelumnya ia alami.
"Pak," sapa Ramon. Lelaki itu baru berani masuk melalui pintu depan setelah melihat Dili keluar lewat lift.
"Kemarilah! Kenapa?" tanya Edgar.
"Rapat akan segera dimulai," katanya.
"Ya, aku tahu. Persiapkan semua yang dibutuhkan untuk presentasi. Aku akan segera ke ruang rapat."
"Baik, Pak." Ramon berjalan ke arah meja kerja Edgar dan Mengambil dokumen yang diperlukan.
"Em, apa itu wanita yang berkencan dengan Anda?" tanya Ramon ingin tahu.
"Iya, dia orangnya. Bagaimana menurutmu?" tanya Edgar.
"Masih kelihatan sangat muda dan ... Cukup kekanakkan," ujar Ramon.
Edgar tersenyum. Penilaian Ramon memang tak jauh darinya.
__ADS_1
Meskipun Dili mengenakan pakaian yang tampak dewasa, namun kesan lugu dan polosnya masih ada. Ia jadi semakin ingin mengganggunya.