
Dili berlari dengan tergesa-gesa, membawa sebuah kardus berisi berkas-berkas lama dari ruang kerjanya. Saking buru-buru, ia kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya. Saat melihat sebuah ember air dan berusaha menghindarinya, kakinya tersandung dan menyenggol ember air tersebut. Tanpa disengaja, ember itu terbalik dan airnya tumpah ke lantai.
"Aduh!" pekik Dili yang hampir ikut terjatuh bersama kardus yang dibawanya.
Seorang pria yang sedang mengepel di dekatnya langsung mengamuk. "Lihat apa yang kamu lakukan, kamu merusak kerjaanku! Kalau jalan pakai mata!" teriaknya sambil memaki Dili.
"Maaf, Mas. Aku benar-benar tidak sengaja," kata Dili merasa bersalah. Ia lantas memunguti berkas-berkas yang tercecer ke dalam kardus lagi.
"Halah! Enak aja maaf maaf! Dasar karyawan baru jelek!" maki Jono.
Dili berusaha menjelaskan bahwa itu hanya sebuah kecelakaan, tapi pria itu tak mau mendengarkan. Semakin lama, suasana semakin memanas.
Tiba-tiba, muncul seorang pria yang berpakaian rapi dan berwibawa. "Ada apa ini?" tanya pria tersebut sambil menatap Dili dan pria yang sedang marah-marah itu.
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu identitas dan memperkenalkan dirinya. "Saya Adli, manajer keuangan di perusahaan ini. Dan kamu, siapa?"
Mata Yono melebar saat membaca biodata kartu yang disodorkan padanya. Ia tahu lelaki tersebut punya jabatan tinggi di perusahaan.
__ADS_1
"Pak, saya Yono. Saya hanya mencoba mengepel lantai, tapi wanita ini malah menyenggol ember airku!" jawab Yono sambil menunjuk Dili.
Adli menatap Dili dengan penuh perhatian dan kemudian berkata, "Maaf, Yono. Tapi aku melihat gadis ini adalah seorang staf baru di divisi produksi. Mungkin dia masih terbiasa dengan lingkungan kantor ini."
"Sudahlah, Pak Adli. Dia memang karyawan baru yang tidak tahu malu!" sahut Yono dengan nada sinis.
"Kamu benar-benar tidak bisa bersikap sopan, Yono. Ini tempat kerja, bukan tempat mengumbar emosi," tegas Adli pada Yono.
Yono tersentak dan menatap Adli dengan mata yang masih penuh amarah. Namun, ia merasa kalah. Seorang manajer keuangan tentu memiliki kekuatan di perusahaan tersebut.
Adli menatap Yono tajam. "Kamu harus meminta maaf pada Dili juga. Ia tidak sengaja menyenggol embermu."
Yono menoleh ke arah Dili, dan mata mereka bertemu. Dili mengangguk, menunjukkan bahwa ia menerima permintaan maaf itu.
"Sudahlah, jangan dibawa-bawa terus masalah ini. Kita semua di sini untuk bekerja, bukan untuk saling marah-marah," kata Dili mencoba menenangkan situasi.
Adli mengangguk setuju. "Tepat sekali, Dili. Sekarang, kalian berdua kembali bekerja. Yono, jangan sampai emosimu mengganggu pekerjaanmu."
__ADS_1
Yono mengangguk, dan kemudian meninggalkan ruangan sambil membawa ember dan kain pelnya.
Dili menghela nafas lega. "Terima kasih, Pak Adli. Saya tidak tahu harus berbuat apa tadi."
Adli tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih, Dili. Kami di sini untuk saling membantu. Lagipula, kalian baru memulai, pasti banyak hal yang belum kalian ketahui."
"Iya, saya merasa masih banyak yang harus dipelajari. Saya berharap bisa menjadi anak magang yang baik di sini," ucap Dili.
"Pasti bisa, asal kamu mau belajar dan berusaha," kata Adli.
Dili mengangguk. "Saya akan berusaha sebaik-baiknya."
Adli tersenyum lagi. "Baiklah, sekarang kembali ke pekerjaanmu. Kalau ada masalah, jangan ragu untuk menghubungi saya atau Pak Mizan."
Dili mengangguk, dan kemudian keluar dari ruangan itu. Ia merasa lega bahwa situasi sudah tenang, namun di sisi lain ia juga merasa tertekan karena ia masih belum terbiasa dengan lingkungan kerja yang baru.
Ia kemudian menuju ke gudang untuk melanjutkan pekerjaannya. Ia memikirkan kata-kata Adli, bahwa ia harus belajar dan berusaha sebaik-baiknya. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengecewakan ayahnya dan para rekan kerjanya.
__ADS_1