
Hari ini adalah hari yang sangat dinanti oleh Dili. Hari di mana ia akan memulai magang di kantor ayahnya. Meskipun sebenarnya posisi magang ini sudah dipastikan oleh ayahnya, Dili meminta agar jati dirinya dirahasiakan. Ia bahkan memakai riasan culun yang biasa ia pakai sehari-hari.
"Loh, Dili, katanya mau kerja di kantor Papa. Kenapa penampilanmu seperti ini?" tanya Indra.
Ia tertegun melihat dandanan putrinya sendiri. Ia sudah senang saat melihat Dili menanggalkan kacamata yang biasa dipakai. Ia akui akhir-akhir ini putrinya terlihat cantik. Namun, saat akan pergi ke kantor, dandanan Dili kembali seperti setingan awal.
"Aku nyaman seperti ini, Pa. Dandan itu repot dan lama. Seperti ini sudah bagus," kata Dili menyampaikan penampilan tentang dirinya. Ia mengenakan kemeja putih dan bawahan hitam seperti karyawan yang baru magang.
Indra menghela napas. "Bagaimanapun juga, penampilan cukup penting dalam menunjang keberhasilan bisnis, Dili. Setidaknya kamu berdandan sedikit," protesnya.
Padahal ia akan merasa bangga jika putrinya mau tampil cantik di depan umum. Dili sangat susah diajak ke acara-acara oleh dirinya.
"Tidak apa-apa, Pa. Dengan begini aku bisa lebih tahu siapa orang yang memang tidak pernah menilai sesuatu dari penampilan, melainkan dari value seseorang. Papa jangan katakan pada karyawan kalau aku anak Papa, ya!" pinta Dili.
Indra hanya geleng-geleng kepala. "Ya sudah, ayo berangkat sekarang!" ajak Indra.
__ADS_1
Sesampainya di kantor ayah, Dili meminta untuk diturunkan jarak beberapa puluh meter dari pintu gerbang perusahaan. Ia melakukannya agar tak ada yang memergoki dirinya merupakan putri tunggal pemilik perusahaan tersebut.
Dili mulai berjalan kaki mengenakan sepatu hak tinggi. Ia memandangi gedung tinggi itu. Tidak akan ia biarkan gedung tersebut dikuasai dua manusia berhati iblis di dalamnya. Ia bersumpah akan membawakan kemalangan bagi dua orang yang pernah menghancurkan hidupnya.
Dili disambut dengan ramah oleh resepsionis. Ia kemudian diantarkan menuju ruangan HRD menjumpai seorang karyawan senior yang merupakan manajer HRD.
"Selamat siang," sapa Pak Teguh saat Dili baru masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Siang, Pak Teguh," jawab Dili dengan senyuman lebarnya.
"Pasti ayahmu sudah tahu siapa aku, ya?" tanya Pak Teguh.
Pak Teguh merupakan salah satu karyawan terlama di sana. Hubungan mereka dengan ayahnya tentu saja sangat baik bahkan sudah seperti keluarga. Ia juga dikenal sebagai salah satu orang yang berjasa dalam merintis bisnis tersebut.
"Sesuai catatan berkas yang kamu berikan, jurusan yang tengah kamu lestarikan adalah Aktuaria. Seharusnya kamu aku tempatkan di bagian keuangan. Namun, kata ayahmu itu terlalu berat jika kamu hanya magang. Makanya kita harus lebih berhati-hati.di sana.
__ADS_1
"Saya siap untuk ditempatkan si divisi manapun Dan saya siap belajar, Pak!" tegas Dili.
Teguh terlihat bisa membaca ketulusan wanitu. "Baiklah, aku akan menempatkanmu di bagian divisi produksi. Bagaimana? Kamu tidak keberatan?" tanyanya.
Dili bahkan bisa bernapas lega. Ia tak perlu bertemu setiap saat dengan mantan suami dan mantan mertua di kehidupannya yang terdahulu.
"Sama sekali tidak keberatan, Pak," katanya.
"Oke kalau begitu, kamu nanti akan langsung bisa bekerja di perusahaa. ini.'
Pak Teguh mengangkat teeleponnya. Ia memekam nomor dan tampak berbicara tentang Dili yang akan mulai magang di sana. Tak berapa lama kemudian, muncul karyawan paruh baya mendatangi ruangan itu.
"Masuk, Pak Mizan!" pinta Pak Teguh.
Lelaki itu menurut dan duduk di sebelah Dili.
__ADS_1
"Ada keperluan apa Bapak memanggil saya?" tanyanya.
"Ini ada karyawan baru yang akan mulai bekerja di perusahaan kita. Namanya Dili."