
saat mencuci piring, karena kaca bagian belakang dapur yang menghadap ke hutan gordennya belum ditutup. tiba2 wajah anak yang dilihatnya tadi sore muncul didepan intan, intan terlalu kaget dan berteriak lalu piring ditangannya meluncur kebawah.
*Praaangggg.. suara piring pecah
"aaaahhhhh...." intan berteriak*
anak itu masih berdiri disana sambil memberi kode untuk diam dengan mengangkat telunjuknya ke bibirnya.
"what happen baby?" tanya teguh yang setengah berlari keluar dari ruanga kerjanya karena mendengar suara piring pecah serta suara istrinya yang berteriak.
"itu! " kata intan menunjuk ke kaca tapi yang ditunjuk sudah tidak ada
"what?? its nothing there babe" kata teguh memeluk istrinya
"beneran tadi ada anak kecil yang intan liat tadi sore" kata intan
"ya udah baby mungkin kamu masih capek udah biar itu piringnya besok aja dilanjutinnya, kita istirahat ya" menarik lembut pinggang istrinya masuk kedalam kamar
dikamar intan ditidurkan dengan kepalanya berada dilengan teguh, ditepuk2nya punggung intan. intan masih berfikir apakah itu halusinasinya saja tapi dia melihat anak itu dengan begitu jelas tapi kenapa anak perempuan itu seolah tidak ingin terlihat oleh teguh .
intan sudah tertidur begitupun teguh, pukul 12 malam intan terbangun tenggorokannya terasa sangat kering dan dia bangun untuk mengambil minum didapur. dia berjalan sambil mengantuk keluar dari kamar sambil menguap dan mengucek2 matanya.
__ADS_1
pas mau membuka lemari es untuk mengambil minum dilihatnya anak cahaya senter yang diarahkan ke wajahnya dari hutan bagian belakang, awalnya intan merasa takut2 tapi karena penasaran buru2 dia menghabiskan gelas minumnya kemudian mendekat ke arah kaca dapur yang menghadap ke hutan.
diamatinya asal cahaya senter itu, intan agak takut tapi dia menguatkan hatinya. dan benar saja anak itu keluar dari balik pohon, berjalan menuju ke arah intan yang hanya dihalangi oleh dinding dapur.
anak itu memakai kerudung hitam lusuh yang sudah pudar warnanya, kulitnya hitam dia tersenyum pada intan memperlihatkan gigi2nya yang putih. lingkar hitam dimatanya dan pergelangan tangannya sangat kecil itu nemperlihatkan bahwa anak itu sedang tidak baik2 saja.
dia melambaikan tangannya pada intan sambil tersenyum lebar menperlihatkan senyumnya yang manis, terdapat lesung pipi dikedua sisi pipinya. intan membalas dengan melambaikan tangan,,
"who's your name?" kata intan sambil memberi kode dengan tangan
anak itu kemudian menulis dikaca dengan tanah yang dia ambil dari taman belakang, SAYIDAH itu namanya.
"where are you from?" tanya intan lagi
setelah anak itu masuk dan intan memegang kedua tangannya intan baru merasa lega bahwa anak itu benar2 manusia bukan hantu ataupun halusinasinya saja. tangan anak itu begitu dingin sampai pucat karena terlalu lama diluar ruangan dengan suhu sedingin itu dia hanya memakai baju berbahan katun dengan lengan panjang dan celana panjang yang sepertinya setelan pakaian khas pakistan. warna pakaian yang dipakainya sudah sangat pias tapi masih bisa dikenali itu berwarna hitam dulunya. intan mengambilkan mantel yang digantung didekat pintu masuk lalu memakaikannya, tak lupa mnghidupkan perapian yang ada dirumah mereka. intan mendudukannya disofa ruang tamu dan memberinya teh jahe hangat beserta camilan.
"apa kamu lapar?" tanya intan
anak itu hanya mengangguk,, intan kemudian memberinya sepiring nasi dengan lauk pauk sisa makan malam tadi. anak itu mengambilnya dari tangan intan serta memakannya dengan lahap. begitu banyak pertanyaan dibenak intan tapi ditahannya karena menurutnya memberinya pertolongan dan kenyamanan dulu itu yang paling penting.
makanan dipiring tandas tak bersisa intan menaruh piring itu diwashtafel, lalu kembali menghampiri anak itu di sofa ruang tv.
