Balas Dendam Istri Teraniaya

Balas Dendam Istri Teraniaya
Bab 24


__ADS_3

Dili berada di depan cermin, memandangi dirinya sendiri dengan bangga. Malam itu dia merasa begitu cantik. Rambutnya disanggul rapi, makeup-nya tipis tapi terlihat sempurna, dan gaun merah yang indah melingkupi tubuhnya. Dia merasa sangat berbeda dari biasanya, dan itu membuatnya merasa lebih percaya diri.


Dili mengenakan gaun merah panjang yang terlihat elegan dan sederhana pada malam itu. Ia diantar oleh sopir menuju kediaman Edgar. Dia merasa tegang dan sedikit gugup saat berdiri di depan pintu apartemen Edgar. Dia bisa merasakan detak jantungnya yang cepat dan napasnya yang tidak teratur.


Tapi semua ketegangan itu hilang saat ia melihat wajah Edgar. Senyumnya yang manis dan tatapannya yang penuh kasih membuat hati Dili menjadi hangat. “Kamu terlihat cantik sekali malam ini,” kata Edgar, sambil menatap Dili dengan penuh kekaguman.


Dili tersenyum malu. Dia merasa gembira karena bisa keluar bersama Edgar. Ini merupakan kencan kedua setelah kesepakatan yang mereka buat.


“Kemana kita pergi malam ini?” tanya Dili, sambil menggenggam lengan Edgar.


Agaknya Edgar terlihat kaget karena Dili seperti tengah melaksanakan perannya dengan baik. Wanita itu sangat berusaha menjadi seorang kekasih sungguhan.


“Kita akan makan malam di restoran favoritku,” kata Edgar sambil menunjuk ke sebuah gedung besar di depan mereka.


Restoran itu begitu mewah dan elegan. Dili merasa sedikit kaget saat masuk ke dalamnya. Ia tidak pernah mengunjungi tempat seperti itu sebelumnya. Namun Edgar terlihat sangat santai dan percaya diri, sehingga membuat Dili merasa tenang.


Setelah mereka duduk, Edgar memperkenalkan Dili pada ibunya. Indira tampak terkesima dengan kecantikan Dili. “Ini Dili, Mama. Pacarku,” kata Edgar sambil memperkenalkan Dili. Ia tanpa sungkan menyebutkan kata 'pacar' di hadapan ibunya.


Indira tersenyum hangat dan memandang Dili dengan penuh kekaguman. “Kamu sangat cantik, Dili,” kata Indira dengan lembut.


"Terima kasih, Bu. Saya sangat senang bisa bertemu dengan Anda malam ini," jawab Dili sambil tersenyum.


"Kamu serius kan kali ini dengan Dili, Edgar?" tanya Indira memastikan.


Edgar meraih pinggang Dili dan merapatkan tubuhnya. Tampa sungkan ia mencium pipi Dili di hadapan ibunya secara langsung. Dili sampai melebarkan mata dengan kelakuan Edgar.

__ADS_1


"Tentu saja, Mama. Aku sudah jatuh cinta sejak pertama kali bertemu dengannya," kata Edgar seraya menatap mata Dili.


Indira merasa lega mendengar jawaban itu. Selama ini dia selalu khawatir dengan orientasi seksual putranya. Tapi, melihat putranya begitu bahagia dengan wanita cantik ini membuatnya merasa tenang.


Mereka duduk bersama dan memesan makanan. Selama makan malam, mereka berbicara tentang keseharian Dili. Indira terkesima dengan cerita-cerita Dili dan dia sangat senang bisa mengenal wanita ini lebih dekat.


"Jadi, bagaimana kamu berkenalan dengan Edgar?" tanya Indira dengan penuh minat.


Dili tersenyum, "Kami bertemu di sebuah restoran saat kencan buta. Kami awalnya saling salah paham tentang siapa pasangan kita, tapi akhirnya kami merasa saling cocok."