__ADS_1
"kamu merasa lebih baik sekarang?" tanya intan
"ya.." kata sayidah pelan
"sekarang bolehkah aku mengajukan beberapa pertanyaan padamu?" tanya intan lagi yang dibalas anggukan oleh sayidah
by the way ceritanya mereka ngobrol pakai bahasa inggris ya ..
"berapa umurmu sayidah? dan dimana kamu tinggal?" tanya intan
"umurku 9 tahun dan aku tinggal didalam hutan itu" dia menunjuk ke arah hutan belakang rumah
"lalu dimana orang tuamu? apa kamu punya saudara?" tanya intan lagi
sayidah menunduk sedih lalu terlihat air matanya menetes tapi buru2 diusapnya, lalu dia tegakan kepalanya lagi
"orang tua dan adik2ku berada di Suriah mereka tidak ada yang selamat saat kami bersembunyi di bekas puing2 bangunan, kemudian serangan itu datang dan menewaskan ibu dan adik2ku yang masih sangat kecil. aku dibawa oleh orang2 yang selamat dalam serangan, dan disnilah kami sekarang bertahan hidup sebagai imigran gelap. hikss hiksss... aku sangat rindu ibu aku rindu adik2" sayidah menangis sesenggukan
intan memeluknya dengan erat mencoba memberikan ketenangan lewat pelukannya. sayidahpun memeluk intan seperti seorang anak yang memeluk ibu kandungnya. mungkin karena dia begitu merindukan kelembutan dari seorang ibu, intan yang ingin bertanya lagi mengurungkan niatnya dan hanya memeluknya saja seperti itu. menyimpan rasa penasaran terhadap sayidah.
setelah beberapa saat sayidah mengantuk lalu kemudian tertidur, intan menggendongnya dan menidurkannya di kamar tamu. tak lupa menghidupkan penghangat ruangan agar sayidah tidak kedinginan. intan berencana besok akan mengajak sayidah berbelanja pakaian, karena dia sangat kasian melihat keadaan sayidah yang sepertinya hanya memakai baju yang sama berhari2. tercium dari bau pakaian yang dia pakai serta beberapa bekas kemerahan di beberapa bagian tubuhnya karena infeksi bakteri dari pakaian yang kotor.
__ADS_1
lama dia perhatikan wajah sayidah yang sedang tertidur, keniingnya mengernyit, mungkin dia sedang bermimpi fikir intan. diusapnya puncak kepala sayidah dan dielusnya bagian tengah antara alisnya untuk menghilangkan kerenyit itu. sayidahpun tersenyum dalam tidurnya dan menggumamkan kata ibu, sayidah mungkin bermimpi tentang ibunya. intan terenyuh dia merasa sangat iba pada sayidah yang masih kecil tapi sudah harus hidup terpisah dari orang tua dan tidak mempunyai tempat tinggal yang jelas. seperti yang dia ketahui bahwa kehidupan sebagai imigran gelap sangat beresiko, sehingga mereka pasti hidup nomaden dan berjuang mati2an untuk hanya sekedar mendapat sumber pangan yang cukup bagi grup2 ataupun kelompok2 penampungan. beruntung jika negara yang menjadi tempat pelarian mereka memberikan suaka bagi kelompok imigran korban perang seperti mereka, jika tidak maka mereka pasti akan segera dideportasi dan dikembalikan ke negara asal. negara yang sudah tidak bisa memberikan keamanan dan kebebasan bagi mereka, negara yang sudah seperti negara mati dengan puing2 bangunan yang sudah hancur lebur.
intan menyelimuti sayidah sampai ke batas leher, kemudian meninggalkannya untuk berisitirahat kembali kekamarnya. ditutupnya pintu kamar tamu itu dilihatnya sekali lagi sayidah lalu menutup pintunya. intan melangkah menuju kamarnya, dimana teguh masih terlelap diciumnya suaminya itu dengan rasa penuh syukur terhadap suami yang dia miliki saat ini begitu penyayang dan peduli terhadapnya.