Indira terkejut, "Oh, benarkah begitu? Bagaimana bisa kamu tahu kalau Edgar adalah pria yang tepat untukmu?"


Dili menjadi kikuk. Ia menoleh ke arah Edgar karena merasa kesulitan menjawab pertanyaan itu. "Em, entahlah ... Saya sendiri kurang paham alasannya. Di mata saya Edgar seorang yang menyenangkan bahkan saat pertemuan pertama. Mungkin karena usianya lebih tua, saya menjadi merasa nyaman karena Edgar selalu bersikap dewasa ketika kami bersama. Kata-katanya juga selalu bijaksana," ucapnya.


Dili sudah bingung mau berkata apa. Perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya bahkan ia tidak tahu berasal dari mana. Namun, ucapannya ternyata mampu membuat Edgar dan ibunua tertegun.


Dili kembali tersipu malu.


"Oh, iya. Tadi kamu bilang kampusmu XXX, ya? Itu juga dulu Edgar pernah belajar di sana," kata Indira.


"Edgar merupakan alumni kebanggaan kampus kami. Saya juga tidak menyangka bisa dipertemukan dengan mahasiswa teladan di jamannya," kata Dili.


"Awalnya aku ragu dengan ucapan putraku. Aku sangat tidak setuju dia menjalin hubungan dengan wanita yang usianya terpaut jauh karena pasti akan banyak perbedaan pola pikir. Tapi, aku rasa kamu cukup dewasa di usiamu yang sekarang," ujar Indira.


Dili hanya tersenyum. Kalau boleh jujur, dia memiliki jiwa dewasa yang terjebak dalam raganya yang lebih muda dua tahun lalu. Segala peristiwa di masa lalu menjadikannya lebih bijak dalam mengambil keputusan. Jauh berbeda dengan dirinya yang dulu yang hanya bisa pasrah.

__ADS_1


Malam itu berjalan dengan sangat menyenangkan. Indira sangat senang bisa mengenal Dili lebih dekat dan melihat putranya bahagia bersama dengan wanita yang sangat istimewa.


"Terima kasih sudah mengajakku keluar malam ini," ucap Dili kepada Edgar.


Usai makan malam selesai, keduanya berjalan-jalan sebentar di luar menikmati udara malam di area taman kota.


"Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah mau menemui ibuku," kilah Edgar.


"Kamu tahu, aku benar-benar senang bisa bertemu dengan ibumu tadi. Dia terlihat sangat bahagia saat melihat kita bersama," ucap Dili sambil menatap ke arah langit.


"Tentu saja dia bahagia setelah bertemu calon menantunya," ujar Edgar.


Dili langsung menoleh ke arah Edgar dengan mata melotot dan bibir manyun.


"Kenapa? Kenyataannya memang seperti itu, kan?" Edgar menahan tawanya ketika melihat ekspresi lucu yang Dili perlihatkan kepadanya.


"Kita hanya pura-pura, ini untuk sementara," kata Dili mengingatkan.


Edgar mengerutkan dahi. "Aku kan sudah bilang aku tidak mau pura-pura. Pokonya selama satu bulan ini kamu memang pacarku," katanya dengan nada memaksa.


Dili merasa kalau debat. "Ah, sudahlah! Terserah kamu saja!" ucapnya.


Edgar tersenyum. Ia menepuk kepala Dili yang kesal karena candaannya. "Aku senang sekali melihatmu bertemu ibuku. Aku tahu ibuku sangat khawatir tentang kehidupan pribadiku. Jadi, kemunculanmu bisa memberikan sedikit kelegaan untuknya," ujar Edgar.


Dili merasa tersentuh dengan ucapan Edgar. "Itu artinya ibumu sangat peduli dan perhatian padamu," katanya.

__ADS_1


Edgar mengangguk. "Aku tahu itu. Tapi, terkadang aku merasa kepeduliannya sangat mengganggu. Padahal aku masih ingin mengurusi bisnis dengan serius. Menikah belum menjadi prioritasku."


__ADS_2